Jumat, 4 Mei 2018 14:10

DPKP Cimahi ke Pengembang Pembangunan di Kampung Adat Cireundeu: Metodenya tidak Aman dan Main Bongkar

Reporter : Fery Bangkit 
Area proyek perumahan di Kampung Adat Cireundeu.
Area proyek perumahan di Kampung Adat Cireundeu. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Kepala Dinas perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Muhammad Nur Kuswandana menyebutkan, pihak pengembang perumahan 'Griya Asri Cireundeu' 'sembarangan' dalam memulai pembangunan.

Menurutnya, pihak pengembang perumahan yang terletak di Gunung gajah Langu, Kp. Adat Cireundeu, Kel. Leuwigajah, Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi itu tidak memikirkan dampak bencananya.

Baca Juga : Waduh, Pengembang Pasang Portal di Proyek Perumahan di Kampung Adat Cireundeu

"Mereka membuka lahan tidak mengikuti metode pekerjaan aman. Mereka main bongkar aja," kata Nur saat ditemui di Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Jum'at (4/5/2018).

Seperti diketahui, pihak pengembang perumahan telah memulai aktifitas pembangunan dengan menggunduli lahan seluas 6,3 hektare, meski belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Baca Juga : Keresahan Warga Kampung Adat Cireunde Melihat Penggundulan Gunung Gajah Langu

Hal itu jelas melanggar regulasi yang ada. Imbasnya, kini aktifitas pembangunan dihentikan untuk sementara waktu hingga proses IMB dikeluarkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cimahi.

Dijelaskan Nur, jauh sebelum melaksanakan aktifitas pembongkaran lahan, seharusnya pengembang membuat metode teknis pekerjaan yang aman.

Baca Juga : Kata Warga Cireundeu Soal Pembangunan Perumahan di Gunung Gajah Langu: Seperti Kiamat Kecil dan Memori Longsor Sampah

Apalagi, lokasi lahan proyek berada dikemiringan sekitar 60 derajat. Tepat dibawah lokasi tersebut, ada ratusan pemukiman warga Kampung Adat Cireundeu yang terancam dampak dari pembangunan tersebut.

"Dari kemiringannya, harusnya dibuatkan dinding penahan tanah. Membuat drainase, setelah itu baru meratakan tanah," jelasnya.

Baca Juga : Budayawan Cimahi Menangis Melihat Penggundulan Kampung Adat Cireundeu

Menurutnya, tidak tepatnya metode yang dilakukan pengembang itu berpotensi menimbulkan bencana alam, seperti longsor dan banjir. Apalagi, saat ini lahan sudah digunduli tidak terdapat dinding penahan tanah dan saluran drainase.

Untuk itu, dalam waktu dekat ini akan memanggil pihak pengembang. Selanjutnya, pengembang akan diintruksikan untuk membuat dinding penahan tanah dan saluran drainase.

Baca Juga : Klaim Sesepuh Hingga Minta Ganti Nama Proyek Perumahan di Kampung Adat Cireundeu

"Kalau dibiarkan begini malah berisiko longsor dan banjir. Harus dimanakan supaya tidak tejadi longsor," tandasnya.

Sementara itu, Neni (48), salah satu warga Kampung Adat Cireundeu mengaku khawatir setelah lahan di atas pemukiman warga itu digempur oleh pengembang untuk dijadikan perumahan.

Apalagi, warga Kampung Adat Cireundeu masih terngiang memori saat bencana longsor TPA Leuwigajah beberapa tahun lalu, yang menghilangkan banyak nyawa warga.

"Iya takut sekarang. Kalau hujan terus susah tidur karena takut longsor," katanya.

Bagi Neni, digempurnya Gunung Gajah Langu itu seperti 'kiamat kecil'. Untuk itu, ia sangat kecewa atas alih fungsi lahan tersebut.

"Iya ini semacam pertanda kiamat kecil," ucapnya.

Baca Lainnya