Jumat, 27 April 2018 20:03

DLH Jabar Bicara Kelaikan Ikan dan Air dari Sungai Citarum

Reporter : Fery Bangkit 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Barat, Anang Sudarna memasangkan pelampung kepada petugas yang akan membersihkan sampah di DAS Citarum yang berada di sektor IX di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat .
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Barat, Anang Sudarna memasangkan pelampung kepada petugas yang akan membersihkan sampah di DAS Citarum yang berada di sektor IX di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat . [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Barat Barat menilai, ikan dan air dari aliran Sungai citarum tidak laik untuk dikonsumsi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Barat Barat Anang Sudarna mengatakan, aliran Sungai Citarum sudah sangat dicemari oleh limbah pabrik maupun limbah domestik.

Baca Juga : Data Pabrik Pencemar Citarum Simpang Siur

"Maaf jika harus saya katakan, bahwa ikan di perairan Citarum dan airnya sudah tidak layak konsumsi karena mngandung limbah B3, mercuri, dan logam berat," sebut Anang saat hadir dalam kegiatan bebersih aliran sungai dari sampah dan gulma bersama PT Indonesia Power Saguling dan TNI di sektor IX di Kecamatan Batujajar, KBB, Jum'at (27/4/2018).

Selain ikan, pihaknya juga menemukan beras yang dihasilkan di daerah cekungan Bandung yang airnya dari Citarum mengandung logam B3. Itu menandakan jika air dari Citarum tidak layak untuk digunakan sebagai pertanian.

Baca Juga : WALHI Jabar : Jumlah Pabrik Pencemar Citarum Masih Kecil

Sebab saat ini kualitas air Citarum masuk kategori kelas 4 atau paling buruk. Padahal, kini ada sekitar 420.000 sawah yang diairi dari DAS Citarum.

"Sebanyak 6,5 juta ton padi dihasilkan dari air yang diproduksi dari Citarum. Memang kalau kita mengonsumasi tidak langsung mati, tapi dampak jangka panjangnya akan buruk bagi tubuh," jelas Anang.

Baca Juga : Empat Perusahaan Tekstile Ditutup Polda Jabar

Untuk penanganan pencemaran limbah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, lanjut Anang, tidak bisa hanya dilakukan dengan seremonial dan cara-cara biasa mengingat pencemaran yang terjadi sudah sangat parah. Namun harus dengan merevolusinya.

Anang menerangkan, sejak 1992 air Citarum sudah berbahaya karena baik limbah industri atau rumah tangga semua dibuang ke Citarum. Setelah puluhan tahun kini dampaknya membuat ikan dan kualitas air Citarum sudah sangat tidak layak konsumsi.

Baca Juga : Soal Dugaan Pencemaran Sungai Citarum, DLH KBB Tunggu Hasil Sampel 8 Perusahaan

Dia menilai, upaya penyelamatan Citarum sudah dilakukan melalui Gerakan Citarum Bergetar 2001 dan Citarum Bastari 2014. Itu dilakukam agar Citarum kembali seperti tahun 70 atau 80'an yang bersih. Sebab kalau semua diam maka ke depan Indonesia akan kehilangan listrik, air, dan sumber daya alam lainnya sehingga pasti ketahanan pangan nasional akan terganggu.

"Cara yang mudah untuk menangani sampah, ialah paling utama dengan memilah sampah, sehingga itu setidaknya dapat mengurangi setengah persoalan. Berdasarkan data 57% sampah itu kan dari organik dan 43% non organik," beber Anang.

Baca Juga : Prihatin Kondisi Citarum, Jurnalis Bentuk Komunitas Peduli Citarum

Sementara itu Aster Kasdam III Siliwangi, Kolonel Adri mengungkapkan DAS Citarum di sektor IX masih belum ada personelnya namun sudah dapat menggerakkan rekan penggiat lingkungan untuk membersihkan sampah Citarum.

"Ada sebanyak 300 orang siap bersihkan sampah di DAS Citarum mulai Jumat (27/4/2018) sampai Minggu (29/4/2018)," ucapnya.

Menurut Adri, sampah yang berada di DAS Citarum saat ini sudah meningkat dengan mayoritas eceng gondok, stereofoam, plastik, dan botol plastik, serta terbanyak gulma dan eceng. Limbah pabrik juga masih ada yang dibuang ke sungai sehingga membuat Citarum masih terkontaminasi. Bahkan beberapa hari lalu ada anggota yang kedapatan melihat limbah pabrik dibuang langsung ke sungai tanpa diolah dulu.

"Masih banyak industri yang sengaja membuang limbah ke sungai. Untuk itu kami bekerjasama dengan Polda dan dlh untuk memerangi ini dan memberikan tindakan tegas kepada perusahaan yang masih melanggar," pungkasnya.

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer