Selasa, 6 Februari 2018 15:21

Ditutupnya PT Gede Indah Cimahi Bukti Buruknya Pengelolaan Limbah di Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Limawaktu.id,- Ditutupnya pabrik PT Gede Indah di Jalan Citose, Leuwigajah, Kota cimahi oleh Polda Jabar seolah membuka tabir betapa buruknya pengelolaan limbah pabrik di Cimahi.

Pabrik yang bergerak dalam komoditas tekstil celup itu ditutup bersamaan dengan tiga pabrik lainnya. Yakni PT Sinar Sukses Mandiri di Purwakarta, PT Idola Selaras Abadi, Kabupaten Bandung serta PT Surya Tekstil di Kabupaten Karawang.

Baca Juga : Meminimalisir Pencemaran Limbah Industri, DLH Kab. Bandung Gelar Penegakan Hukum Lingkungan

Keempat pabrik itu ditutup lantaran diduga mencemari Sungai Citarum dan tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Khusus pengawasan pabrik di Kota Cimahi, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Ade Ruhiyat mengklaim, selama ini pihaknya rutin melakukan pengawasan terhadap semua pabrik yang ada di Kota Cimahi.

Ade mengakui, bahwa PT Gede Indah merupakan salah satu pabrik yang telah menerima sanksi administrasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi.

"Saat DLH mengadakan pengawasan ke PT Gede Indah, memang ada pelanggaran atau ketidaktaatan dan kita sudah memberikan sanksi administrasi," bebernya saat ditemui di Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Selasa (6/2/2018).

Permasalahan limbah pabrik sendiri di Kota Cimahi merupakan permasalahan klasik. Buruknya pengelolaan limbah pabrik berdampak jelas terhadap rusaknya lingkungan.

Diakui Ade, pihaknya selama ini kesulitan untuk membuktikan adanya pabrik yang pengeolaan limbahnya tidak sesuai ketentuan. Khususnya pabrik-pabrik yang membuang limbah ke sungai tanpa melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

"DLH kesulitan membuktikan adanya perusahaan yang membuang limbah langsung ke sungai," ujarnya.

Meski begitu, Ade memgakui dari sekitar 500 lebih pabrik di Cimahi, masih banyak yang melanggar aturan.

"Klasifikasi pelanggrannya berbeda-beda, bukan limbah saja. Ada yang tidak punya TPSP3, ada yang tidak punya dokumen lingkungan," tandasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cimahi, Muhamad Yani, menyayangkan tindakan dari pihak perusahaan yang tak mengindahkan aturan daerah mengenai pengelolaan limbah terpadu.

Saat ini pihaknya masih menunggu perkembangan dari penyidikan yang dilakukan oleh Ditreskrimsus Polda Jabar, terkait pelanggaran yang dilakukan industri yang telah disebutkan.

"Tentunya sangat disayangkan, karena mereka tidak mematuhi aturan pemerintah daerah mengenai pelestarian lingkungan. Sekarang masih proses, kan ada ruang banding dan sebagainya, jadi kita tunggu saja," kata Yani.

Yani mengingatkan agar semua pelaku industri yang ada di Cimahi, tidak hanya berorientasi pada profit, namun harus turut memikirkan kondisi lingkungan sekitarnya. Diakui oleh Yani, kondisi di wilayah Cimahi bagian Selatan, menjadi yang paling terdampak oleh aktivitas industri.

Yani juga menegaskan pemerintah daerah akan lebih tegas mengawasi aktivitas industri, terutama terkait pengolahan limbah terpadu. Pihaknya tidak mau kecolongan dengan temuan industri lainnya yang mencemari lingkungan.

"Karena sentra industrinya ada di Cimahi Selatan, seperti Melong, Utama, dan kawasan industri lainnya, memang diakui lingkungannya sangat tidak baik. Untuk pengawasan menjadi tugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Intinya pemerintah akan lebih tegas," terangnya.

Baca Lainnya