Senin, 14 Mei 2018 18:45

Cek Ulang Pabrik Nakal, Satgas Sektor 21 Citarum Harum Temukan Hal Sama

Reporter : Fery Bangkit 
Sungai yang tercemar oleh pembuangan limbah secara langsung oleh pabrik di Kota Cimahi.
Sungai yang tercemar oleh pembuangan limbah secara langsung oleh pabrik di Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Satgas Sektor 21 Citarum Harum melakukan pengecekan ulang sejumlah pabrik di Kota Cimahi pada Senin (14/5/2018). Hasilnya, pabrik-pabrik itu kedapatan masih membuang limbah langsung ke aliran sungai.

Pabrik-pabrik yang dicek ulang di antaranya PT Matahari 1, PT Matahari 2, PT Mewah Niaga Jaya yang berada di Jalan Joyodikromo, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Baca Juga : Terulang, Dua Pabrik di Cimahi ini Kembali Buang Limbah Langsung ke Sungai

Kemudian PT Ayoetex Jalan Maharmartanegara, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi serta PT Aswindo di Jalan Mahar Martanegara, Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Komandan Sektor (Dansektor) 21, Citarum Harum, Yusep Sudrajat mengungkapkan kondisi pencemaran lingkungan atau sungai di Cimahi oleh limbah pabrik tergolong parah. Berdasarkan temuan, sebanyak 16-17 pabrik di Kota Cimahi membuang limbah ke anak sungai Citarum dengan kualitas limbah yang kotor.

Baca Juga : Praktik Limbah Langsung ke Sungai Berlangsung Lama, Dimanakah Peran DLH Kota Cimahi?

"Cimahi sangat parah, hampir semua seperti itu (buang limbah ke sungai) dari ratusan pabrik. Wali Kota pun enggak mau ngangkat telepon saya (tiap hari dilaporkan pabrik buang limbah)," ujarnya, Senin (14/5/2018).

Ia menuturkan, belasan pabrik tersebut memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) namun tidak dikelola dengan baik sehingga limbah yang dihasilkan masih kotor.

Baca Juga : Banyak Pabrik di Cimahi Buang Limbah Langsung ke Sungai, Ajay akan Kumpulkan Pengusahanya

"Sektor saya (21) lebih dari 20 pabrik yang membuang limbah langsung ke sungai. 16 hingga 17 pabrik berada di Cimahi, sisanya di Kabupaten Bandung. Sebetulnya mereka punya IPAL tapi tidak dikelola dengan baik. Sehingga keluarnya kotor," ungkapnya.

Menurut Yusep, seharusnya perusahaan mengelola limbah menggunakan IPAL dengan baik. Namun, faktanya mereka lebih memilih memangkas pengeluaran pengelolaan limbah dan memperbanyak keuntungan.

Baca Juga : Dilematis Wali Kota Cimahi Gara-gara Pabrik Nakal

"Di Cimahi belum ada IPAL komunal, rencananya mau ada nanti akan dirapatkan dengan Wali Kota Cimahi," ungkapnya.

Dia mengatakan, pabrik yang membuang limbah ke sungai bisa ditutup ketika sudah ada putusan inkrah dari pengadilan. Selain itu, katanya yang menjadi hambatan dalam proses penegakan hukum terhadap pabrik yang melanggar adalah hasil uji sample limbah yang diambil Dinas Lingkungan Hidup lama keluar.

Baca Juga : Bahas Limbah, Ajay akan Kumpulkan Semua Pengusaha 15 Mei Mendatang

Dansektor pun menambahkan, proses penindakan yang berjenjang seperti pengawasan, pembinaan hingga masuk pengadilan menjadi kesulitan tersendiri. Sebab hal itu memperlama penindakan terhadap pabrik yang melanggar.

"Di LH itu ada tingkatannya pengawasan, pembinaan dan masuk pengadilan. Itu yang membuat kesulitan dan suka gregetan padahal ini darurat. Perlu ada pemangkasan birokrasi dan regulasi," katanya.

Ia menuturkan, hingga saat ini pabrik-pabrik yang sudah didatangi masih beroperasi dan membuang limbah ke sungai. Namun, pihaknya mengaku tidak mau menyerah dan akan terus menindak pabrik tersebut.

"Tetap beroperasi (pabrik yang buang limbah), gitu gitu terus. Tapi saya tidak mau menyerah dan tidak mau kalah. Wewenang saya, tidak bisa menjangkau penindakan hukum," pungkasnya.

Baca Lainnya