Senin, 29 Januari 2018 21:40

Catat, ini Waktu Gerhana Bulan Total 2018 Hingga Prediksi Cuacanya

Reporter : Fery Bangkit 
Fenomena Blood Moon.
Fenomena Blood Moon. [Pixabay]

Limawaktu.id - Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) akan terjadi pada 31 Januari 2018 mendatang. Fenomena itu akan bisa disaksikan jutaan mata manusia di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sabang sampai merauke.

Lebih uniknya lagi, gerhana bulan tahun ini akan terjadi bersamaan dengan fenomena supermoon dan bluemoon.

Gerhana bulan ialah bayangan bumi menghalangi cahaya matahari yang menyinari bulan. Dimana posisi matahari, bumi, dan bulan berbaris sejajar di bidang tata surya. Menariknya, bulan akan berubah warna menjadi merah pada puncak gerhana total nanti.

Peneliti Observatorium Bosscha, Lembang, Mohamad Irfan menjelaskan, gerhana bulan total akan diawali dengan gerhana parsial yang dimulai pada pukul 18.48 WIB, lalu berlanjut ke gerhana total dan berakhir pada pukul 22.11 WIB. Total fase gerhana bulan total akan berlangsung selama 1 jam 16 menit.

"Posisi bulan pada saat GBT 31 Januari 2018 akan bertepatan pada momen ia mencapai titik perigee, atau jarak terdekat dengan bumi sehingga akan membuat bulan tampak lebih besar (supermoon) dan terang," ungkap Irfan di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (29/1).

Walaupun seluruh daerah di Indonesia bisa mengamati puncak gerhana bulan, kata Ifran, tapi hanya sebagian daerah wilayah saja yang bisa menyaksikan proses GBT mulai dari masuknya bulan ke bayangan penumbra bumi, puncak gerhana, hingga bulan keluar dari bayangan penumbra bumi.

"Wilayah timur Indonesia, seperti pulau Papua, Kalimantan, Sulawesi, Bali hingga Jawa Timur bisa menikmati urutan dari mulai proses gerhana sampai gerhana itu berakhir. Sedangkan masyarakat di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera hanya bisa melihat saat bulan sudah di posisi gerhana," kata Irfan.

Menurut dia, gerhana bulan bukanlah peristiwa yang langka dan tidak sampai menimbulkan bencana sehingga tidak perlu ditakutkan.

Bahkan peristiwa ini sangat aman ditonton dan bisa membuat takjub bagi yang mengamatinya. Yang akan terjadi, lanjut dia, hanyalah naiknya gelombang air laut sehingga para nelayan diingatkan agar berhati-hati saat melaut.

"Fenomena benda langit ini dapat lebih jelas diamati dengan peralatan seperti teleskop. Tapi bagi yang tidak punya alat pengamatan, masyarakat tetap bisa melihatnya dengan mata telanjang," bebernya.

Kendati tidak serepot mengamati gerhana matahari yang butuh kacamata khusus gerhana, pengamatan GBT juga bisa menemui kendala, khususnya cuaca, sebab saat ini wilayah Indonesia sedang musim hujan. "Mudah-mudahan, nanti cuacanya bagus sehingga bisa mendukung untuk pengamatan," ucapnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca saat gerhana bulan nanti akan berawan hingga hujan ringan.

"Ada kemungkinan masyarakat masih bisa melihat gerhana bulan, lantaran saat cuaca berawan, awan tidak menutup merata seluruh di bagian langit," terang Kepala BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya.

Jika melihat tren cuaca beberapa hari terakhir ini, dia mengaku, wilayah Jawa Barat lebih dominan berawan pada petang hingga malam hari. Akan tetapi, berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG yang berlaku untuk hari Rabu, 31 Januari 2018 mulai pukul 07.00 sampai Kamis, 1 Februari 2018, umumnya di wilayah Jawa Barat akan mengalami hujan ringan.

"Untuk di wilayah Bandung, seperti Lembang, Soreang, Cimahi, Kota Bandung, bahkan hingga Garut, Cianjur dan Karawang akan terjadi hujan ringan pada malam tanggal 31 Januari 2018. Tetapi, ada kemungkinan pula gerhana bulan bisa terlihat di celah-celah awan, hujan juga tidak turun merata di semua daerah, "tuturnya.