Minggu, 13 Mei 2018 16:09

Bom Bunuh Diri Gereja di Surabaya, Polri Kebobolan

Reporter : Jumadi Kusuma
Salah Satu Gereja yang di Bomb di Surabaya.
Salah Satu Gereja yang di Bomb di Surabaya. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Indonesia Police Watch (IPW) sangat prihatin dengan peristiwa terorisme yang terjadi berturut turut selama seminggu terakhir di Indonesia. Apalagi sasarannya bukan hanya aparatur keamanan tapi juga masyarakat yang sedang beribadah, demikian siaran pers yang diterima limawaktu.id, Minggu (13/5/18).

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menyatakan rentetan terorisme yang beruntun ini seolah membuat aparatur kepolisian tidak berdaya menghadapi serangan teroris.

"Dalam kasus Teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya misalnya, kalangan intelijen sebenarnya sudah mencium adanya pergerakan dan pergeseran sekitar 57 orang yang dicurigai sebagai teroris. Mereka bergeser dari daerahnya masing masing menuju Jakarta. Mereka berasal dari Pekanbaru, Tegal, Karawang, Indramayu, Cirebon, dan Tasikmalaya. Pergeseran ini berhasil dipantau intelijen tapi Kelompok Suki dari Cirebon belakangan berhasil menghilang dari "radar" intelijen", tutur Pane.

Menurutnya tidak jelas apakah Kelompok Suki yang melakukan teror di Surabaya atau tidak. Yang pasti kepolisian sudah melakukan pagar betis untuk mengantisipasi Aksi kelompok teror ini. 

"Sayangnya pagar betis kepolisian ini kebobolan. Para teroris melakukan serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Sejumlah orang jadi korban. IPW sangat prihatin dengan peristiwa ini dan berharap Polri segera memburu otak jaringan teroris ini dan menggulungnya dengan tuntas", tandasnya.

IPW berharap jajaran kepolisian di daerah maupun kalangan intelijen kepolisian meningkatkan kepekaannya. Deteksi dini dan antisipasi dini perlu dilakukan terus menerus. 

"Kasus serangan tiga bom bunuh diri di Surabaya tak terlepas dari kelengahan jajaran Polda Jatim. Soalnya, pasca kerusuhan di Rutan Brimob kalangan intelijen sudah melihat adanya pergerakan jaringan teroris," kata Pane.

Pergerakan itu makin masif pada Jumat siang hingga malam hari dimana kalangan intelijen menyebutkan adanya 57 anggota teroris dari enam daerah bergeser, terutama ke ibukota Jakarta. Beberapa di antaranya berhasil diciduk di wilayah Polda Metro Jaya. Sayangnya Polda Jatim kebobolan dan para teroris beraksi di tiga gereja. Menyerang masyarakat yang sedang beribadah.

Kasus serangan bom bunuh diri di Surabaya inipun menambah panjang daftar peristiwa teror di negeri ini yang otomatis membuat masyarakat makin cemas, apalagi sebentar lagi masyarakat akan memasuki bulan Ramdhan. 

"Untuk itu Polri harus segera menangkap dan mengungkap otak pelaku serangan teror ini agar masyarakat bisa tenang saat melaksanakan ibadah Ramadhan," pungkasnya.

Baca Lainnya