Senin, 10 September 2018 16:23

Bandung Barat Mulai Terancam Krisis Air Hingga Lahan Pertanian Mengering

Reporter : Fery Bangkit 
Lahan Sawah di Wilayah Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.
Lahan Sawah di Wilayah Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. [Fery Bangkit / Limawaktu]

Limawaktu.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat sedikitnya 1.275 hektare lahan pertanian mengering. Kekeringan lahan diakibatkan musim kemarau yang hingga saat ini belum berakhir.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD KBB, Dicky Maulana menerangkan, kekeringan lahan pertanian terjadi di 36 Desa empat kecamatan yakni Cipeundeuy, Parongpong, Cipongkor dan Cipatat.

"Kecamatan Cipeundeuy 12 Desa seluas 714 hektare, Parongpong 6 Desa 63 hektare, Cipongkor 14 Desa seluas 396 hektar dan Cipatat 4 Desa dengan luas lahan pertanian 102 hektar," bebernya, Senin (10/9/2018).

Selain lahan kekeringan, BPBD KBB juga mencatat hingga awal bulan September 2018 ini sebanyak 39 dari 165 Desa melaporkan Krisis Air akibat musim kemarau.

Dicky menerangkan, dari data rekapitulasi kebutuhan air bersih dampak kekeringan di KBB, 39 Desa dari enam Kecamatan melaporkan terjadi krisis air. 

"Di Kecamatan Cipeundeuy 1 Desa, Parongpong 13 Desa, Cipongkor 13 Desa, Cikalongwetan 14 Desa, Gununghalu 5 Desa dan Kecamatan Cipatat 1 Desa," ungkapsnya.

Menurutnya, krisis air ini dialami 105.374 jiwa warga KBB. Jika diasumsikan kebutuhan air 20 liter perjiwa, maka kebutuhan air bersih akibat krisis ini mencapai 2.107.480 liter.

"Sesuai fungsi koordinasi, kami telah melakukan rapat koordinasi lintas SKPD untuk merumuskan langkah apa yang harus dilakukan," pungkasnya.

Menurut dia, BPBD hanya memiliki fungsi koordinasi saja, laporan itu diteruskan kepada Dinas Pertanian untuk melakukan langkah penanggulangan.

"Kami hanya koordinasikan kepada dinas terkait karena status saat ini masih siaga bencana, jika status naik menjadi tanggap baru kami turun,"ucapnya.

Baca Lainnya