Senin, 5 Maret 2018 20:06

Analisa Psikolog dan Pengamat Pendidikan Soal Pelajar jadi Mucikari

Reporter : Fery Bangkit 
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Limawaktu.id,- Pengamat pendidikan STKIP Pasundan Cimahi Khaerul Syobar menilai, kasus pelajar menjadi seorang mucikari merupakan degradasi moral generasi muda.

Menurutnya, lemahnya pengawasan dan kurangnya perhatian dari lingkungan terdekat seperti keluarga menjadi salah satu faktor seorang pelajar nekat menjadi seorang penjaja layanan seks.

"Generasi muda hidup dengan gaya hedonisme. Terjadi ketidakseimbangan sehingga berdampak terhadap ketenangan jiwa hati. Selalu diliputi rasa cemas waswas. Dengan kemajuan teknologi juga mereka sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka lebih asyik dengan membuka konten-konten yang malah mengotori alam pikiran," ujar Khaerul saat dihubungi via telpon, Senin (5/3/2018).

Seperti diketahui, sebelumnya Satreskrim Polres Cimahi mengamankan MR (17). Pelajar di salah satu sekolah kejuruan di Bandung Barat itu sudah dua tahun menjadi mucikari atau penjaja gadis dibawah umur untuk hidung belang.

Menurut Khaerul, kurangnya pelajaran tentang pendidikan akhlak dan budi pekerti di lingkungan sekolah juga memiliki andil terjerumusnya seorang pelajar menjadi seorang mucikari. Imbasnya hal tersebut terhadap perkembangan pengetahuan tatakrama prilaku serta tindakan yang keluar dari kesopanan dan tatakrama yang berlaku.

"Anak cenderung berani melawan guru dan orang tua karena tidak diajarkan ilmunya. Itu juga cenderung menjadi penyebab terjadinya anomali perilaku anak anak. Keteladanan yang saat ini hampir memudar. Banyak tayangan televisi maupun media lain yang tidak pantas tapi ditayangkan," tandasnya.

Sementara itu, dimata psikolog Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) Cimahi, dr. Miryam Ariadne Sigarlaki, M.Psi.Psikolog, ada banyak faktor yang menyebabkan MR bisa menjadi seorang mucikari di usianya yang masih sangat belia. Seperti faktor ekonomi, atau bahkan pelaku sempat menjadi korban.

"Sehingga dengan pengalaman itu, jadi tahu seluk beluknya. Atau karena ada kesempatan sehingga ia mencoba dan akhirnya terbiasa dan keenakan, kemudian menjadikan mucikari itu profesinya," ungkap Miryam.

Menurut Miryam, kecenderungan remaja lebih memperdulikan lingkungan karena terjadi sosial conformity atau kecenderungan untuk 'ikut-ikutan' apa yang terjadi di lingkungan. Disitulah keluarga harus hadir memberi keteladanan yang baik dan pola pengasuhan yang membuat akhlak remaja menjadi terarah.

"Masa remaja ini adalah masa storm and stress, masa badai dan masa-masa tekanan karena dimasa ini terjadi krisis peralihan, baik secara fisik dan psikologis ke arah kedewasaan, kematangan. Remaja harus dirangkul dan diedukasi serta harus didengarkan, sehingga tingkah lakunya bisa terkontrol," tegasnya.

Baca Lainnya