Senin, 28 November 2022 17:10

ACF Menyediakan Stan Cek HIV Gratis Bagi Seluruh Peserta

Reporter : Wawan Gunawan
Memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember mendatang, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung,  menggelar active case finding (ACF), Senin 28 November 2022
Memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember mendatang, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung, menggelar active case finding (ACF), Senin 28 November 2022 [Istimewa]

Limawaktu.id,- Memperingati Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember mendatang, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung,  menggelar active case finding (ACF), Senin 28 November 2022. Berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, ACF menyediakan stan cek HIV gratis bagi seluruh peserta yang datang.

Camat Mandalajati, Yana Rusmulyana menyampaikan, sosialisasi HIV/AIDS ini dilakukan karena kasus HIV yang makin bertambah di Kota Bandung.

"Entah di mana permasalahannya. Kalau penyuluhan dan sosialisasi sudah, tapi ternyata kasusnya masih terus naik juga," ungkap Yana.

Melalui kegiatan ini, Yana berharap stigma negatif yang menempel pada para penyintas HIV/AIDS bisa berkurang. Sehingga masyarakat bisa berperan dalam membantu para penyintas tetap punya semangat hidup.

"Kita juga harus turut menyemangati para penyintas karena mereka juga sebenarnya tidak mau menginginkan hal tersebut terjadi," ujarnya.

Sebab jika seseorang sudah terkena penyakit ini, tak ada lagi kata sembuh. Apalagi HIV AIDS memiliki tahapan-tahapannya.

"Bahkan awalnya tidak bergejala. Baru terdeteksi itu setelah bertahun-tahun. Itu pun hilang timbul gejalanya. Setelah parah baru bisa sangat terlihat betapa bahayanya HIV/AIDS," ucapnya.

Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, hanya dua kecamatan yang terpilih untuk mengadakan ACF yakni Mandalajati dan Antapani.

"Di Mandalajati, ada lima puskesmas dan semua sudah memiliki layanan tes HIV. Warga bisa datang untuk tes HIV. Rahasia sangat terjamin baik yang positif maupun negatif," imbuhnya.

Tak hanya itu, Kecamatan Mandalajati juga memiliki inovasi layanan HIV secara daring atau online.

Ketua Warga Peduli AIDS (WPA) Mandalajati, Reny Yustianingsih menjelaskan, inovasi layanan tersebut bernama Galow (Gerakan Layanan Online WPA) Mandalajati.

Dikembangkan pada Oktober 2022 dalam platform Mandalikes, bertujuan sebagai wadah untuk menyampaikan informasi terkait HIV/AIDS dan kegiatan WPA Mandalajati.

"Kita sudah buat inovasi Galow. Semoga jadi banyak warga yang makin peduli dengan mengakses layanan HIV/AIDS serta peduli kepada orang yang hidup dengan HIV/AIDS," harap Reny.

Dengan begitu para penyintas bisa sehat tanpa stigma, sehingga AIDS bisa segera diakhiri.

Sementara itu, Koordinator Pengelola Pemberdayaan Masyarakat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, Dzikri Mohammad Hermadja memaparkan, kasus HIV di Kota Bandung tertinggi  di Jawa Barat.

“Pada Desember 2021 akumulasi kasus mencapai 5.843 kasus. Ini merupakan kumulasi data selama 30 tahun," papar Dzikri.

Jika dirata-ratakan, kasus HIV/AIDS mencapai 300-400 per tahun.  Kasus paling tinggi di Kecamatan Bojongloa Kaler, Coblong, dan Lengkong.

Lalu tiga kecamatan dengan kasus terendah adalah Panyileukan, Gedebage, dan Cinambo.

"Mandalajati ada di ranking 6 dari bawah. Daerah timur angkanya kecil. Sedangkan kawasan barat banyak. Bisa diakibatkan karena tempat pariwisata dan hotel yang kebanyakan di daerah kota," jelasnya.

Ia menuturkan, pencegahan HIV/AIDS bisa menggunakan metode ABCDE. Pertama, Abstinen yakni tidak melakukan hal berisiko, seperti penggunaan napza atau seks bebas.

Kedua, Be Faithful yakni bagi yang sudah menikah diharap setia dengan pasangannya.

"Ketiga Condom. Bagi orang-orang yang sering melakukan aktivitas berisiko, harap menggunakan kondom untuk memutus tali penularan HIV," katanya.

Lalu, Drugs yakni tidak menggunakan napza terutama yang jarum suntik. Kemudian, Education yakni masyarakat diminta untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS.

"ACF ini konsepnya dengan membuka boots untuk tes gratis HIV. Mobile visit juga kami lakukan. Ada yang sebulan atau dua bulan sekali. Setiap lokasi berbeda-beda kondisinya," tuturnya.

Cara yang ditempuh tentu tetap humanis, sifatnya tidak memaksa.

"Ini dilakukan agar mereka mau ikut tes HIV. Kita juga berikan penjelasan apa manfaatnya dari tes ini. Karena memang kasus HIV/AIDS itu seperti ice berg (gunung es), terlihatnya mungkin sekarang 5.000-an. Tapi aslinya bisa lebih banyak daripada itu," imbuhnya. (din)**

 

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer