Rabu, 20 Februari 2019 16:01

27,27% Warga dan 208 RW di Cimahi Masih Buang Hajat Sembarangan

Reporter : Fery Bangkit 
Tempat Buang Air di Wilayah Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Tempat Buang Air di Wilayah Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Jumlah penduduk Kota Cimahi yang sudah mendapat akses sanitasi laik tercatat baru mencapai 72,73 persen, dari total jumlah penduduk yang mencapai 535.685 jiwa.

Artinya, masih ada 27,27 yang belum mendapat akses sanitasi yang laik. Kebanyakan dari mereka membuang hajatnya dari jamban langsung ke sungai, bukan ke septic tank.

Baca Juga : Ada Warga yang BAB Sembarangan, Laporkan ke Lurah Terdekat!

Sementara berdasarkan jumlah wilayah RW yang buang air besar sembarangan, ditahun 2018 masing diangka 208 RW, dari total keseluruhan 312 RW. Artinya, baru 104 wilayah RW yang stop buang hajat sembarangan. 

Jika dipersentasekan, jumlah wilayah RW yang masih buang air sembarangan di Kota Cimahi masih diangka 66,67 persen. Sebesar 33,33 persen sisanya sudah berhenti buang air besar sembarangan.

Angka itu diambil berdasarkan data sanitasi yang terlintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Kota Cimahi yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi.

Wakil Wali Kota Cimahi, Ngatiyana mengatakan, pihaknya terus berupaya agar seluruh penduduk di Kota Cimahi ini bisa mengakses sanitasi yang laik. Tujuannya, agar masyarakat tak membiasakan lagi buang air sembarangan.

"Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, sangat berpengaruh terhadap keadaan sanitasi di Kota Cimahi. Tahun 2018, jumlah penduduk Cimahi yang mengakses sanitasi laik baru 72 persen lebih," beber Ngatiyana saat ditemui usai 'Deklarasi Open Defecation/Stop Buang Air Besar Sembarangan' di Aula Kelurahan Cibeber, Jln. Ibu Ganirah, Kota Cimahi, Rabu (20/2/2019).

Diakuinya, permasalahan di Kota Cimahi untuk akses sanitasi, seperti pembuatan Mandi Cuci Kakus (MCK) adalah terbatasnya lahan. Meski begitu, pihaknya akan berupaya untuk membuat akses sanitas bagi warga. Harapannya, semua warga Kota Cimahi bisa berhenti buang air sembarangan.

"Secara umum di Cimahi kendalanya tak punya lahan. Kita upayakan (tetap) buat MCK," kata Ngatiyana.

Khusus deklarasi stop buang air sembarangan, tahun 2019 ini Kelurahan Cibeber dan Cipageran menjadi percontohan untuk program stop buang air besar sembarangan. Ke depan, akan dilanjutkan untuk kelurahan-kelurahan lainnya di Kota Cimahi.

"Tahun 2020 di Kelurahan Padasuka, 2021 Kelurahan Citeureup dan tahun 2022 Kelurahan Cibabat," terangnya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kota Cimahi, Dikke Suseno menambahkan, wilayah yang masih banyak buang air besar sembarangan tanpa akses sanitasi laik itu ada di wilayah Kelurahan Baros dan Kelurahan Cimahi.

"Kebanyakan gak punya septic tank, jadi dari WC langsung ke sungai. Yang persentase sanitasinya rendah itu Cimahi dan Baros, 54 persen," bebernya.

Baca Lainnya