Rabu, 23 Mei 2018 21:20

10 Tahun Bagi Ustadz Tionghoa ini untuk Berani jadi Pendakwah

Reporter : Fery Bangkit 
Ustadz Ku Wie Han (Muhammad Karim Abdurrahman).
Ustadz Ku Wie Han (Muhammad Karim Abdurrahman). [Limawaktu]

Limawaktu.id - Bagi Ustadz Ku Wie Han, butuh waktu 10 Tahun untuk memberanikan diri tampil sebagai Pendakwah.

Butuh proses panjang bagi pria asli Tionghoa itu untuk meyakinkan diri tampil di depan jemaah untuk mensyiarkan kebaikan.

Jalan hijrahnya dimulai sejak memutuskan menjadi seorang muslim sejak 30 tahun lalu. Saat itu, usianya masih 18 tahun. Sejak menjadi seorang mualaf, namanya pun berganti menjadi Muhammad Karim Abdurrahman.

Baginya, memeluk agama Islam merupakan suatu hidayah yang bisa membawanya ke kehidupan yang lebih tenang. Ketenangan itu ditemukannya setelah bisa membaca dan memahami setiap bacaan kitab suci Al-qur'an.

"Saya mendapat hidayah setelah keluar SMA, setelah ayah saya sakit keras dan masuk rumah sakit Borromeus waktu saya kelas 2 SMA tahun 1988," ujarnya belum lama ini.

Melihat sang ayah terkapar di rumah sakit tidak sadarkan diri selama itu, Ustadz Ku Wie Han mengerti bahwa manusia tidak berdaya saat berhadapan dengan maut. Sejak saat itulah, dirinya bertekad mencari pegangan hidup.

"Mungkin selama ini saya kurang bersyukur karena saat itu belum mengenal Allah," ujar pria berusia 49 tahun ini.

Sebelum memeluk agama Islam, keresahan kerap dirasakannya. Ia hanya berpikir tentang kenikmatan dunia. Di saat tengah mengalami keresahan, sang ayah tercinta meninggal.

Setelah itulah ia mencari solusi dari keresahan yang dirasakannya. Pencarian keagamaan pun dilakukannya. Tak hanya Islam, semua agama lainnya pun dipelajarinya.

"Karena dulu saya sekolah nasrani, saya banyak belajar Al-Kitab seperti perjanjian lama, perjanjian baru dan saya pelajari semuanya," terang dia.

Jalan terbuka mempelajari Islam itu setelah Ustadz Ku Wie Han setelah ia bertemu dengan pamannya yang lebih dulu telah menjadi mualaf, yakni H Muhammad Yamin atau Yong Yun Kyang yang tinggal di Sumedang.

Saat pamannya pulang dari Singapura, ia dibawakan sebuah kitab yang belum pernah ia baca sebelumnya atau kitab terakhir yang ia baca.

"Kitab itu judulnya dalam bahasa mandarin, ternyata al-quran. Waktu itu saya belum tahu itu Qur'an atau Islam kemudian saya pelajari," katanya.

Saat pertama kali membuka Al-Quran untuk dipelajari, ia mengaku membuka juz 30 tepatnya halaman terakhir yang isinya surat-surat pendek. Setelah mencoba membacanya, ia langsung menganggap bahwa Al-qur'an sangatlah luar biasa.

"Di situ dikatakan bagaimana islam memperkenalkan Allah-nya, bahwa Allah itu satu Esa dan dijelaskan Esa itu segala sesuatu hanya bergantung kepadanya. Jadi tidak ada satupun yang tidak bergantung kepada dia (Allah)," jelasnya.

Setelah 10 tahun lebih mempelajari tentang agama Islam, ustadz Ku Wie Han akhirnya mulai menebarkan kebaikan dengan cara menyampaiakan ilmu-ilmu tentang islam yang telah ia pelajari.

Pertama kali ia melakukan ceramah yaitu dihadapan ibu kandungnya sendiri yang agamanya non muslim, ceramah tersebut bertujuan untuk mengajak ibunya menjadi mualaf.

"Kemudian yang kedua adik pertama saya, dan yang terakhir adik paling kecil. Saya ajak menjadi mualaf, jadi semuanya masuk islam," ujarnya.

Mungkin hal itu, kata dia, bisa dibilang jarang, seorang mualaf yang mengislamkan keluarganya sendiri, bahkan adiknya yang pertama saat ini juga telah menjadi ustaz.

Supaya adiknya yang bernama Muhammad Syarif Abdurrahman atau Ku Ki Fung itu ilmu agamanya lebih tinggi, ia kuliahkan di Universitas Islam Bandung (Unisba).

"Keluarga saya diislamkan oleh saya dan itu memang betul-betul, buktinya juga ada adik saya menjadi ustadz dan di Cimahi namanya sudah terkenal," ujarnya.

Kemudian, dia juga berdakwah di hadapan teman-temanya dulu yang masih beragama non muslim untuk mengajak menjadi mualaf dengan cara pendekatan atau dialog.

Setelah berani berdakwah dihadapan keluarga dan temannya sendiri, ia memberanikan diri untuk berdakwah dimuka umum atau di masjid-masjid dihadapan jemaah.

Namun, ia mengaku ketika dirinya berdakwah disejumlah masjid tak jarang ada orang yang kurang percaya dengan ilmunya, bahkan dirinya pernah mengalami penolakan.

"Tapi dalam berdakwah itu yang terpenting berdioalog untuk membuka pikiran seseorang, sehingga ada dampaknya bagi orang itu," katanya.

Hingga saat ini, ia pun sering membina para mualaf agar jalannya tetap istiqomah seperti dirinya dan ia memiliki cara tersendiri.

Ketika memprkenalkan islam kepada mualaf itu, tidak langsung langsung ke hukum-hukum islam karena imannya belum ada, tetapi ia memperkenalkan Allah.

"Kemudian memperkenalkan asal-usul diri kita dan siapa yang menciptakan kita, itu yang terpenting harus diperkenalkan," kata ustad Ku Wie Han.

Namun untuk berdakwah dimuka umum itu, ia mengaku awalnya kerap mengalami kesulitan karena pernah mengalami penolakan tersebut.

Hingga saat ini, ustaz asal Kota Bandung ini, terus menebarkan kebaikan dengan cara berdakwah dan berusaha untuk mengajak orang non muslim khususnya etnis tionghoa untuk menjadi mualaf.

Baca Lainnya