Rabu, 12 Juni 2019 15:32

Wayang Mainan, Seni Budaya Bernilai Tinggi dari Padalarang

Reporter : Fery Bangkit 
Acep Wayang (22) salah seorang pengrajin wayang mainan.
Acep Wayang (22) salah seorang pengrajin wayang mainan. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Di zaman modern seperti ini, masyarakat semakin banyak dihadapkan pada pilihan hiburan dan produk canggih.  

Arus hiburan modern yang cukup santer itu perlahan mengikiskan produk seni budaya lokal. Salah satunya wayang kulit. Padahal, wayang kulit merupakan seni budaya lokal yang bernilai tinggi.

Namun, warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) patut berbangga. Sebab, di Kampung Babakan Garut, Desa Mekarsari, Kecamatan Padalarang, ada satu keluarga yang memproduksi wayang mainan seperti wayang cepot, Dewi Sinta dan lainnya. 

Salah seorang pengrajin wayang mainan, Dede merupakan generasi kedua yang memproduksi tokoh ikon Jawa Barat tersebut. Pekerjaan tersebut kini mulai diwariskan kepada kedua orang anaknya, salah satunya Acep Wayang (22).

Saat ditemui di rumahnya, Rabu (12/6/2019) yang dijadikan rumah produksi menuturkan, ia mengenal wayang mainan sejak duduk di bangku kelas III SD dari ayahnya seorang pengrajin. Hingga saat ini, kurang lebih sudah 40 tahun ia bergelut dibidang wayang mainan.

"Saya biasa nerima wayang Cepot yang masih buligir (belum memakai pakaian) atau mentahnya sekitar 100 atau 200 buah dari pengrajin lainnya. Terus sama bapak dikasih pakaiannya," ujarnya yang tengah memasangkan pakaian kepada wayang Cepot.

Menurutnya, mayoritas pengrajin yang mengirimkan bahan ke rumahnya memproduksi wayang mainan untuk anak-anak. Namun, sesekali ia pun membuat wayang untuk digunakan di panggung seperti yang dibuat di Jelekong, Baleendah jika terdapat pesanan.

"Di Padalarang tidak ada lagi yang buat wayang mainan kaya ini kecuali bapak," ungkapnya. 

Pengrajin yang membuat bahan dasar wayang sendiri di Padalarang merupakan kerabat dan warga sekitar yang ia pernah bimbing dulu. 
Bahan baku pembuatan wayang mainan sendiri, ia mengungkapkan menggunakan kayu albasiah. 

Selain itu, kata dia, membuat wayang dilakukan manual menggunakan pisau ukir dan tidak memakai mesin. Keberadaannya kini relatif langka di wilayah Padalarang dan sekitarnya. Oleh karena itu, ia memburu kayu albasiah ke berbagai tempat yang masih ada dijual.

"Tempat wisata dari seluruh Jawa Barat seperti di Pangandaran, Cirebon belinya disini. Termasuk dari Jakarta termasuk TMII banyak yang datang kesini," terangnya.

Dede mengatakan produk wayang mainan yang banyak dibeli konsumen adalah wayang Cepot. Ikon Jawa Barat tersebut sudah populer di masyarakat. Selain itu, dirinya melakukan kreasi dengan membuat wayang Cepot yang bisa membuka mulut atau mangap.

Untuk harga sendiri, dijual harga Rp 20 ribu perkodi untuk wayang Cepot sedangkan Rp 40 ribu perkodi untuk wayang Dewi Sinta. Jika dijual satuan, harga Cepot Rp 30 ribu per unit.

"Yang lakunya Cepot perbandingannya misal Cepot terjual 50 buah sedangkan wayang lainnya cuma satu," katanya. 

Saat masih memproduksi wayang mainan di Cipatat, Dede mengaku pernah mengirimkan barang tersebut ke Belanda lewat jaringan di Jakarta. Menurutnya, penjualan tersebut dilakukan sejak 1995 hingga 2000.

Saat ini, dirinya mengungkapkan dua orang anaknya ikut terlibat dalam usaha yang dijalankannya. Ia mengaku terus berinovasi dan berkreativitas agar wayang mainan yang dibuatnya diminati oleh masyarakat.

Baca Lainnya