Minggu, 5 Agustus 2018 0:14

Tentang Reggae Rasa Sunda di Bandung Barat

Reporter : Fery Bangkit 
Grup Musik Lokal 'Mustika Sajajar Alam'.
Grup Musik Lokal 'Mustika Sajajar Alam'. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Kampung Karamat merupakan salah satu daerah yang terletak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Namun, bukan soal kampungnya yng akan dikupas penulis kali ini. Melainkan potensi seni musik yang ada di kampung tersebut.

Potensi itu tergambar dari sekumpulan warga lokal yang dinamakan komunitas 'Gudang'. Seni musik yang mereka mainkan bukan biasa saja. Melainkan perpaduan antara musik lokal dengan musik Reggae.

Komunitas yang menamakan mencoba memadukan musik reggae dengan alat musik yang berasal dari Sunda. Lirik demi lirik lagu berjudul 'don't worry' yang dibawakan Steven Coconut, dipadukan dengan alat musik karinding, kecrek, celempung goong, celempung renteng, dan suling oleh grup musik lokal 'Mustika Sajajar Alam'.

Vokalis Mustika Sajajar Alam, Nina Karlina Rosiana Tendean mengatakan, kombinasi aliran reggae dengan alat musik Sunda tujuannya untuk melestarikan kebudayaan tradisional di saat generasi muda saat ini yang meminati karinding mulai berkurang.

"Belum lama main lagu reggae, awalnya hanya coba-coba memasukan genre lain ke karinding, ternyata lagunya cukup lumayan. Namun, kami bukan bermaksud mengubah identitas asli karinding, kami cuma ingin menunjukkan bahwa karinding itu kaya dan bisa dipadukan dengan genre lain," katanya, Sabtu (4/8/2018).

Selain lagu-lagu reggae, lagu Sunda juga kerap dimainkan grup yang terbentuk pada tahun 2011 itu. Dia mengaku, sejak alat musik karinding mulai dimainkan lagi masyarakat sekitar 10 tahun lalu, saat itu ada sekitar 200 grup karinding di Lembang. Tapi karena wadah atau sarana untuk pentas tidak ada, satu persatu grup akhirnya membubarkan diri dan yang masih eksis hanya tinggal beberapa grup saja.

"Banyak grup karinding yang latihan terus, tapi enggak pernah tampil. Tapi kami bersyukur masih bisa tampil sebulan sekali di salah satu tempat wisata di sekitar Lembang," ucapnya.

Masih di tempat yang sama, seorang pengrajin karinding, Gugun Zulkarnaen mengungkapkan, pada jaman dahulu, alat musik karinding dibuat dari pohon kawung dan memiliki fungsi sebagai alat pengusir hama di Kampung Cineam, Tasikmalaya. Tapi kini lebih sering menggunakan bambu karena lebih lebih gampang mendapat tumbuhan itu.

"Biasanya untuk bikin satu karinding, dari mulai pemotongan bambu sampai jadi karinding, perlu waktu membuat selama empat jam. Sudah hampir 10 tahun, saya buat alat musik tradisional ini," kata Gugun.

Dia mengungkapkan, cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan cara menempelkan bagian tengah karinding ke mulut. Bagian ujung dipukul dengan jari maka bagian jarum atau ekor kucing akan bergetar, ketika dirapatkan ke rongga mulut, karinding akan menghasilkan bunyi yang khas. Diakuinya, alat musik karinding lebih enak didengar jika dipadukan dengan berbagai alat musik yang lain seperti angklung, kecapi dan yang lainya.

"Di sini, saya biasa mengumpulkan dan mewadahi grup-grup karinding untuk berlatih memainkan alat musik tradisional Sunda," bebernya.

Selain membuat karinding, Gugun sekaligus langsung memasarkannya ke sekolah-sekolah atau komunitas dengan harga antara Rp 25.000 sampai Rp 100.000. Dia mengatakan, pesanan karinding terus menurun karena semakin banyak yang membuat kerajinan bambu itu, ditambah pula dengan peminat yang bermain karinding semakin berkurang.

"Kalau untuk peminatnya, saya rasa pada tahun ini sudah mulai menurun. Sekarang beda dengan tiga tahun lalu, sewaktu karinding sedang booming. Dulu banyak peminat karinding, dari wisatawan sampai anak SD. Walaupun popularitasnya mulai turun, saya ingin terus membuat karinding," tambahnya.

Baca Lainnya