Senin, 12 Maret 2018 12:53

Proses Kreatif Engkus Karinding, Hingga Kolaborasi Bareng Dewa Budjana dan Trie Utami

Reporter : Bubun Munawar
Mang Engkus Karinding.
Mang Engkus Karinding. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Pencarian untuk menemukan sesuatu terkadang harus dilakukan dengan proses yang cukup Panjang dan melelahkan, namun jika dijalani dengan tekun dan serius akan membuahkan hasil yang diinginkan.

Begitulah yang dilakukan oleh Engkus Karinding, salah seorang warga Kebonkalapa Kelurahan Setiamanah Kota Cimahi dalam menemukan dalam proses berkesenian dan kebudayaan yang dilakukannya sejak 2007.

“Saya langsung menemui tokoh Karinding setelah menyaksikan sebuah pagelaran kesenian sunda saat itu, sampai kawan-kawan mengenalkan saya kepada Bah Ilot di Parakan Muncang Sumedang waktu itu,” kata pria bernama lengkap Engkus Kusnadi, yang lebih akrab dipanggil Mang Engkus ini.

Seiring dengan perjalanan waktu, Engkus mulai berlatih Karinding secara otodidak yang dilakoninya hingga saat ini, hingga bermain Karinding diberbagai panggung dan tempat.

“Musik Karinding bagi saya sangat menyentuh kedalam hati dan jiwa, sehingga alat musik yang terbuat dari bambu ini menjadi istri kedua saya kemanapun bepergian,” kata Engkus beralasan.

Perjalanannya bermain Karinding, menjadikan Engkus bertemu dengan para penyanyi dan musisi yang sudah menjadi legenda musik Indonesia, sebut saja penyanyi Trie Utami atau Gitaris Dewa Budjana, yang mengajaknya tampil dalam satu panggung di even Nyanyian Pertiwi di Candi Prambanan Jogyakarta pada 2012 silam.

“Saat itu kami bertujuh tampil dalam satu panggung bersama dengan Trie Utami dan Dewa Budjana mengangkat seni sunda dalam Rajah Mantra. Kami saat itu menamakan diri Komunitas Sunda Wiwitan Rajah Mantra,” ungkapnya.

Kedepan, Engkus berharap melakukan regenerasi kepada kaum muda untuk mencintai atau melestarikan warisan budaya ini.

“Kami ingin melakukan regenerasi kepada kaum muda, supaya mereka tahu darimana berasal, sekaligus melestarikan seni Karinding khususnya, umumnya Seni Budaya Tradisional Sunda,” pungkasnya, mengakhiri obrolan.