Minggu, 30 September 2018 15:33

Menelusuri 'Sepotong Tanah Negeri Van Oranje' di Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Ereveld Leuwigajah (Taman Kehormatan Militer Belanda).
Ereveld Leuwigajah (Taman Kehormatan Militer Belanda). [Fery Bangkit/limawaktuid]

Limawaktu.id, - Ada yang menarik dari jelajah para pecinta sejarah yang tergabung dalam Komunitas Tjimahi Heritage, Minggu (30/9/2018).

Bertajuk 'Sepotong Tanah Belanda', pecinta sejarah melakukan penelusuran ke lokasi bersejarah di Kota Cimahi, yakni Ereveld Leuwigajah atau Taman Kehormatan Militer Belanda.

Baca Juga : Dijadikan Pemandu Wisata, Begini Respon Mojang Cantik Asal Cimahi

Terletak di Jalan Kerkhof, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, lahan seluas tiga hektare bernama Ereveld Leuwigajah merupakan area pemakaman milik Belanda.

Deretan nama-nama khas Belanda tertulis pada nisan berbentuk salib yang tertata rapi di atas hamparan rumput hijau.

Tercatat ada sekitar 5.200 jiwa yang dimakamkan Ereveld Leuwigajah. Jumlah itu terus bertambah hingga saat ini. "Untuk tokoh nasional tidak ada yang menonjol, kebanyakan tentara-tentara biasa, tidak ada Jendral yang dimakamkan disini. Tetapi ada tokoh Belanda dia seorang arsitek terkenal pada zaman 1920-an," kata Machmud Mubarok, Ketua Komunitas Tjimahi Heritage saat ditemui disela-sela jelajah heritage.

Sebelum memasuki kawasan pemakaman, terlebih dahulu harus melewati pemakaman umum Kristen dan makam Tionghoa, kemudian terlihat sebuah pintu gerbang dengan tulisan Ereveld Leuwigajah berwarna emas.

Sebagai tanda pemakaman tentara Belanda, di pemakaman itu terdapat sebuah monumen bertulisan kalimat dalam bahasa Belanda, 'Ter Eerbiedige Nagedachtenis Aan de Vele Ongenoemden die Hun Leven Offerden en Niet Rusten op de Erevelden'.

Selain terdapat rumput hijau dan nisan berbentuk salib, didalam terdapat gazebo, lengkap dengan meja dan kursi, serta ada juga sebuah rak kecil yang berisi buku-buku sejarah dan buku tamu pengunjung.

Menurut Machmud, pemakaman ini diresemikan pada 20 Desember 1949 yang dikelola oleh yayasan Oorlogsgravenstichting dibawah Kedutaan Belanda. Untuk itu, pengelolaannya pun berbeda dibandingkan makam pada umumnya.

"Seharusnya kita bisa mengambil pelajaran cara pengelolaannya agar bisa rapih dan nyaman dan kita berkunjung pun tidak ada rasa takut," kata Machmud.

Machmud mengatakan, Ereveld Leuwigajah itu merupakan tanah hibah dari Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Belanda, sehingga saat ini statusnya milik Belanda.

"Ini merupakan makam kehormatan korban perang (militer Belanda) pada tahun 1942 zaman Jepang sampai tahun 1947 setelah revolusi kemerdekaan," katanya.

Pada zaman perang itu, lanjut Machmud, banyak orang-orang Belanda yang meninggal sehingga dimakamkan ke tempat tersebut dan ada juga korban yang dimakamkan di Sumatera tetapi kerangkanya dipindahkan ke Ereveld Leuwigajah.

"Supaya semua Ereveld yang di Indonesia itu terpusat di Jawa. Dulu banyak makam kehormatan Belanda tapi hanya dipusatkan pada 7 tempat salah satunya Ereveld Leuwigajah," katanya.

Meskipun tempat tersebut, bukan obyek wisata yang 100 persen terbuka untuk umum tetapi, lanjut Machmud, masyarakat bisa masuk apalagi mereka yang memiliki keluarga yang dimakamkan di tempat tersebut.

"Yang dimakamkan disini itu bukan hanya orang-orang Belanda. Ada juga orang Jawa, Ambon, Manado, Makasar yang dulu mereka pernah menjadi tentara kenil," ujar Machmud.

Pemakaman tersebut, kerap ada peringatan khusus seperti mengibarkan bendera Belanda, Merah Putih Biru selama satu hari pada bulan Agustus.

"Itu untuk peringatan hari kelahiran ratu. Jadi hanya bulan itu saja berkibarnya selama satu hari, karena diprotes masyarakat kalau dikibarkan terus," ujar Machmud.

Akhirnya, lanjut Machmud, hingga saat ini bendera yang dikibarkan di pemakaman tersebut yakni bendera yayasan pengelolanya yakni Oorlogsgravenstichting (OGS).

Ditempat yang sama, Pengurus Ereveld Leuwigajah, Septiansyah, mengatakan, selama ia bekerja ditempat tersebut banyak orang Belanda yang sengaja ziarah ke tempat tersebut. Biasanya pada akhir Juli atau Akhir Agustus.

"Itu juga kalau datang bukan generasi anak-anaknya. Kalau anak-anaknya paling hanya satu tahun sekali. Paling banyak cucu dan cicitnya saja," katanya.

Namun, selama bekerja ditempat itu, khususnya saat malam hari ia menyebut tak pernah ada kejadian horor yang menonjol, berbeda dengan tempat pemakaman umum yang biasa.

"Tidak terlalu seram.Tapi pas awal saja, mungkin perkenalan, saat malam hari sekilas terlihat sosok tentara Belanda yang baris berbaris," katanya.

Baca Lainnya