Jumat, 27 Juli 2018 12:58

Menanti Fenomena Gerhana Bulan Total Abad 21

Reporter : Fery Bangkit 
Hendro Setyanto, Peneliti Astronomi Imah Noong
Hendro Setyanto, Peneliti Astronomi Imah Noong [limawaktu]

Limawaktu.id, - Peristiwa Gerhana Bulan Total (GBT) tahun ini akan menjadi gerhana terlama pada abad ke-21. Durasinya mencapai 103 menit.

Fenomena langka itu akan terjadi pada 28 Juli 2018 dan dipastikan bisa teramati di seluruh kawasan Indonesia.

Sebelumnya, gerhana bulan terlama pernah terjadi pada tanggal 16 Juli 2000 dengan durasi waktu lebih lama, yakni 106 menit.

Sebagai informasi, GBT kali ini merupakan yang kedua terjadi pada tahun ini, sebelumnya pada tanggal 31 Januari 2018 lalu juga terjadi fenomena astronomi yang sama. Namun terdapat perbedaan antara keduanya, GBT pada Januari lalu disebut sebagai bloodmoon karena bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi (perigee) sehingga ukuran bulan lebih besar dan terang daripada biasanya.

Tetapi GBT bulan Juli ini sebaliknya, dimana posisi bulan berada pada titik terjauh (apogee) dari bumi, sehingga akan terlihat lebih kecil. GBT dapat diamati mulai pukul 00.14 WIB saat bulan purnama memasuki bayangan penumbra, selanjutnya gerhana parsial mulai pukul 01.24 WIB. Gerhana total akan mulai terjadi pukul 02.30 WIB dan mengalami puncaknya pada pukul 03.21 WIB hingga berakhir pukul 04:13 WIB.

Menurut peneliti astronomi Imah Noong, Hendro Setyanto, GBT bukan menjadi satu-satunya fenomena langit yang terjadi pada 28 Juli 2018, sebab di saat bersamaan planet mars juga memancarkan cahaya sangat terang karena berada pada jarak paling dekat dengan bumi.

"Oposisi mars akan kembali tahun ini, siklusnya dua tahunan, bisa teramati di seluruh dunia. Kali ini jarak mars cukup dekat dengan bumi, sekitar 0,3 au (satuan astronomi jarak antara bumi dan matahari). Jadi ukuran mars akan sangat besar jika dilihat pakai teropong, kutub mars akan kelihatan jelas," katanya.

Dua fenomena astronomi sekaligus ini dipastikan tidak ada pengaruh buruk ke bumi. Seperti saat terjadi bulan purnama pada umumnya, fenomena GMT sekarang pun tidak ada pengaruhnya dengan besarnya ombak laut tetapi hanya akan terjadi pasang surut di laut.

Karena peristiwa ini cukup langka, Hendro mengajak masyarakat untuk melihat langsung perubahan cahaya bulan karena sangat menarik untuk disaksikan. Bahkan, demi memeriahkan fenomena ini, para astronom di Imah Noong akan mengadakan kegiatan pengamatan GMT bersama masyarakat dan para pecinta benda-benda langit.

"Di sini, kita mencoba mengadakan kegiatan rutin yaitu Ngawangkong Samagaha yang kelima kalinya diselenggarakan di setiap kali terjadi gerhana bulan," bebernya.

Namun bedanya, pada GMT Juli ini, pihaknya bakal mengembangkan Pasar Purnama untuk pertama kalinya. Di pasar tersebut, sebelum puncak GMT, akan diadakan pentas seni budaya yang mengangkat kultur budaya masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan gerhana bulan.

"Pasar purnama ini lebih ke arah pemberdayaan masyarakat sekitar, seperti pementasan calung, permainan anak-anak jaman dulu, kalau terjadi gerhana, ceritanya kaya apa, kita coba pentaskan di situ, hasil bumi masyarakat sekitar juga bisa dipasarkan. Dengan pasar ini, harapannya pengunjung banyak datang dan mereka membeli produk hasil bumi dari masyarakat sekitar Imah Noong," tuturnya.

Baca Lainnya