Sabtu, 14 Oktober 2017 17:01

Kementerian LHK Ajarkan Soal Uji Mutu dan Citarasa Kopi

Reporter : Yulie Kusnawati
Q Graider kopi Indonesia Adi Taroepratjeka mengenalkan cara uji mutu kopi saat pelatihan.
Q Graider kopi Indonesia Adi Taroepratjeka mengenalkan cara uji mutu kopi saat pelatihan. [Foto: lie]

Limawaktu.id,- Puluhan petani kopi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Jawa Barat mengikuti pelatihan kewirausahaan kopi dengan belajar mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi serta pengembangan kelembagaan sumber pembiayaan dan pola perdagangan kopi.

Pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi ini digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), bekerja sama dengan SCAI (Specialty Coffee Association of Indonesia). Pesertanya adalah 50 petani kopi yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) di Jabar, di Preanger Point Bandung, sejak Jumat (13/10) hingga Minggu (15/10).

Petani kopi yang mengikuti pelatihan kewirausahaan ini, sangat antusias saat mereka belajar mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi. "Saya dapat ilmu baru tentang menilai cita rasa kopi, bagaimana menggiling kopi, menyeduhnya, hingga mencicip kopi," kata Dedi Priyadi, (38), petani kopi, asal Sukajaya Lembang, saat mengikuti pelatihan di Preanger Point, Sabtu, (14/10).

Menurut Dedi, pelatihan yang baru pertama kali diikuti ini, sangat bermanfaat karena jadi mengetahui bagaimana cara menanam kopi dengan baik, mengolah hasil panen dengan benar, dan menyeduh kopi. "Ya, tentang cita rasa kopi dan ilmu barista sedikitnya bisa saya kuasai, setelah saya ikut pelatihan ini," ujar Dedi.

Q Graider kopi Indonesia Adi Taroepratjeka mengungkapkan, belajar mengenal cita rasa kopi, bagus dilakukan secara kelompok, agar terjadi diskusi, dan tentunya harus ada pengajarnya untuk mengarahkan bagaimana memberi nilai pada kopi.

Menurut Adi, kopi berkualitas adalah kopi yang ditanam dengan baik, pengolahan pasca panen dengan baik, dan biji kopi yang disortir secara baik. "Kalau petani kita kan, kopi yang sudah disortir dijual, yang sudah patah-patah dan disapu, itu yang diminum, jadi bagaimana bisa mengetahui kopi yang memiliki cita rasa bagus, kalau yang diminum kopi yang cacat," kata Direktur 5758 Coffee Lab, yang disambut gelak tawa para petani kopi.

Adi menyatakan, sudah saatnya petani kopi Indonesia dapat mengetahui cita rasa kopi dengan baik, agar mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun, meski bahasanya berbeda. Caranya, kami bagikan lembar pecatatan kopi, lalu mereka diajari bagaimana mencium aroma biji kopi, mencium aroma kopi yang sudah digiling, dan mencium aroma kopi yang sudah diseduh, serta bagaimana cara menyeduh kopi.

Saat mereka mencium aroma kopi, hingga mencicip kopi, cita rasa yang mereka rasakan ditulis di lembar pencatatan cita rasa. Melalui lembar pendaftaran kopi, kita menyamakan persepsi tentang nilai 7 untuk kopi seperti apa, nilai 7,5 seperti apa. "Sehingga mereka bisa berkomunikasi tentang kopi dengan hanya menggunakan lembar pencatatan kopi," kata Adi.

Menurutnya, kalau ada kopi dicampur jagung, beras, kedelai, beras ketan hitam, itu awalnya terjadi karena petani hanya menjual hasil panen yang bagus. Sisanya, kopi cacat atau pecah digiling, supaya banyak, mereka campur jagung, beras, atau kedelai. "Dicampur nggak papa, da nggak ketahuan, tapi ketika petani tidak pernah minum kopi hasil sortiran yang bagus, mereka tidak akan pernah tahu cita rasa kopi enak," ucapnya.

Adi juga menjelaskan, tidak ada yang salah mencampur kopi dengan komoditas lain. "Di Lombok, mereka minum kopi dengan kayu manis, kelapa sangria untuk menambah cita rasa, tapi yang dipakainya adalah kopi terbaiknya. Jangan dibiasakan minum kopi cacat, tapi coba minum kopi yang bagus," jelasnya.

Cara menyeduh kopi, tutur Adi, jangan menyeduh dengan air mendidih, tapi gunakan air panas 85 - 95 derajat. "Setelah diseduh dengan air panas, biarkan 4 menit, lalu ambil ampasnya, cium lagi aromanya, pasti aromanya berubah, dibandingkan dengan aroma kopi yang baru diseduh, " paparnya. (lie)*