Minggu, 10 Juni 2018 19:41

Di Bandung Barat, ada Masjid Berdiri Kokoh di Gunung Aktif dengan Ketinggian 2 Ribu MDPL

Reporter : Fery Bangkit 
Masjid Jabal Nur Berdiri Kokoh di Gunung Aktif dengan Ketinggian 2 Ribu MDPL.
Masjid Jabal Nur Berdiri Kokoh di Gunung Aktif dengan Ketinggian 2 Ribu MDPL. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Perahu merupakan ikon wisata alam yang terkenal di Jawa Barat, bahkan Indonesia.

Gunung yang terletak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat itu terkenal akan keindahan alamnya. Terutama kawah yang keluar dari permukaan Gunung Tangkuban Perahu.

Kini, Demi memanjakan pengunjung, khususnya Muslim untuk menjalankan kegiatan religinya, fasilitas wisata yang terkenal akan legenda Sangkuriang itu telah lengkap dengan berdirinya sebuah Masjid yang dinamakan 'Masjid Jabal Nur'.

Ikon baru Tangkuban Perahu itu terletak sekitar 30 meter dari bibir kawah Ratu. Bahkan, masjid bernuansa warna hijau itu disebut merupakan masjid satu-satunya di Jawa Barat, bahkan di Indonesia yang Berdiri di puncak gunung aktif dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter diatas permukaan laut (MDPL).

Roy Ferdinan, Pengembang kawasan TWA Tangkuban Perahu pun menceritakan inspirasi pertama kali ketika memutuskan untuk membangun masjid di gunung aktif. Dikatakannya, awalnya pihaknya menerima usulan dari para pengunjung.

"Akhirnya pada 2017 lalu, proses pembangunan masjid ini dimulai dan kami tentukan lokasinya tepat di sekitar kawah Ratu agar dekat dengan objek wisata utama di gunung Tangkuban Perahu," kata Roy, Minggu (10/6/2018).

Pembangunan masjid tersebut selesai pada awal tahun 2018. Kini, Masjid Jabal Nur sudah berdiri Kokoh dan bisa digunakan para pengunjung untuk menjalankan ibadah.

Masjid ini dapat menampung sekitar 300 orang. Ornamen luarnya sangat unik dan nampak bagus. Tempatnya pun nyaman dan bersih untuk mengerjakan shalat. Sehabis mengerjakan shalat, pengunjung bisa melihat pemandangan hamparan bebukitan dan pohon pinus yang begitu indah di bagian belakang masjid.

Selain digunakan para pengunjung, masjid Jabal Nur ini juga sering dimanfaatkan ratusan pedagang di Tangkuban Perahu untuk menjalankan salat berjemaah.

Masjid Jabal Nur sendiri hanya dibuka dari pukul 08.00-17.00 WIB, sehingga masjid ini hanya digunakan untuk shalat tiga waktu yaitu dzuhur, ashar dan magrib.

"Kalau shalat malam tidak bisa karena kawasan wisata sudah ditutup. Dari sore hingga subuh juga sering turun kabut," bebernya.

Walaupun berdiri di atas kawah gunung aktif, Roy mengaku, suplai air untuk kebutuhan wudhu di Masjid Jabal Nur tidak pernah ada masalah. Bahkan, air yang bersumber dari mata air Cikahuripan lebih jernih dan segar dari yang lainnya.

"Bisa dibilang airnya ajaib, karena biasanya mata air pegunungan itu adanya di bawah, tapi di sini, ada di puncak. Jadi untuk berwudlu itu tidak pernah bermasalah," ujarnya.

Sementara itu, pengelola TWA Tangkuban Perahu, Tri Persada Harapenta Kaban berharap dengan berdirinya masjid di sekitar lokasi wisata bisa memudahkan umat muslim dalam menjalankan ibadahnya.

"Di beberapa kawasan gunung, mungkin sudah berdiri masjid atau mushala. Tapi kalau masjid besar di puncak gunung di Jawa Barat, mungkin baru kali ini ada. Mudah-mudahan, dengan berdirinya masjid ini bisa memberikan kemudahan bagi pengunjung muslim untuk beribadah," paparnya.

Selain memberikan kemudahan dalam beribadah, berdirinya masjid Jabal Nur ini diharapkan bisa kunjungan wisatawan ke Tangkuban Perahu di saat libur Lebaran mendatang. Karena selain menjual ikon utama Kawah Ratu, pengunjung juga bisa berswafoto dengan latar belakang barisan pohon pinus.

"Masjid ini memiliki semacam keunikan karena ada di pinggir kawah aktif. Sebagian pengunjung yang datang bahkan menyebut bila sedang berada di dalam masjid, berasa sedang di negeri di atas awan karena bisa merasakan langsung kabut dan udara dingin yang langsung menggigil di kulit," ucapnya.

Baca Lainnya