Selasa, 26 September 2017 14:52

Cacing berpendar, larva serangga yang bersinar

Wisatawan sedang menikmati keindahan cahaya cacing berpendar di Danau McLaren.
Wisatawan sedang menikmati keindahan cahaya cacing berpendar di Danau McLaren. [Straitstime]

Limawaktu.id, - Saat senja dan ada sedikit hembusan angin musim gugur saat memulai perjalanan seperti ke dunia lain untuk melihat elf dan peri yang menari di antara cahaya tak berujung dari cacing berpendar.

Mereka berada di celah sempit ngarai dengan dinding tinggi di puncak Danau McLaren di Tauranga.

“saya sudah bisa membayangkannya suasana yang tenang meski kayuhan ceroboh saya menimbulkan cipratan keras. Saya belum sering naik seperti pemandu saya yang ramah, “ kata Tom.

Cacing berpendar adalah larva serangga yang bersinar dengan bioluminescence untuk menarik mangsa mereka. Mereka memintal jaring lengket, seperti laba-laba, dan memancarkan cahaya biru-hijau.

“Fakta yang menyenangkan: Semakin lapar cacing berpendar itu, semakin terang mereka bersinar,” ungkap Tom .

Tom menjelaskan, setelah sekitar sembilan bulan, seekor cacing berpendar berubah menjadi pupa dalam kepompong dan muncul sebagai lalat dewasa, yang hidup tidak lebih dari beberapa hari karena tidak memiliki sistem pencernaan sehingga tidak bisa makan.

Kata-kata tidak dapat menjelaskan betapa menawannya cahaya kecil ini. Mereka bukan makhluk mitos, tapi begitu memukau dalam kegelapan total,

“Saya terhipnotis oleh cahaya mereka, yang tidak terlalu terang, tapi dengan lembutnya berpendar,” tandas Tom .

Kejutan lain menanti saat aku mendayung keluar dari ngarai. Bintang-bintang tak terhitung pada pemandangan penuh di langit malam yang cerah.

Jutaan dan jutaan bintang. Tempat dongeng ini berada di luar dunia ini, dari cacing berpendar di darat sampai bintang bercahaya di langit, demikian dikutip Limawaktu.id dari Straitstime. (san)

Baca Lainnya