Sabtu, 13 Juli 2019 12:45

Bekas Galian Disulap jadi Kolam Renang

Reporter : Fery Bangkit 
Kolam renang bekas galian pasir di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, Bandung Barat.
Kolam renang bekas galian pasir di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, Bandung Barat. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Minimnya tempat hiburan bagi anak-anak membuat warga Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, Bandung Barat menyulap bekas galian pasir menjadi kolam renang.

Lokasinya yang berada di kawasan padat penduduk. Keberadaan kolan renang di bekas galian itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak sekitar. Apalagi, saat ini merupakan suasana liburan sekolah, sehingga ada kesenangan tersendiri bermain air.

"Senang ada kolam renang di sini, jadi enggak harus jauh-jauh ke Lembang kalau mau berenang. Tarifnya juga murah, sekali renang cuma bayar Rp3.000," kata Faisal, (13) seorang bocah kelas 4 SD di Lembang, Jumat (12/7/2019).

Menurut pengelola kolam renang, Rukmini, sebelum menjadi kolam renang anak, awalnya tempat tersebut adalah area bekas penggalian tanah. Setelah aktivitas penggalian terhenti, lubang bekas galian dibiarkan.

"Tetapi anak-anak sering datang kemari dan meminta bekas galian diisi air biar mereka bisa renang," kata Rukmini.

Keinginan para bocah akhirnya terwujud, pada akhir 2018, pemilik lahan yang juga saudara kandung Rukmini bernama Dede berinisiatif membuat kolam sederhana bagi anak-anak di Kampung Babakan Ampera agar bisa berenang gratis.

Apalagi, sebelum ada kolam renang, dia melanjutkan, anak-anak di sekitar rumahnya sangat kecanduan terhadap gawai atau permainan di handphone.

"Buat hiburan anak-anak. Daripada main handphone, kan lebih baik disalurkan dengan berenang. Anak-anak juga jadi senang," ujarnya.

Karena semakin banyak anak-anak yang datang, Rukmini melanjutkan, Dede kemudian membuat kolam renang yang lebih luas yang dinamai Si Bolang Ngojay. Terlebih, Dede akan menjelang pensiun dari pekerjaannya sebagai PNS sehingga dia memiliki kesibukan di rumah dengan membangun kolam renang pribadi.

"Lumayan kan, untuk hiburan anak-anak sekitar sini. Kadang bukan hanya warga sini saja, dari kampung lain juga suka ikut berenang di kolam ini," kata Rukmini,

Cerita menarik ketika membangun tiga kolam renang, dia mengaku, Dede harus menjual sekitar 14 ekor sapi atau menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah. Mahalnya biaya lantaran ongkos angkut material bangunan harus diangkut ojek sepeda motor.

"Soalnya, mobil tidak bisa masuk ke sini. Sehingga, untuk mengangkut material harus pakai ojek motor. Untuk satu kali antar semen, biayanya sampai Rp 10.000," bebernya.

Di area kolam Si Bolang Ngojay sendiri kini terdapat tiga kolam dengan kedalaman yang berbeda-beda dari setengah meter hingga 1,5 meter.

"Selain menjadi arena bermain air untuk anak, ibu-ibu pun setiap sore sering meramaikan kolam ini," tandasnya.

Baca Lainnya