Selasa, 21 Agustus 2018 8:24

Angklung Buncis jadi Ikon Warga Kampung Adat Cireundeu

Reporter : Bubun Munawar

Limawaktu.id,- Konon, eksistensi Angklung Buncis di Kampung adat Cireundeu sudah ada sejak 600 tahun lalu dan sangat terkait dengan keberadaan budaya di Cigugur Kuningan sebagai wilayah yang dihuni oleh warga Sunda Wiwitan, termasuk yang ada di Cireundeu Kota Cimahi.

Angklung buncis merupakan salah satu alat musik buhun yang biasanya dipakai dalam ritual acara di Tatar Sunda. Seiring perkembangan zaman, angklung buncis sering juga dimainkan dalam acara penyambutan tamu.

Para pemain alat musik buhun yang terbuat dari bambu hitam tersebut diperagakan dalam helatan yang digagas Disbudparpora Kota Cimahi pada 18 dan 19 Agustus 2018. Even tersebut terkait dengan Pelestarian dan Aktualisasi Budaya Kota Cimahi yang merupakan tahun pertama, dan direncanakan bakal jadi kalender tahunan Disbudparpora Kota Cimahi.

Menurut Yadi, salah seorang pemain Anglklung Buncis sekaligus warga kampong Cireundeu, biasanya Angklung Buncis ini dimainkan di kampungnya sendiri saat ada kegiatan budaya warga setempat.

Dijelaskannya, nada yang dihasilkan angklung buncis, memiliki perbedaan dengan angklung yang biasa dimainkan seperti angklung Mang Udjo. Angklung buncis terdiri atas nada Sunda yaitu da, mi, na, ti, la, da. Sedangkan angklung yang sekarang dikenal dunia bertangga nada do, re, mi, fa, so, la, si, do. Meskipun ukurannya lebih besar dari angklung biasa, terdapat kekhasan pada angklung buncis.

Sejak zaman nenek moyang, angklung buncis selalu dimainkan terutama dalam acara ritual seperti peringatan 1 Sura. Masyarakat Cireundeu memang menganut kepercayaan Sunda wiwitan. “Nama "buncis" merupakan kependekan dari budaya nurutkeun cara ciri Sunda,” jelasnya.

Dikatakan Yadi, agar kelestarian dari angklung buncis terus terjaga, pemerintah bisa ikut serta dengan pembinaan yang lebih profesional bagi generasi selanjutnya.

“Upaya Disbudparpora menggelar kegiatan pelestarian budaya ini sangat bagus dengan seringnya membuat kegiatan budaya yang sering dilakukan,” pungkasnya.

Baca Lainnya