Kamis, 7 Desember 2017 18:29

Wujud Ruh Kita Belum Tentu Manusia

Spirit Wujud Ruh
ilustrasi
ilustrasi [pixabay]

Penulis : Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Saat lahir, semua manusia berujud sama, manusia. Namun saat kembali kepada-Nya, wujud mereka berbeda-beda. Ada yang berujud maaf– anjing, kera, babi, atau lebih buruk lagi. Ada juga yang berujud sangat mulia, lebih baik dari wujudnya di dunia.

Demikian kata Ibnu Arabi, seorang irfani yang failasuf ini, saat menafsirkan ayat Innaa lillaahi wa inna ilayhi raaji`uun… Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya pula kami kembali…

Bahkan di alam dunia ini pun, ruh kita ini berbeda-beda. Wujud fisik (jasmani) kita sama, manusia. Ganteng, cantik, indah, rapih, dan lain sebagainya. Tapi ruh kita belum tentu demikian. Mungkin berujud binatang-binatang itu, atau lebih buruk lagi. Bahkan menakutkan….

Wujud ruh kita di dunia dibentuk oleh apa yang kita sembah, yang kita perjuangkan, yang kita kejar, yang menguasai ruh kita ini… Jika yang menguasai ruh kita adalah nafsu hewan-hewan itu, maka seperti itu pulalah bentuk ruh kita. Mungkin berupa hewan liar, atau hewan pemangsa, perusak dan ganas, atau mungkin pula hewan yang menjijikkan. Jika yang menguasainya adalah nafsu syaithani, maka seperti itu pulalah bentuk ruh kita.

Dan jika yang menguasai ruh kita adalah Tuhan, maka ruh kita pun akan menyerap asma-Nya, menikmati cahaya-Nya, memancarkan kebaikan-kebaikan-Nya…

Pendapat ini disampaikan oleh Al-Ghazali, penulis Ihya Ulumuddin dan al-Munqidz Min al-Dhalal, yang juga terkenal dengan teori “syakk” (keraguan)-nya,yang konon menginspirasi lahirnya teori filsafat skeptisisme di dunia Barat.

Jadi, kata Al-Ghazali, bentuk ruh kita di dunia ini tergantung dari apa yang kita SEMBAH. Kata Sembah sengaja ditulis dengan huruf kapital, karena makna bukan menyembah secara fisik. Sebab, bisa jadi seseorang salat, seperti merasa sedang menyembah Allah Swt, tapi mungkin saja hati dan ruhnya sedang menyembah yang lain; mungkin saja yang sedang ia perjuangkan dan menguasai ruhnya itu bukan Tuhan, melainkan nafsu-nafsu duniawi, hewani dan syaithani, yang tidak terlihat oleh manusia-manusia lain…

Maka tidak selayaknya seorang manusia merasa aman dan nyaman hanya karena fisiknya sudah salat, merasa sudah fasih menyebut Asma Allah, merasa sudah saleh, merasa sudah berbuat banyak kebaikan, dan lain sebagainya…

Karena kita semua tidak tahu seperti apa bentuk ruh kita saat ini, apalagi wujud diri kita nanti saat menemui-Nya. Juga kita tidak tahu apakah kelak kita akan menemui-Nya dalam Wajah Rahmah-Nya, ataukah Wajah Ghadhab-Nya…

Ketidakmampuan melihat wujud ruh saat hidup di dunia ini, adalah rahmat Allah yang melegakan. Kalau saja bukan karena Rahmat-Nya, mungkin kita akan takut bertemu dengan orang-orang di sekitar kita, baik yang terdekat maupun yang jauh. Sebagaimana mereka juga mungkin takut melihat wujud ruh kita yang tidak sebaik wujud fisik kita, atau bahkan menakutkan dan mengerikan…

Beruntung pandangan mata kita tidak waskita (yang bisa menembus dan melihat dimensi ruhani)… Seandainya kita semua diberi pandangan mata yang waskita, mungkin kita tidak akan mau saling melihat, apalagi saling bertemu (diakibatkan karena rupa ruh kita yang menakutkan atau menjijikkan)…

Hal-hal ruhani inilah yang dibahas dan diajarkan oleh tasawuf, sufisme, gnostisisme, irfan, atau hikmah. Tidak oleh fiqih, tidak oleh filsafat. Fiqih tidak menyentuh dimensi ini. Fiqih hanya mengurus persoalan fisik dalam ta’abbud. Dan filsafat –kaitannya dengan ta`abbud— hanya mengurus persoalan aqliyahnya saja. Keduanya tidak menyentuh ruhani…

Karenanya, menilai dimensi ruhani harus menggunakan perspektif ruhani pula. Jika dimensi ruhani dilihat dengan perspektif fiqih dan filsafat, tentu saja tidak kompatibel.

Fiqih, filsafat dan tasawuf, bahkan hikmah, ada dan berkembang dalam tradisi dan disiplin Islam. Hanya saja, sedikit orang yang berkesempatan mempelajari keempat-empatnya, apalagi sampai menikmatinya. Kebanyakan mereka hanya sampai pada fiqih. Malangnya, justru perspektif fiqih inilah yang membuat mereka terkotak-kotak, fanatik, lalu sebagiannya bertindak ofensif terhadap yang berbeda pendapat. Ketegangan sosial banyak terjadi karena pesoalan ini.

Nah, terlepas dari itu semua, sejenak kita perhatikan persoalan yang mengabaikan khilafiyah fiqhiyah dan mazhab ini. Yakni apa yang disampaikan Ibnu Arabi di atas.

“Saat lahir, semua manusia berujud sama, manusia. Namun saat kembali kepada-Nya, wujud mereka berbeda-beda.”

Kita pun demikian…. 

A Hadiansyah Evo
A Hadiansyah Evo

Makanya klu kita kepasar banyak yg ngomong isinya banyak aneka macam binatang katanya yg terlihat adalah para pedagang yang melakukan pesugihan ,walallahu alam

8 Desember 2017 0:12 Balas

Rustan Abubakar Al Iskandari
Rustan Abubakar Al Iskandari

Haddduuuuuuh

7 Desember 2017 22:23 Balas