Rabu, 23 Mei 2018 16:20

Tajil Puasa, Wajah Islam dalam Tradisi Indonesia

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Ust. H. Miftah Fauzi Rakhmat, Lc., M.A.

Berbuka puasa biasa dimulai dengan ta’jil. Ya, makanan sore hari itu. Makanan pembuka. Ta’jil dalam bahasa artinya menyegerakan. Maksudnya, bila sudah adzan cepat-cepatlah berbuka. Ke dalam bahasa kita, ta’jil menjadi tajil. “Sudah tajil belum?” Maksudnya, “Sudah membatalkan puasa atau belum? Kok makna tajil jadi bergeser?

Ini sangat khas negeri kita. Khas Indonesia. Bila bertandang ke negara islam lainnya dan bertanya, “Sudah tajil atau belum?” Mungkin mereka tidak dengan cepat mengerti. Mungkin juga mereka tidak sama punya tradisi. Ya, inilah di antara makna dihadirkan banyak suku bangsa agar saling mengenal, agar saling mengerti.

Banyak sekali yang khas negeri ini. Pengumuman waktu imsak, atau cara membangunkan sahur dengan beduk dan pawai keliling. Seorang pernah bertanya pada Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, ulama besar Libanon: apa hukumnya membunyikan klakson mobil untuk membangunkan orang sahur? Rupanya tradisi di sana seperti itu.

Beliau menjawab, “Dalam Islam terlarang hukumnya mengganggu orang lain.” Islam memberikan aturan dasar. Masyarakat kemudian memberikan bentuknya. Apa saja. Bila masyarakat tidak terganggu bahkan bersenang hati, silakan saja. Tapi, bila ada yang sakit, ada yang sepuh, bila ada yang terganggu, semua itu mesti dipertimbangkan kembali.

Inilah pendapat yang menyebut Islam sebagai _dzu wujuh_. Islam yang punya banyak wajah. Ibarat air, Islam dapat masuk ke dalam setiap rongga kehidupan masyarakat. Menyesuaikan dan tidak memaksakan. Maka kita akan melihat Islam di negeri kita dengan tradisi ngabuburit, buka bersama, _sahur on the road_ dan sebagainya. Yang Islam ajarkan adalah esensinya. Budaya setempat menjadi warna yang hadir dalam spektrum cahaya yang ditawarkan Islam.

Di sisi lain, ada juga yang berpendapat harus seragam. Bahwa Islam adalah satu di mana pun ia berada. Maka cara berpakaian diseragamkan, makanan berbuka disamakan, gaya bicara disesuaikan, segala sesuatu ‘diIslamkan’. Mengapa menggunakan tanda petik? Karena tidak jarang, yang dimaksud adalah diarabkan. Yaitu mengambil tradisi negeri-negeri Arab menjadi bagian dari tradisi keberagamaan kita.

Kedua pendapat ini kita hormati. Utamanya, bila saudara mengambil pendapat yang pertama. Maka perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan. Tanpa harus berlebihan bereaksi. Ingin menggunakan sarung, silakan. Ingin bergamis dan bercelana cingkrang, silakan. Ingin berkerudung tradisional silakan. Ingin menutup seluruh badan dengan satu helai kain yang sama, silakan. _Innallaha laa yanzhuru ilaa suwarikum, wa lakinallaha yanzhuru ilaa quluubikum_. Nilai di hadirat Allah bukan dari bentuk lahiriah, melainkan ketulusan batiniah.

Saya pernah mendengar sebuah kisah. Mohon koreksi bila rujukan saya keliru. Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Jakarta pernah berangkat ke Mesir. Di sana, di sebuah masjid, ia shalat menggunakan sarung. Seseorang menyapanya dan berkata, “Tuan, di negeri kami yang tuan kenakan ini adalah pakaian perempuan.” Ia menegur Pak Profesor dengan sopan. Dengan sopan pula Pak Prof menjawab, “Begitu pula, gamis yang tuan kenakan, di negeri kami adalah pakaian perempuan.”

Tajil. Dari bersegera berbuka, maknanya bergeser menjadi menu pembuka. Haruskah (selalu) dengan kurma? Tentu ada banyak manfaat kurma, banyak sekali. Makanan khas jazirah Arabia ini telah menjadi hidangan wajib bagi muslim seluruh dunia. Tentu, baik sekali dengan kurma. Tetapi, ada kekhasan negeri kita. Serba-serbi bulan suci di kita punya negeri. Tajil kini maknanya meluas. Tajil memiliki makna khusus: gorengan, kolakan, asinan, rujakan, es-es-an…dan semisalnya. Semua makanan itu dikelompokkan menjadi satu jenis makanan: tajil.

Selamat menikmati bulan suci dengan serba-serbi tajil di negeri ini. Apapun bentuknya, ingatlah di suapan pertama saudara kita yang tak leluasa berbuka. Antarkan doa untuk sesama anak negeri, untuk mereka yang teraniaya: di Palestina, Bahrain, Yaman, Suriah dan banyak lagi.

Dalam hal ini, kezaliman—apa pun bentuknya—takkan pernah dibenarkan dalam Islam. Selamat berbuka dengan tajil istimewa bersama keluarga. Doa kita untuk sesama saudara.

Baca Lainnya