Senin, 28 Mei 2018 19:11

Syahwat Manusia

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Penulis: Ust. Dr. Kholid al-Walid, Dosen STFI Sadra, Jakarta

syahwat merupakan perangkat diri kita yg seringkali dimaknai negatif. Syahwat bermakna: "Daya yg nemberikan dorongan yg kuat di dalam diri manusia kepada sesuatu yg memberikan kenikmatan baginya"

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" (QS 3:14)

Sesungguhnya Syahwat ada pada diri setiap manusia untuk membawa manusia memenuhi keperluan dan menjaga keberlangsungan kehidupannya

Pada setiap fase kehidupan manusia terdapat syahwat yg mendorong dirinya pd kecenderungan khusus:

Fase awal kehidupan dorongan syahwatnya pada menyusu dan tidur.
Fase berikutnya dorongan syahwatnya pada bermain dan bersenang-senang.
Fase berikutnya syahwatnya pada kenikmatan Hewaniyah dan Fisik.
Fase berikutnya syahwatnya mendorong pada hal yg bersifat Material dan Ruhaniyyah.

Karenanya Syahwat dapat mendorong diri manusia pada hal yg bersifat Duniawiyah namun dapat juga mendorong manusia pada hal yg bersifat Ruhaniyyah.

Syahwat yg mendorong pd hal Duniawiyyah jika diikuti akan merusak manusia :

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan" (QS 19:59)

"Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)" (QS 4:27)

Syahwat yg mendorong manusia pd hal yg bersifat Ruhaniah akan mengantarkan manusia pd kenikmatan Surgawi :

"Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini (Tasytahi = Disyahwati) oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya"(QS 43:71)

"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan (Tasytahi) (dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta" (QS 41:31)

Kapan Syahwat menjadi kebaikan? Ketika Syahwat berada dlm kendali Akal dan mengikuti ketentuan yg telah Allah tetapkan. Syahwat justru menjadi energi dalam perjalanan ruhaniah manusia. Namun jika syahwat tdk berada dlm kendali maka manusia akan berada dlm kendalinya yg justru membawa manusia jatuh pada derajat hewani atau lbh rendah lagi :

"Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS 7:179)

Para 'Arif mengumpamakan manusia bagaikan kereta kuda. Kereta bagaikan diri manusia, Saisnya adalah akalnya sedangkan Syahwat adalah Kuda itu sendiri. Sekiranya Sais mampu mengendalikan kudanya maka kereta itu akan membawa ke tujuan yg diinginkan namun jika kudanya yg mengambil kendali maka yg terjadi justru kehancuran.

Puasa kita adalah upaya kita menundukkan Syahwat kita untuk kembali mampu kita kendalikan.

Baca Lainnya