Rabu, 7 Februari 2018 18:48

Siapakah yang Berdosa ?

Ilustrasi
Ilustrasi [Net]

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

“Boleh tidak menggantungkan di mobil kalimat-kalimat suci seperti lafal Allah, subhanallah, laa hawla walaa quwwata illaa billah, dan lainnya?”

Ini pertanyaan dari seorang anak SMP kelas 3 melalui message fesbuk beberapa hari kemarin. Ia tinggal di Jakarta, dan beberapa kali membangun kontak via fesbuk.

Saya sering kesulitan membuka, membaca apalagi menjawab message di fesbuk via HP. Karenanya jarang saya menjawab chatting via fesbuk karena kendala teknis. Ini sekaligus permintaan maaf saya kepada yang mengirim message tapi juga tidak saya balas. Saya lebih mudah chatting via WA ketimbang fesbuk.

Tapi beruntung saya masih bisa berkomunikasi sebentar via message fesbuk dengan anak ini dan beberapa teman yang lain. Sehingga menjadi tahu apa dan siapa, walau sedikit.

Sebuah pertanyaan yang tidak saya duga, sebernanya. Tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti ini. Tetapi saya coba ingat-ingat, bahwa memang di sekitar kita saat ini sering muncul pertanyaan-pertanyaan tentang boleh dan tidak, menyangkut hal-hal sederhana dan harian. Lalu perhatian dan waktu kita banyak tersita di urusan seperti ini.

Sebentar lagi Ramadhan. Coba perhatikan nanti, kita kembali akan segera mendengar dan mengulas tentang “boleh atau tidak” untuk hal-hal harian dan sederhana. Dan nampaknya hal-hal seperti inilah yang selalu ramai didiskusikan, bahkan diributkan (terutama oleh orang-orang yang suka berisik), dan seolah tidak habis-habisnya dibahas, berulang-ulang. Konsentrasi dan fokus kita masih berkutat di sini, dan belum beranjak lebih naik.

Sebenarnya sebagian orang mungkin tidak memperhatikan hal sederhana seperti ini, sampai akhirnya ada orang yang mengusik dan mempersoalkannya. Maka terjadilah diskusi. Bagus juga untuk mengaktifkan pikiran dan menyampaikan gagasan, juga membiasakan berargumen. Apalagi untuk anak usia SMP, itu jelas akan melatihnya berpikir, berdiskusi, belajar dan mencaritahu. Jarang-jarang ada anak usia SMP yang tertarik membahas masalah ini. Saya doakan semoga ia menjadi pecinta Allah dan Nabi-Nya, dan selalu berada dalam kebaikan di kehidupannya.

“Boleh saja. Memangnya kenapa?”

Ia menjawab, “Khan tulisan itu kelak jadi saksi. Bagaimana jika mobil itu nanti misalnya disewa orang, lalu digunakan untuk kemaksiatan. Masak tulisan kalimat thayyibah itu harus menyaksikan kemaksiatan? Apakah kita yang menggantungnya tidak berdosa?”

Bagaimana kalau cara berpikirnya dibalik, misalnya begini. Justru karena ada tulisan kalimat thayyibah maka orang yang tadinya akan bermaksiat itu jadi diingatkan, dan tidak jadi melakukan maksiat. Khan jadi bagus kalau begitu.

“Iya juga sih,” katanya.

Ini tentang cara berpikir. Akar dari pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan lain semisalnya berkaitan dengan cara berlogika. Jika logikanya salah, maka kesimpulan juga salah.

Saya coba contohkan seperti ini:

Pembuat pisau dapur itu sengaja membuat pisau untuk kebaikan, yakni menyelesaikan kegiatan memasak. Jika suatu saat misalnya pisau dapur itu digunakan orang jahat untuk melukai atau bahkan membunuh orang, apalah pembuat pisau turut berdosa?

Nabi Ibrahim membangun baitullah, bersama Nabi Ismail. Ketika pada zaman jahiliyah, orang-orang Arab lelaki dan perempuan berthawaf telanjang, atau meletakkan 360 berhala di sekitarnya dan menyembah patung-patung itu, apakah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdosa karena dosa-dosa mereka?

Lebih jauh lagi, apakah karena Iblis durhaka dan menjerumuskan manusia ke berbagai dosa, lantas apakah Allah sebagai Penciptanya berdosa? Apakah dosa Iblis dan orang-orang jahat semuanya akan ditimpakan kepada Tuhan?

Tentu saja tidak!

Setiap sesuatu ada fitrahnya. Dan fitrah yang Allah tetapkan untuk ciptaanNya adalah kebaikan. Dan ketika manusia menyimpangkan fitrah itu, maka bukan salah-Nya, melainkan salah mereka. Jangan salahkan pembuat pisau dapur ketika ada orang jahat yang menggunakan pisau itu untuk kejahatan. Sebab fitrah pisau dapur adalah untuk kegiatan memasak.

Siapa yang bersalah? Yang bersalah adalah orang yang menyelewengkan sesuatu dari fitrahnya.

Bukan salah Nabi Nuh ketika isteri dan puteranya Kana’an durhaka. Bukan salah Nabi Luth ketika isterinya menjadi penentang Tuhan. Bukan salah Nabi Saw ketika orang-orang pada zaman beliau memusuhi dan memerangi Allah.

Jadi, bukan salah penggantung lafal Allah jika mobil itu digunakan orang lain untuk berbuat maksiat.**