Jumat, 20 April 2018 15:35

Sampaikan Ilmu, Setelah diAmalkan

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net Edited]

Penulis: Ardi Yazdy, Aktivis HMI Bandung

Dahulu, pada zaman India kuno ada orang bijak bernama Svetaketu. Saat masih kecil Svetaketu banyak bertanya kepada ayahnya soal-soal yang berkenaan dengan Tuhan. Tidak ada teman-teman sebayanya yang setara dengan kejeniusan Svetaketu.

Baca Juga : Jika Ilmu Bertambah, Diri Berubah

Membaca kehidupan Svetaketu sebenarnya saya teringat juga pada kehidupan Ayatullah Murtadha Muthahhari, yang ketika umur belasan tahun saja beliau sudah begitu hebat merindukan Tuhan. Suatu saat kami akan membahasnya, Insya Allah.

Ayah Svetaketu bernama Uddhalaka. Kemungkinan besar Uddhalaka adalah seorang maven (para bijak bestari) pada zaman itu. Pernah suatu kali terjadi percakapan menarik antara Svetaletu dengan ayahnya, Uddhalaka.

Baca Juga : Nasehatku, Amalkan Ilmumu!

Sang anak selalu memohon agar ayahnya menerangkan hakekat Tuhan yang ingin ia ketahui. Sang ayah pun menerangkan dengan berbagai contoh yang mudah dimengerti. Salah satu percakapan itu adalah sebagai berikut,

Kepada Svetaketu, Uddhalaka berkata,

"Masukkanlah garam ke dalam air ini dan datanglah kepadaku pagi hari."

Svetaketu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh ayahnya itu. Saat pagi hari sang anak mendatangi ayahnya. Kemudian ayahnya berkata kepada anaknya,

"Garam yang kamu masukkan ke dalam air kemarin malam, bawalah kemari."

Svetaketu terkejut saat ia tidak lagi melihat garam itu karena sudah larut semuanya. Ayahnya berkata,

"Silahkan cicipi dari tengah-tengah."

"Garam? Bagaimana?" Kata anaknya.

"Masukkanlah kembali (garam ke dalam air) dan nanti datanglah kepadaku!" Kata ayahnya.

Svetaketu kerjakan sesuai permintaan ayahnya. Berhari-hari hasilnya selalu sama, garam larut di dalam air. Kemudian ayahnya berkata pada anaknya itu,

"Sesungguhnya, sayangku, kamu tidak melihat Tuhan Yang Maha Esa ada di sini. Sesungguhnya Dia ada disini."

Percakapan tersebut membuat Svetaketu kecil menjadi begitu penasaran akan Tuhan. Saat berumur tujuh tahun, Svetaketu diminta ayahnya untuk belajar Veda (kitab suci Hindu). Bertahun-tahun Svetaketu mempelajari Veda.

Karena ketekunan dan kepandaiannya, Svetaketu mengalahkan semua temannya, sampai pada waktu itu ia dianggap sebagai ahli kitab suci besar yang hidup pada usia muda.

Saat pulang ke rumah. Ayahnya ingin menguji kemampuan Svetaketu. Ini pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya itu,

"Apa kamu belajar, bahwa dengan belajar itu kamu tidak perlu belajar sesuatu yang lain lagi? Apa kamu menemukan, bahwa dengan menemukan itu setiap derita berakhir? Apa kamu menguasai yang tidak dapat diajarkan?"

"Tidak", kata Svetaketu.

"Lalu", Kata ayahnya, "Apa yang kamu pelajari bertahun-tahun ini tidak ada nilainya, nak."

Begitu terkesan Svetaketu mendengar kebenaran kata-kata ayahnya tersebut hingga Svetaketu mulai berusaha menemukan kebenaran dengan kebijaksanaan diam yang tidak dapat diungkapkan kata-kata.

Saat itu Svetaketu mulai larut dalam kehidupan. Baginya, rahasia hidup hanya dapat ditemukan di dalam hidup itu sendiri dan syariat adalah panduannya.

Imam Shadiq berkata,

"Demi Allah, aku tidak pernah menyampaikan satu ayat pun (al-Quran) sebelum aku sendiri melaksanakannya terlebih dahulu."

Itulah mengapa kita tidak juga ke mana-mana (tidak naik maqam) karena kita sibuk menyampaikan—bukan melaksanakan.

Baca Lainnya