Sabtu, 11 April 2020 16:22

Sakit karena Allah, Sembuh karena Allah

Reporter : Bubun Munawar
ilustrasi Orang sakit
ilustrasi Orang sakit [Bubun Munawar]

Limawaktu.id - Saat membaca buku Li'annaka Allah, saya tergelitik dengan satu kalimat sebagai berikut: "Kehidupan adalah ladang penyakit, rasa sakit, dan keluhan." Kemudian paragraf lengkap adalah sebagai berikut:

"Kehidupan adalah ladang penyakit, rasa sakit, dan keluhan. Makanya, Allah menamakan diri-Nya As Syafi'y, Zat yang Maha Menyembuhkan, agar penyakit-penyakit anda bersujud di mihrab rahmat-Nya, supaya rasa sakit bersimpuh di gerbang kekuasaan-Nya."

Dari peragraf tersebut, setelah diresapi lebih dalam, hingga paham bahwa
penyakit adalah masalah terbesar manusia untuk menjaga dari sifat angkuh dan sombong. Seandainya manusia sadar bahwa penyakit adalah kelayuan atau penurunan, baik perlahan-lahan maupun secara mendadak dimana manusia kehilangan kesegarannya/kebugarannya. Penyakit adalah penurunan bagi vitalitas manusia yang lemah dan yang selalu berkeluh kesah.

Allah 'azza wa jalla menakdirkan sakit dan rasa sakit, sebagai bentuk penurunan kebugaran bagi jasad untuk sementara waktu supaya manusia yakin akan kelemahannya, bahwa manusia tidak punya daya dan kekuatan apa pun.

Allah 'azza wa jalla menakdirkan penyakit bagi manusia agar ia mengingat akan sesuatu yang serupa tapi tak sama, yaitu kematian. Jika penyakit adalah akhir dari vitalitas dan atau kebugaran, sedangkan kematian adalah akhir dari kehidupan.

Allah 'azza wa jalla tidak menciptakan kita (manusia) untuk bersaing dalam persoalan dan urusan duniawi, akan tetapi Allah menciptakan manusia untuk satu tujuan, semata-mata hanya beribadah. Dalam artian bahwa semua aktivitas kehidupan di dunia diniatkan semata-mata beribadah kepada Allah. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur di malam hari.

Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: Ayat 56).

Pada firman Allah lain nya:
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ ۙ 

٭لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ 

"Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"
(QS. Al-Mulk: Ayat 1-2).

Mengingat kematian adalah obat bagi jiwa seorang pembangkang dan sombong yang melakukan atau berbuat demi kenikmatan duniawi semata.

Mengingat kematian penting dilakukan sebanyak mungkin, bukan untuk melemahkan gairah hidup, melainkan sebaliknya: memompa semangat yang lebih besar untuk mengisi kehidupan yang pasti berakhir dengan melakukan kebaikan, baik kepada Allah, sesama manusia, maupun lingkungan alam sekitar.

Rasulullah saw. bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ الَّلذَّاتِ اَلْمَوْتِ

“Perbanyaklah mengingat hal yang dapat memutus kelezatan-kelezatan, yaitu kematian,” (HR. Ibnu Hibban, al-Nasai dan lainnya).

Rasulullah saw bersabda:
"Perbanyaklah mengingat kematian, karena sesungguhnya ia akan membersihkan dosa-dosa dan membuat zuhud terhadap dunia." (HR. Abu Na'im)

Ketika penyakit tersebut sampai pada batasnya, dan kita beraktivitas dengan baik di dunia, As Syafi'y mengizinkan kepada penyakit itu untuk meninggalkan jasad kita dan Allah 'azza wa jalla memerintahkan kesehatan untuk melanjutkan tugasnya seperti semula, maka tanda-tanda kesehatan pulih akan terlihat pada jasad kita, antara lain: warna kemerahan kembali menghiasi pipi, senyumnya mulai menyungging, semangat beraktivitas mulai meningkat, dan sebagainya.

Kesembuhan adalah hak prerogatif Allah, sebagaimana salah satunya terdapat pada asma'ul husna, yaitu As Syafi'y (Zat yg Maha Menyembuhkan). Oleh karena itu, seseorang sembuh dari penyakit yang dideritanya dengan berbagai macam cara yang dilakukan Allah. Dia menyembuhkan dengan tanam-tanaman - seperti yang terdapat pada ramuan herbal, Dia menyembuhkan dengan satu obat atau beberapa obat - melalui tangan para dokter dan tenaga medis, Dia menyembuhkan dengan makanan, Dia menyembuhkan dengan air - seperti melalui para tabib yang diyakini oleh orang yg sedang sakit, Dia menyembuhkan dengan keistiqamahan beribadah (shalat, doa, istighfar, tobat), bahkan Allah mampu menyembuhkan seseorang dengan tanpa apa pun, salah satunya hanya dengan bersabar menerima penyakit yang diujikan kepada seseorang.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata: "Musibah itu satu, tetapi bila kamu tidak sabar maka ia menjadi dua".

Agama mengajarkan bahwa sesudah kesabaran ada kemenangan, dan sesudah kesulitan ada kemudahan. Kemenangan orang yang sabar adalah kebersamaan dia dengan Allah 'azza wa jalla. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang sabar, sesuai firman Allah QS Ali Imran ayat 146, sebagai berikut:

وَا للّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

"Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."

Oleh: Andriady Indra

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer