Rabu, 9 Mei 2018 13:16

Religiusitas Simbolik yang Eksklusif

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net Edited]

Penulis: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Religius itu adalah ketika seseorang semakin mendekat kepada Tuhannya dan semakin baik akhlaknya kepada sesama.

Jika ada orang yang semula banyak berbuat baik kepada orang lain, menghargai kebaikan orang lain, menghormati hak-hak orang lain, mengapresiasi sisi-sisi positif orang lain, dan sejenisnya, namun ketika kemudian ia mulai mendekat dengan simbol-simbol agama, dan tiba-tiba menjadi suka negatif kepada orang lain, mudah menyalahkan orang lain, mudah menuduh orang lain, mudah menyesatkan orang lain, bahkan membenci, memusuhi dan menyerang orang lain yang tidak sepikiran.

Maka, itu bukan sikap religius, selebar apa pun kain yang menutupi tubuhnya, seputih apa pun surban dan pecinya, semerdu apa pun bacaannya, sefasih apa pun kata-kata arabnya…

Sikap-sikap seperti itu tidak menunjukkan religiusitas seseorang, baik dilakukan oleh para muallaf simbolik-formalistik (maksudnya, orang yang baru senang kepada hal-hal keagamaan formal), maupun oleh mereka yang sudah terbiasa melakukannya sejak masa kanak-kanak.

Di kalangan kaum titik-titik, ada pemahaman bahwa religiusitas itu adalah ketika mereka mengenakan baju-baju “kesalehan” (baju koko, peci putih, jubah, atau lainnya), sering mengutip ayat-ayat suci, dan membicarakan tema-tema keagamaan.

Namun, mereka lupa memahami dan menerapkan akhlak yang baik kepada sesama. Mereka merasa sudah cukup saleh hanya dengan mengenakan simbol-simbol tersebut.

Karena pemahaman seperti itu, maka di antara mereka ada yang mudah menyerang orang lain yang berbeda pemahaman dan pandangan. Ada di antara mereka yang merasa dirinya sudah religius, ketika mereka mengkafirkan dan menyesatkan orang-orang yang berbeda pikiran dan cara pandang.

Bukan saja kepada orang-orang yang berbeda agama, bahkan kepada sesama penganut agama yang sama pun mereka mengkafirkan dan memandang sesat, bahkan menyerang. Religiusitas dipahami secara eksklusif.

Padahal religiusitas adalah ketika kebertuhanan berekspresi dalam tindakan kemanusiaan; ketika keberislaman manifes dalam kesesamaan. Karena upaya mencari dan menemukan Tuhan bukan berarti menanggalkan persaudaraan kemanusiaan, juga bukan menjauhi dan memusuhi manusia yang berbeda dalam pemahaman dan pemikiran.

Menemukan Tuhan berarti menyebarkan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Carilah Aku di tengah orang-orang yang hancur hatinya.”

Mengenali dan mendekati Tuhan bukanlah dengan membenci dan memusuhi orang-orang yang berbeda cara dalam mengenali-Nya. Ada banyak kepala, ada banyak pikiran. Begitu pun tentang pengenalan terhadap Tuhan.

Tuhan itu satu. Namun cara dan kemampuan orang-orang memahami dan merasakannya pasti berbeda, sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pemahamannya.

Mengenai keragaman pemikiran, orang-orang di luar sana mungkin salah, tetapi kita juga belum tentu benar. Jika kita ingin mereka meniti jalan yang sama kita lalui, maka kita harus memastikan bahwa jalan dan akhlak kita pantas mereka teladani…

Karena, sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia (makaarim al-akhlaq).” Yang Nabi perbaiki bukan saja akhlak-akhlak yang buruk, namun juga menyempurnakan akhlak yang sudah mulia.

Oleh karena itu, tidak perlu jumawa menilai orang yang berbeda paham, seolah-olah diri paling benar. Sebab, sangat mungkin kita belum banyak membaca keragaman paham yang menjadi syarat seseorang untuk bisa bijak dan layak berpendapat…

Di antara ciri ulul albab (orang yang memahami inti) adalah menyimak banyak pendapat kemudian mengikuti pendapat yang terbaik. Alladziina yastami’uuna al-qawla fayattabi’uuna ahsanahu…

Jika seseorang baru mendengar dari satu pendapat, dan baru dari situ satu-satunya ia menyimak, lalu bagaimana bisa menilai sesuatu dengan benar dan bijak?

Baiklah. Kita mungkin yakin bahwa kita benar. Tapi yang bisa benar bukan hanya kita. Orang-orang lain juga bisa. Jika tidak semua mereka benar, sebagian mereka ada yang benar…

Sebaliknya, kita mungkin tahu bahwa orang-orang itu salah, bahkan sebagian dari mereka jahat. Tetapi yang salah dan jahat bukan hanya mereka. Sebagian dari kita juga sama. Diantara kelompok kita juga ada yang buruk dan jahatnya. Di setiap generasi dan kelompok, manusia selalu beragam. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Ada yang berakhlak terpuji, juga ada yang berakhlak tercela.

Kebaikan dan kebenaran adalah fitrah suci manusia, apa pun bentuk dan ekspresi formalisme kehidupan mereka. Jika kita bisa melakukannya, mereka juga bisa. Sedangkan kesalahan dan kejahatan adalah penyimpangan dari fitrah kemanusiaan, apa pun formalitas hidup mereka. Jika kesalahan bisa mengenai mereka, ia juga bisa menimpa kita.

Kebenaran itu diusahakan, dibuktikan dan diwujudkan. Bukan diklaim secara otomatis bahwa ia hanya milik seseorang dan yang sepikiran.

Kebenaran dan kebaikan tidak otomatis selalu bertengger di atas surban putih dan tutup kepala yang bersih. Ia juga tidak jarang melekat erat dalam kulit muka yang kasar dan mulut yang lebih banyak diam.

Pengetahuan itu bertingkat. Tingkat yang di bawah tidak bisa melampaui tingkat di atasnya. Sedangkan tingkat yang lebih tinggi, telah melampaui apa yang telah dilaluinya saja..

Karena setiap orang menilai sesuatu sesuai tingkat pengetahuannya, maka tidak mungkin memaksanya untuk menilai sesuatu berdasarkan pengetahuan yang belum dimengerti.

Juga tidak mungkin memaksa orang yang sudah mengerti suatu hal dengan cukup baik, untuk berpikir dan berbicara seperti orang yang belum mengerti banyak…

Setiap orang harus bersabar menghadapi ketidaktahuan dirinya, juga ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya…

Sebab, manusia biasanya memusuhi apa yang tidak ia ketahui, kecuali jika ia seseorang yang rendah hati… Orang yang rendah hati takkan menyerang orang lain, baik untuk hal yang ia pahami maupun yang belum ia mengerti…

Berbuat baiklah. Karena manusia, Nabi dan Tuhan akan melihat itu. Bukan siapa yang paling keras teriakannya. Bukan siapa yang paling tajam nyinyirnya. Bukan siapa yang paling kreatif mengkreasi dan menyebarkan fitnah dan dusta. Juga bukan siapa yang paling sering menyerang orang.

Tuhan pun mencintai orang-orang yang berbuat baik. Baik dari kalangan kita maupun mereka. Siapa saja ingin dicintai Tuhan, berarti ia mesti berbagi kebaikan. Berbuat baik, dan menyebarkannya. Jika ia ingin menjadi seorang religius, maka kenali dan cintai Tuhan, dan baik kepada hamba-hamba-Nya.

Menyampaikan kebenaran dan kebaikan itu tidak selalu disukai oleh semua orang. Selain ada yang menyukai, pasti ada saja yang membenci. Akan tetapi, selagi yang disampaikan itu diyakini benar, maka kebencian orang-orang itu mungkin hanya perjalanan waktu. Sementara saja. Mungkin sebagian dari mereka akan mengambil jarak meninggalkan kita, untuk sekian lama. Namun suatu saat mungkin mereka akan kembali mendekat, disapa atau menyapa.

Kesewenangan harus dibendung. Kekerasan harus dihentikan. Penyimpangan fitrah kemanusiaan harus diakhiri. Keadilan harus ditegakkan. Kedamaian harus diperjuangkan. Fitrah kemanusian yang menghendaki kesempurnaan, kebaikan dan kebenaran, harus terus dihidupkan.

Hari-hari selalu pergi dan berganti. Namun jiwa yang sederhana hanya akan merasakan kehadiran itu selalu dekat, bahkan ketika semuanya beranjak mengambil jarak. Hadirnya kebenaran. Hadirnya kebaikan. Hadirnya kedamaian. Hadirnya kesejahteraan. Hadirnya kebahagiaan. Jiwa sederhana adalah jiwa yang sesuai dengan fitrah kemanusiaannya.

Bagi yang berjiwa sederhana, semua kehadiran itu dekat saja. Dan dekat yang abadi itu berada dalam hati, bukan di mata.

Itulah religiusitas. Religius adalah ketika seseorang makin dekat dengan Tuhan dan berbuat banyak kebaikan kepada sesamanya.*

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer