Minggu, 26 November 2017 16:52

Rabiul Awwal, Bulan Mawlid dan Hijrah Rasul Saw

Ilistrasi Madinah
Ilistrasi Madinah [pixabay]

Penulis : Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung (SIB)

Limawaktu.id, - Malam 1 Rabiul Awwal, muhammad al-Mushtafa saw diperintahkan meninggalkan Makkah menuju Madinah. Sebelum pergi, beliau perintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan posisi beliau berbaring di atas pembaringan beliau.

Ali bertanya, “Apakah jika aku menggantikan posisimu di sini engkau akan selamat?” Nabi menjawab, “Ya, aku akan selamat.” “Baiklah, untuk keselamatanmu, aku akan tinggal di sini. Pergilah wahai Rasulullah. Aku akan hadapi mereka semua,” jawab Ali.

Ali mengenakan pakaian Nabi dan berselimut dengan selimut Nabi, di kamar tempat Nabi biasa beristirahat dan memejamkan mata beliau. Sementara Nabi Agung itu segera pergi pada tengah malam, saat seratusan pemuda pemburu hadiah mengintai di sekitar rumah, dengan tombak dan pedang terhunus, bermaksud membunuh beliau, tertidur berkat doa Nabi dan dengan izin Allah…

Sebelum meninggalkan Makkah, beliau bertemu Abu Bakar, dan bergegas pergi meninggalkan Makkah, menuju Yatsrib (kelak disebut Madinah hingga sekarang), ditemani seorang pemandu jalan (guide). Untuk mengecoh para pemburu nyawa Nabi, beliau memutar haluan, tidak langsung ke arah Yatsrib.

Saat perjalanan menuju Yatsrib, beliau dikejar-kejar para pemburu hadiah, dan sempat bersembunyi di Gua Tsur dengan Abu Bakar. Saat Abu Bakar ketakutan ketika para pemuda itu sudah mengelilingi gua, Nabi memberi nasihat, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…”

Singkat cerita, Sang Thaha bersama Abu Bakar ini selamat dari kejaran mereka. Setelah perjalanan gurun sahara yang tandus, dan mendaki gunung batu yang terjal dan sulit, akhirnya beliau sampai di Quba, pada tanggal 8 Rabiul Awwal. Delapan hari sudah beliau menempuh perjalanan. Dan kini beliau tinggal sementara di Quba, menunggu rombongan yang dipimpin Ali datang dari Mekkah.

Quba sudah dekat dari Yatsrib. Dan orang-orang Yatsrib sudah tahu Sang Yaasiin telah kian dekat dengan mereka. Mereka pun bersiap-siap menyambut kedatangan rasul Mulia itu di negeri mereka.

Sementara Nabi tetap tinggal di Quba, bahkan mendirikan masjid, Masjid Quba. Mengapa beliau tidak segera menuju Yatsrib, untuk memastikan semuanya lebih aman? Karena di tempat ini beliau menunggu Ali dan rombongannya, termasuk keluarga beliau, sampai di Quba.

Bagaimana dengan Ali di Makkah pada malam Hijrah tanggal 1 Rabiul Awwal itu? Ketika para pemuda itu terbangun, lalu masuk ke kamar Rasul, mereka marah karena orang yang mereka cari sudah pergi. Mereka melampiaskan kemarahan kepada Ali yang menggantikan Nabi. Mereka memukul, menendang, dan menyakiti sepupu Nabi ini. Dan Ali tidak mau menghindar, apalagi melawan.

Padahal Ali adalah seorang pendekar digdaya yang kelak akan membunuh para jawara Quraisy di hampir semua peperangan yang ia ikuti. Ini adalah satu-satunya Ali tidak membalas kontak fisik yang menyerangnya. Malah ia sengaja memperlama dan memancing mereka untuk terus memukuli dan menyiksanya. Mengapa?

Karena, Ali berpikir, semakin lama mereka menyiksa dirinya, maka semakin banyak waktu bagi Nabi untuk semakin menjauh dari Makkah. Sehingga para pemuda itu kian jauh untuk mengejar Nabi.

Ketika akhirnya para pemuda itu tersadar dengan strategi Ali, dan akhirnya mereka pergi meninggalkan Ali dan bergegas mengejar Nabi. Ketika para pemuda itu telah pergi meninggalkan rumah Nabi, Ali bersiap-siap, menghubungi keluarga dan kerabat, untuk menyiapkan perjalanan hijrah menyusul Rasul…

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan gurun dan gunung batu, sambil menghindari intaian dan kejaran para musuh. rombongan Ali sampai di Quba menemui Nabi. Dan setelah memastikan semuanya siap, Nabi berangkat bersama rombongan, ke Yatsrib. Disebutkan bahwa rombongan hijrah Nabi saat memasuki Yatsrib dari Quba sekitar tujuhpuluhan orang.

Di Yatsrib, para penduduk bersuka cita. Ada yang naik ke loteng-loteng rumah. Ada yang memanjat pohon. Saking ingin melihat rombongan datang saat dari kejauhan.

Saat Nabi kian dekat memasuki gerbang Madinah, para warga Madinah berbaris di sepanjang jalan, sambil memuji-muji Rasul, menyebut-nyebut beliau dengan penuh kekaguman. Sebagian menangis haru. Sebagian menjerit histeris, karena Nabi Suci yang lama dinanti-nanti kini telah datang di negeri mereka.

Berkali-kali utusan mereka datang ke Makkah, untuk berbaiat kepada Nabi. Dari para utusan mereka mendengar bagaimana akhlak agung Nabi diceritakan, bagaimana wajah indah Rasul digambarkan. Dan mereka kian rindu ingin segera bertemu.

Sekarang, Lelaki Agung yang Terpilih itu ada di hadapan mereka, melintasi barisan mereka. Dengan mengendarai unta, beliau menyapa para warga Yatsrib. Dan para warga kian terpana, terus memandang wajah Nabi yang mulia dan damai. Rasa cinta mereka sangat dalam…

Mereka masih berbaris, dan masing-masing berharap agar Nabi berkenan berhenti, lalu singgah dan tinggal di rumahnya. Namun Nabi memberitahukan bahwa beliau akan berhenti sesuai unta berhenti. Di rumah siapa saja unta berhenti, di situlah Nabi berhenti.

Para warga Yatsrib bersuka cita, menyambut kedatangan Nabi Mulia. Mereka mengucapkan salam, mereka menyenandungkan ucapan selamat datang, sebagaimana lazimnya menyambut tamu agung…. Dan satu hal, Nabi tidak melarang penyambutan dan penghormatan mereka kepada beliau…

Thala`al badru `alayna…
Min tsaniyyatil wada`..
Wajaba al-syukru `alaynaa…
Maa da`aa lillaahi daa`in…

Pada tanggal 12 Rabiul Awwal, Nabi Saw sampai di Madinah… Pada tanggal ini pula, menurut satu versi, beliau dilahirkan dari rahim suci Bunda Aminah binti Wahb.

Maka, sebagaimana warga Yatsrib bersuka cita, bergembira, dan berbahagia di hari kedatangan Nabi ke negeri mereka, maka kini kita pun berbahagia menyambut kelahiran beliau di hari ini. Sebagaimana mereka berdiri menyambut Rasul yang Agung, kita pun berdiri menyambut kelahiran dan kedatangan beliau… Dengan suka cita, gembira dan bahagia…

Salam `alayka ya Rasulallah…
Salam `alayka ya Nabiyallah…
Salam `alayka ya Habiballah..

Baca Lainnya