Rabu, 30 Mei 2018 12:56

Puasa, Madrasah Ramadhan dan Semangkuk Mie

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Sufi Musafir, Ust. Hb. Syarief Ja'far Shodiq bin Yahya

Ketika Bang Haji Rhoma Irama berdendang dengan bait:

"Kalau sudah tiada. Baru terasa. Bahwa kehadiranmu sungguh berharga"

Bagi kalangan anak muda yang kasmaran, tentu lagu ini hanya bercerita tentang betapa sedihnya orang yang kehilangan yang dia cintai.

Berbeda dengan kalangan sufi. Mereka memandang semua kehadiran dengan kacamata dan head set kesufian. Lagu itu bagi kalangan sufi adalah pengingat agar kita tidak tenggelam dalam kemabukan سكارا
dan menghayati makna kata شكرا
atau *terima kasih*.

puasa, sebenarnya bagaikan sebuah madrasah yang mendidik dengan karakter building dan praktek langsung bukan sekedar mengajarkan konsep yang masih tertulis di buku-buku teori tentang kehidupan.

Kata *sukaaran* سكارا
dalam al-Quran diartikan mabuk atau hilang akal akibat minuman.
Tapi dalam keseharianl kata sukar itu artinya gula, yang kemudian diadopsi orang inggris dengan sugar.

Kehidupan yang hanya penuh kemanisan akan memabukkan dan membuat kita lupa tujuan hidup bahkan lupa untuk menikmati rahasia terdalam dari *terima kasih*شكرا kepada pemberi kehidupan.

Dengan puasa, kita diminta untuk sejenak mengerem kemanisan-kemanisan agar tahu ada kenikmatan dalam hal itu. Rupanya, hadits yang berbunyi, berbukalah dengan yang manis-manis itu bisa lain dalam pandangan kacamata kaum sufi.

Orang yang lulus dari madrasah ramadhan salah satu cirinya, melahirkan sikap tidak terlena dengan kemanisan hidup dan bersyukur atas nikmat hidup dengan mengikuti the rule of life sebagai satu-satu nya way of life.

Madrasah ramadhan mengajarkan rasa syukur itu bukan hanya kepada Allah, juga kepada manusia. Bahkan dalam hadits ditegaskan "Sesiapa yang belum bersyukur kepada manusia, maka dinilai belum bersyukur kepada Allah".

Dalam al-Quran, kata perintah bersyukurlah kepada-Ku, juga digandengkan dengan kepada kedua orang tua, terutama ibu yang telah *wahnan alaa wahnin* mengandung dan melahirkan kita.

Mari kita simak kisah di bawah ini:
Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan meninggalkan rumah.
Saat berjalan tanpa tujuan ia baru sadar bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Ia lapar sekali, ingin makan semangkok bakmi. Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama didepan warungnya, lalu bertanya.

"Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?"

"Ya, tapi aku tidak punya uang," jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan memberi gratis".

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" tanya pemilik warung.

"Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yang baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi sedangkan ibuku telah mengusirku dari rumah".

Kamu seorang yang baru kukenal tapi begitu peduli padaku.

Pemilik warung itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu; renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu, sedangkan ibumu telah memasak nasi dan lain-lain setiap hari sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya."

Anak itu kaget mendengar hal tersebut. Mengapa untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru ku kenal aku begitu berterima kasih, tapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku tak pernah berterima kasih.

Anak itu segera bergegas pulang dan begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah cemas.

Ketika melihat anaknya, kalimat pertama-tama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak.., kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan menangis dihadapan ibunya.

Kadang satu kesalahan, membuat kita begitu mudah melupakan kebaikan yang telah kita nikmati tiap hari.

Sebelas bulan sebelum kita masuk madrasah ramadhaniyah, kita benar-benar *sukaaran* mabuk kemanisan hidup hingga lupa untuk berterimakasih.

Puasa menjadikan kita menyadari betapa berharganya seteguk air dan sebutir kurma. Puasa yang dihayati benar akan melahirkan kita makhluq yang bersyukur.
لعلكم تشكرون

Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih untuk suatu pertolongan kecil yang kita terima.

Namun kita sering tidak sadar dan lupa berterima kasih akan kebaikan-kebaikan dari orang-orang yang sangat dekat dengan kita.

Hidup itu indah, kalau kita pandai berterima kasih dan bersyukur.

Selamat menikmati hari puasa, sehat dan ceria selalu. Sebagai tadarus kita bersama.

Baca Lainnya