Kamis, 9 Mei 2019 10:46

Nu'man Tsabits, Hafiz Quran Tunanetra yang Gemar Sepakbola

Reporter : Fery Bangkit 
Nu'man Tsabits seorang penghafal Al-Quran atau Hafiz Quran.
Nu'man Tsabits seorang penghafal Al-Quran atau Hafiz Quran. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Saat kecil, tak pernah terbesit dalam diri Nu'man Tsabits untuk menjadi seorang penghafal Al-Quran atau Hafiz Quran. Terlebih lagi, pria 24 tahun itu mengalami kebutaan sejak lahir.

Sejak kecil, pria lajang kelahiran Majalengka, 5 Mei 1995 itu malah lebih menyukai olahraga si kulit bundar alias sepak bola meskipun ditengah keterbatasan yang ia alami.

Saat ditemui di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Kota Cimahi, Jalan Sukarasa, Citeureup, Kota Cimahi, Nu'man menuturkan, sejak lahir, kondisi matanya sudah dalam keadaan tak bisa melihat atau tunanetra.

Menginjak usia 6 tahun, ia sempat menjalani operasi mata. Bahkan, kata Nu'man, operasinya itu berjalan sukses dan dokter sudah menyatakan bahwa matanya bisa melihat kembali.

"Iya sempat dibuka perban, dites sama dokter, memang bisa melihat," ujar Nu'man, kemarin.

Namun, mimpi buruk itu tetap mengintainya. Sebab, setelah tuntas menjalani operasi, Nu'man malah melanggar pantangan dari dokter. Ia tak boleh banyak beraktifitas dan matanya tak boleh terkena air dulu sebelum dinyatakan sembuh oleh dokter.

"Tapi waktu itu saya nakal, malah mandi di sungai dan sebagainya. Jadinya, ya begini," tuturnya.

Meski menyandang anak berkebutuhan khusus, tapi semangatnya untuk menuntut ilmu tak pernah padam. Berbeda dengan lima sodaranya. Jika kakak dan adiknya menempa ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes), sementara Nu'man memilih pendidikan formal.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Nu'man pun gamang. Dalam hatinya, ia sangat ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi alias kuliah. Tapi, kendala ekonomi membuatnya menahan keinginan itu. 

"Bingung mau kuliah gak ada biaya, sementara orang tua harus biayain adik-adik sekolah" katanya.

Kemudian, orang tuanya menyarankan Nu'man menyenyam pendidikan di Ponpes. Saran itupun diikutinya. Ia masuk Ponpes di Cirebon. Dari sanalah, kegemarannya dalam membaca dan menghafal Al-Quran semakin tumbuh.

Meski ditengah keterbatasan, tapi itu sama sekali bukan penghalang baginya. Sebab, masih masih ada Al-Quran khusus bagi penyandang tunanetra seperti dirinya, yakni menggunakan braile.

"Biasa menghafal Al-Quran braile. Ternyata enak juga menghafal Al-Quran," ucapnya.

Berkat niat dan kesabarannya, akhirnya Nu'man bisa menghafal hingga 30 juz. Puluhan juz itu hanya dihafalnya dalam kurun waktu empat tahun. Tak ada metode khusus, ia hanya menghafal berdasarkan suasana hati. 

Jika semangatnya tengah tinggi, Nu'man bisa menghafal hingga seperempat juzz dalam sehari. "Kalo lagi gak semangat, 1 (satu) ayat ajak gak hafal. Intinya, niat, sabar dan harus istiqomah," ujarnya.

Nu'man tak mau kemampuannya itu hanya untuk dirinya sendiri, tapi dibagikan kepada yang lain. Gayung pun bersambut. Tahun 2018, ia mendapat kesempatan untuk membantu mengajar ngaji di SLBN A Kota Cimahi.

Kini, setelah menjadi pengajar di sekolah khusus itu, ia bertekad untuk melanjutkan pendidikannya ke perguguran tinggi. Salah satu perguguran tinggi di kawasan Tamansari, Kota Bandung menjadi tujuannya.

"Iya pengennya lanjut kuliah," tandasnya.

Kisah yang dialami Nu'man sendiri bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi semua orang. Sebab, meski memiliki keterbatasan, ia tetap memiliki semangat tinggi untuk belajar.

Baca Lainnya