Senin, 26 Maret 2018 15:31

Menanam Cinta, Menabur Kasih

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Oleh: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Jangan hiraukan orang yang membenci, apalagi mendengki. Sebab apa pun kebaikan yang kita lakukan takkan membuat mereka menghentikan kebencian dan kedengkian.

Mereka baru berhenti membenci jika hati telah dibersihkan. Dan itu pasti tidak mudah, apalagi jika kebencian sudah dijadikan kebiasaan. Lebih sulit lagi jika kebencian sudah menjadi karakter buruk yang mempengaruhi hidup. Jika sudah begini, maka hanya akhir kehidupan yang bisa menghentikan detak kebencian.

Abaikan kebencian orang-orang. Apalagi sebagian dari mereka adalah orang-orang yang belum paham sesuatu dengan benar. Atau tidak mau tahu tentang kebenaran. Atau mengunci diri dan hati dari penjelasan dan pemahaman. Penjelasan apa pun takkan membuat mereka mendengar dan menerima dengan dada yang lapang.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Kita fokuskan potensi diri untuk berbuat baik, menebar cinta dan menabur kasih sayang kepada sebanyak-banyaknya manusia. Manusia kebanyakan itulah yang lebih membutuhkan kita, bukan para pembenci itu. Mudah-mudahan saja suatu saat nanti cinta kita pun bisa menyentuh hati para pembenci.

Lihatlah di dekat sana, atau sedikit agak jauh, atau lebih jauh lagi. Ada banyak orang yang harus kita dekati, kita temui, kita sapa dan tanya, kita dengar dan bantu mereka. Merekalah sebenarnya yang menjadi energi kita untuk bekerja. Untuk mereka kita melayani, karena merekalah yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Mereka membutuhkan cinta, dan kitalah yang harus mewujudkannya.

Allah Swt sudah menetapkan sunnatullah yang takkan berubah. Yakni, bahwa siapa saja menanam cinta, ia akan memanennya. Dan kita memilih takdir sebagai pecinta, bukan pencela. Memilih takdir sebagai pekerja yang mewariskan prestasi, bukan sebagai pencaci yang tidak mampu menghargai diri.

Cinta adalah energi besar bagi siapa saja, untuk mampu bekerja tanpa penat dan lelah. Melayani sesama adalah jalan hidup orang-orang merdeka, sabiilul ahraar.

Jika kita ingin hidup merdeka, layanilah sesama. Bekerja melayani mereka. Menanam cinta sebanyak-banyaknya. Menabur cinta seluas-luasnya.

Itulah jalan kita.

Baca Lainnya