Senin, 21 Mei 2018 16:11

Kiyai dan Pemuda

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Sayyid Hamid Mirshamsi

Suatu hari ketika azan berkumandang, seorang kiayi pada sebuah masjid di kota Teheran, sedang mengerjakan wudhu di halaman masjid. Pada saat itu, masuklah seorang pemuda ke dalam masjid dengan cepatnya, lalu ketika si kiayi telah menyelesaikan wudhunya dan mau masuk ke tempat imam masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah, tiba-tiba ia melihat si pemuda sedang keluar dari masjid dengan terburu-buru.

Kiayi berfikir bahwa si pemuda telah mengerjakan shalat furada (sendiri, tidak berjamaah) dengan terburu-buru, dan secepat itu (berarti shalatnya sangat cepat dan tak berkualitas).

Lalu si kiayi berniat menasihati si pemuda agar dia memperbaiki kualitas shalatnya.
Dan kiayi pun memanggil si pemuda, "wahai fulan, apa yang engkau kerjakan tadi didalam masjid ?"

Si pemuda menjawab:
"Tdk ada apa - apa."

Beliau bertanya lagi, dan si pemuda pun menjawab dengan rasa malu: "Tidak ada apa apa kiayi."

Si kiayi bertanya: "Lalu kenapa engkau masuk ke dalam masjid ?"

Si pemuda menjawab:
"Aku hanya datang untuk menyatakan kepada Allah bahwa aku bukan seorang pendurhaka" (seorang yang tidak ingin taat Kepada Allah).

Si kiayi sangat kaget dengan jawaban itu, dan memulai memikirkan tentang jawaban si pemuda tadi.

Jadi katanya si kiayi sampai di akhir umurnya, setiap waktu shalat ketika sedang berwudhu, selalu mengulangi kalimat itu:

"Ya Allah aku bukan pendurhaka, ya Allah aku ..."

Berarti, si kiayi yang tadinya hendak menasihati pemuda itu, justru malah mendapatkan suatu pelajaran yang penting dari si pemuda tersebut,
Yaitu perasaan "taqsir"
Artinya, si pemuda mengakui shalatnya tidak berkualitas dan tidak layak, bahkan dia malu untuk menyatakan bahwa dia telah mengerjakan shalat secepat itu.

Dan kita bisa mengerti dari jawaban si pemuda, bahkan dia tidak berharap pahala untuk shalatnya di sisi Allah, karena dia mengakui bahwa shalatnya tidak ada nilai.

Jadi yang si pemuda harapkan dari Allah, itu hanya "maaf", karena kekurangan dan kelemahannya dalam ibadah, serta dia benar-benar ingin taat kepada Allah, walaupun dengan kelemahan dan kekurangan, yang telah dia akui.

Ternyata hal tersebut juga termasuk maqam "taqsir".
Jangan disalah artikan, dengan kisah ini tidak bermaksud melemahkan pentingnya kualitas, bentuk/penampilan shalat, tetapi maksud dari pembahasan tersebut ibarat bahwa kita harus berusaha untuk memperbaiki ruh dan intinya shalat kita yaitu:

KHUSYU dalam shalat yang sesungguhnya khusyu dalam shalat itu dibangkitkan dari dalam, kemudian pindah ke anggota tubuh dengan dirinya sendiri.

Jika engkau ingin mengetahui artinya khusyu dalam shalat, maka lihatlah perasaan si pemuda dalam kisah tersebut.

Sebuah hadis dari Nabi saw yang mana beliau mengatakan:
"Khusyu dalam shalat berawal dari kalbu, kemudian pindah ke angota tubuh seorang manusia."

Lalu beliau melanjutkan:
"Barang siapa khusyu tubuhnya lebih/melebihi daripada khusyu kalbunya, maka dia di sisi kami adalah munafik."

Marilah kita berusaha untuk memperbaiki kualitas bathin dan intinya amalan kita.
Sesungguhnya yang Allah SWT lihat itu bathin dan ruh amalan kita.

Janganlah kita menjadi bagaikan manusia ahli agama yang penampilannya/lahirnya lebih baik dari bathinnya.

Jalaludin Rumi dalam sebuah Syair yng didasarkan dari Hadis Qudsi (perkataan Allah SWT Kenapa Nabi Musa as.) mengatakan dari sisi Allah:

ما برون را ننگریم و قال را
ما درون را بنگریم و حال را
ناظر قلبیم اگر خاشع بود
گرچه گفت لفظ نا خاضع رود

*"Kami tdk melihat bentuk/lahir dan perkataan,
Kami melihat dalam dan kualitasnya hati,
Kami melihat kalbu, apa itu memiliki khusyu atau tidak,
Walaupun perkataan mulut tidak berbentuk rendah"*

Baca Lainnya