Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]
Spirit

Kemanapun kau Memandang, disitu Wajah-NYA

Oleh: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Ber-Tuhan itu kebutuhan dasar setiap manusia. Karena dalam diri setiap orang telah ditiupkan fitrah untuk ber-Tuhan. Siapa pun mereka, di mana pun hidupnya, kapan pun generasinya. Bahkan, beragama ataupun tidak mereka.

Ber-Tuhan tidak selalu beragama, sebagaimana beragama tidak selalu ber-Tuhan. Agama mengajak dan membimbing manusia untuk menjadi hamba Allah, yang mendekat kepada-Nya. Karenanya, jika agama menjauhkan seseorang dari Tuhan, maka periksa keberagamaannya.

Ada orang yang ber-Tuhan secara hanif, mengakui dan berpasrah diri kepada-Nya. Namun ia tidak menyatakan diri mengikuti suatu agama tertentu yang terlembagakan. Apalagi, jika agama itu dipakai dan dijadikan untuk memuaskan hasrat nafsu: ngalajur nafsu, ngumbar amarah.

Sebaliknya, ada orang yang mengaku beragama. Namun akhlak keberagamaannya tidak mencerminkannya sebagai hamba Tuhan, yang merasa lemah dan hina di hadapan-Nya, menghargai sesama makhluk-Nya, dan merasa sejajar berharap karunia-Nya.

Tentang siapa seorang Muslim, Nabi Saw bersabda, "Seorang Muslim adalah orang yang lidah dan tangannya tidak mengganggu sesama Muslim lainnya." Jadi, kalau ingin menjadi Muslim seperti yang Nabi inginkan, jaga lidah dan tangan dari mengganggu sesama. Baik dengan ucapan, maupun tulisan.

Naluri ber-Tuhan ada pada setiap orang, hatta orang yang mengaku tidak beragama. Bahkan orang yang mengaku ateis sekalipun. Betapa pun besarnya kekufuran seseorang, naluri bertuhan itu tetap ada. fitrah itu tetap ada, sekalipun diingkari dan dilupakan.

Pada saat yang sama, kehidupan orang pasti berbeda-beda. Mereka memang dilahirkan sama, namun takdir hidup mereka berbeda.

Ada yang lusuh, ada yang terasuh. Ada yang amis, ada yang manis. Ada yang hidup terlunta, ada yang hidup dalam griya. Ada yang sengsara, ada yang bahagia. Ada yang putus asa, ada yang terlena. Ada yang ketakutan, ada yang penuh harapan. Ada yang diurus, ada yang mengurus.

Namun kepada mereka semua, panggilan Allah sama. "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas..." "Bergegaslah menuju ampunan Tuhan kalian, dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi..."

Dia mengajak mereka kembali kepada-Nya, dan selalu menyambut mereka apa pun kondisi dan konteksnya.

Maka, perhatikanlah keber-Tuhan-an dalam diri dan hati. Periksalah, apakah Dia masih sering diingat, ataukah dilupakan, karena alasan kesibukan, keterlenaan, atau sikap masa bodoh selama ini.

Seseorang saat ini bisa jadi sedang bahagia, bisa jadi pula tengah menderita. Namun, siapa pun ia, ingatlah Tuhan, agar Dia mengingatnya. Dan bergegaslah menyimpuhkan hati dan kaki di hadapan-Nya. Temui Dia dengan sukarela, sebelum harus kembali kepada-Nya dengan terpaksa.

Baca Lainnya