Senin, 19 Maret 2018 13:41

Kedigdayaan Pikiran

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Penulis: Fachrurrozi Majid, Nurcholish Madjid Society (NcMS) Jakarta

Jenius abad ini, Stephen Hawking, telah berpulang. Rahasia Tuhan tak pernah bisa ditebak secara pasti oleh manusia. Kalau sekadar mengira mungkin masih bisa. Tak bisa lebih dari itu.

Ada yang sehat-bugar tiba-tiba meninggal dunia. Hawking sudah lama menderita penyakit saraf amyotrophic lateral sclerosis (ALS), dengan gejala kram, otot tegang, serta sulit mengunyah dan menelan.

Persisnya, saat berusia 21 tahun, di umur yang tengah produktif-produktifnya berkarya untuk seorang ilmuwan. Dari berbagai catatan soal penyakit ini, biasanya penderita hanya mampu bertahan 5-10 tahun, bahkan kurang dari itu, tapi Hawking bertahan hingga 50 tahun.

Dokter yang mendiagnosanya meramalkan Hawking hanya bertahan 2 tahun sejak diagnosa itu keluar. Belum ada yang tahu apa yang membuatnya demikian? Apa sebetulnya rencana Tuhan atas ini? Kalian bisa menerkanya?

2005 silam pun demikian. Cak Nur kala itu secara matematis sudah tak lagi bisa bertahan saat dirawat di rumah sakit Pondok Indah, sepulang dari perawatan di luar negeri.

Naik-turun nafasnya benar-benar bergantung pada alat-alat yang dipasang para dokter. Hebatnya, meski dalam keadaan begitu, Cak Nur masih mengikuti dan kadang membetulkan bacaan al-Quran Bu Omi Komaria Madjid, sang istri, yang selalu berada di sisinya kalau keliru membaca Bacaan Mulia.

Syahdan, sang istri kaget bukan kepalang ketika disela begitu. "Padahal saya pelan-pelan sekali membacanya, Rozi, supaya tidak mengganggu istirahat Cak Nur," kata Bu Omi kala ngobrol di rumahnya.

Maklum, istirahat dalam keadaan seperti itu sangat penting buat Cak Nur. Sebetulnya, apa rencana Allah atas Cak Nur? Siapa bisa menebaknya?

Bagi saya, peristiwa itu menunjukkan turunnya mukjizat Allah kepada hamba yang dirahmati-Nya. Dalam keadaan yang tak berdaya sekalipun, Cak Nur masih merapalkan doa, bahkan sempat-sempatnya membetulkan bacaan tajwid sang istri.

Kala terbaring lemah, sang dokter yang secara intensif merawat beliau, pernah bilang bahwa Cak Nur masih bernafas karena pikirannya masih terus bekerja. Jika tubuhnya memungkinkan, Cak Nur masih mengungkapkan pikirannya soal situasi bangsa dan negara yang menjadi keprihatinannya belakangan.

"Masih banyak persoalan yang dipikirkannya saat istirahat begitu pun," lanjut Omi.

Itulah bentuk kedigdayaan pikiran. Hanya orang-orang besar dan ikhlas yang mampu memilikinya.

Boleh jadi karena itu ruhnya masih melekat dalam jiwanya yang fana. Seperti ada yang dipikirkannya secara serius. Cak Nur baru meninggal kalau tak lagi memikirkan apa-apa lagi.

Ya, begitu adanya. Saat Cak Nur berhenti berpikir dan keluarga mengikhlaskan, Cak Nur benar-benar pergi menuju alam barzah. Begitu penjelasan dokter lewat cerita yang saya terima dari Bu Omi yang sabar hari mendampinginya.

Tulisan ini sudah lama saya buat, namun baru saya unggah hari ini, di sini, sebagai penghormatan saya atas Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang lahir tepat hari ini, 17 Maret 1939 silam.

Cak Nur, dan beberapa pembaharu Islam lainnya, berjasa karena telah menampilkan wajah Islam yang terbuka, toleran, hormat terhadap orang lain, dan rahmat bagi alam semesta.

Saya tak pernah bosan mengatakan bahwa hijrah saya dari Daar el-Qolam ke IAIN Jakarta saat itu untuk berguru kepada Cak Nur lantaran mengagumi keterbukaan pikirannya dan keberaniannya meminta Pak Harto mundur dari jabatan presiden.

Karena sudah sibuk mengajar di Pascasarjana IAIN Jakarta dan Universitas Paramadina, beliau tak sempat lagi mengajar di jurusan Bahasa dan Sastra Arab yang saya pilih. Akhirnya, saya pun berburu ceramahnya ke berbagai forum yang dia tampil sebagai pembicara.

Semoga Allah menempatkanmu di surga bersama orang-orang saleh yang selalu berbagi kebaikan dan kebenaran selama hidup di dunia dulu.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba'dahu wagfirlana wa lahu.