Minggu, 22 April 2018 14:27

KEBEBASAN DAN TOLERANSI, MASIHKAH KITA MILIKI?

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net Edited]

Penulis: Prof. DR. Mulyadi Kartanagara, Dosen UIN Syarif Hidayatullah

Ketika bicara kebebasan berpikir dan toleransi di negeri kita, indonesia, dan setelah mengajar dan hidup di Malaysia dan Brunei, saya selalu membanggakan kebebasan berpikir dan keterbukaan masyarakat kita terhadap berbagai ragam pemikiran bahkan pemikiran agama.

Dan kebebasan berpikir seperti itu, menurut saya dan juga sudah saya tulis di buku-buku saya, adalah penting sebagai syarat bagi terbangunnya sebuah peradaban dan sintesa-sintesa besar dalam pemikiran manusia.

Tetapi semakin ke sini, saya semakin ragu apakah pernyataan saya di atas masih berlaku? Semakin terasa betapa pemikiran agama semakin mengalami pengerucutan.

Sekat-sekat semakin banyak dipancangkan di segala penjuru, dan penafsiran agama yang sempit, literal dan dogmatik ssmakin mewarnai wacana publik.

Kearifan-kearifan para sarjana dan pujangga Muslim, para allamah, para hukama (filosof) dan awliya (sufi), semakin terpinggirkan dan digantikan dengan wacana-wacana keagamaan yang semakin mencekam, menakutkan, ancaman neraka.. sedangkan sisi cinta, kasih sayang, keindahan, keluhuran budi dan keindahan spiritual, intelektual, seni dan humanis semakin tersingkirkan.

Akibatnya, keindahan dan keagungan Peradaban yang pernah menghiasi sejarah panjang kejayaan Islam semakin sirna dari benak generasi muda kita, dan tergantikan dengan imej kekerasan, bentrokan, teriakan kebencian, peperangan dan pertumpahan darah, seperti yang diperlihatkan di depan mata para pemuda kita oleh kelompok ektrim Dais, boku haram al-qaidah dsb.

Kearifan para awliya yang sangat halus, toleran terhadap perbedaan, dan cara dakwah yang sangat persuasif dan efektif dengan menggunakan perangkat-perangkat budaya lokal, adalah warisan sangat berharga dan sangat cocok dengan kepribadian bangsa kita, hendaknya terus kita pelihara sebagai cara yang sangat cocok untuk membatasi dan membendung lajunya cara-cara keras dan intoleran yang akhir-akhir ini telah semakin merebah di tanah air yang sangat toleran dan cinta damai ini.

Marilah kita berdoa kepada yang maha kuasa, semoga kita diberikan kekuatan dan kemampuan untuk melestarikan nilai-nilai, cara-cara dan kearifan para keluhur kita yang telah membentuk suatu kepribadian bangsa yang sangat luhur yang menghargai perbedaan dan keragaman yang ada di masyarakat yang telah menjadi takdir dan milik abadi negeri tercinta ini.

Baca Lainnya