Selasa, 19 Desember 2017 8:00

Karpet Merah Tuk Sang Kekasih

Ust. Habib Syarif Ja'far Shadiq bin Yahya, Alumnus Pondok Modern Gontor.
Ust. Habib Syarif Ja'far Shadiq bin Yahya, Alumnus Pondok Modern Gontor. [Limawaktu]

Penulis : Ust. Habib Syarif Ja'far Shadiq bin Yahya, Alumnus Pondok Modern Gontor.

Untuk menyambut kehadiran para utusan, Sang Maha Rahman membuka jalan dengan  memberi tanda berupa mukjizat-mukjizat , bak seorang raja menyambut calon permaisurinya. Kita ingat bagaimana mukjizat yang terjadi saat menyambut Nabi Musa as, padahal Fir'aun menanam ranjau dengan membunuhi semua bayi lelakinya, tetapi Allah bahkan memuluskan jalan nabiNya dengan menyelamatkan bayi laki-laki yang dikhabarkan dalam nightmare Fir'aun akan menggulingkannya, menyelundupkannya ke istana atau sarang sang genocide terjahat saat itu. Begitupun saat nabi Isa as lahir, Allah menyembunyikan lewat rahim yang mereka tiada diduga, yakni seorang perawan suci penjaga tempat suci.

Dan banyak contoh lain pada nabi-nabi lain, yang intinya adalah bagaimana Allah menggelar karpet merah untuk menyambut kelahiran mereka para Anbiya alaihimusalam. Maka wajar jika Allah memberi tanda mukjizat lebih besar lagi untuk menyambut dan memuluskan kehadiran al-Musthofa Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Ketika Nabi Muhammad lahir, dinding istana Khosrow retak dan beberapa menaranya rubuh. Api kuil Persia padam. Danau sawah mengering. Berhala di Ka’bah tumbang. Cahaya dari tubuh Nabi naik ke langit dan menerangi tempat-tempat yang dilaluinya. Anusyirwan dan pendeta-pendeta Zaratusta mendapatkan mimpi yang menakutkan. Ketika lahir, Nabi Suci itu sudah disunat dan pusarnya pun sudah dipotong. Saat lahir kedunia, berkata, “Allahu Akbar, Alhamdulillah, Dia-lah yang harus disembah siang dan malam.”

Semua keterangan ini disajikan dalam naskah sejarah yang otentik dan dalam koleksi hadis. Memperhatikan fakta-fakta yang menyangkut Nabi Musa dan ‘Isa, yang dikemukakan di atas, tak ada dasaranya untuk ragu dalam penerimaan kejadian-kejadian ini.

Kita merayakan maulid Kanjeng Nabi SAW adalah dalam rangka menshalawatkan atau mengkoneksikan energi cinta kepada Allah melalui frekwensi al-Musthofa, sebab Allah sendiri berfirman

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Seorang muslim yang bershalawat dengan sepenuh penghayatan sama saja sedang menguatkan diri berdoa untuk mengikuti cahaya Allah dari ajaran Nabi Muhammad saw.

Frekwensi Maulid adalah the power of love kepada Nabiyurrahmah Sang Nabi yang penuh  cinta yang  membimbing kita dengan penuh cinta, tentang makna cinta dalam mengeja alif  ba ta cinta Sang Maha Cinta melalui surat-surat cinta-Nya tentang al-Islam atau kepasrahan dan kedamaian buah dari cinta.

Ciri-ciri yang benar-benar bershalawat adalah, sering memancarkan cinta  أفشوا السلامtebarkanlah cinta dan kedamaian!

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ

"Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” (QS.Al-An’am:54)

Seorang pecinta Kanjeng Nabi SAW senantiasa cinta  perdamaian.

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah.” (QS.Al-Anfal:61)

Seorang pecinta Nabi SAW selalu menghibur saudaranya dengan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman akan balasan cinta dari sang Maha Cinta.

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (QS.Al-Ahzab:47)

Seorang muslim yang memperingati Maulid Nabi SAW adalah muslim yang membentangkan karpet merah dalam hatinya dengan meruntuhkan menara-menara keangkuhan dan berhala-berhala kesombongannya setelah menyadari bahwa hanya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebaik-baiknya manusia yang patut dibanggakan dan ditauladani bukan dirinya. Allah memadamkan api saat menyambut kelahirannya, maka kitapun harus memadamkan api amarah agar taman hati kita bisa kita hiasi dengan cinta kepadanya dan keluarganya sebagaimana sabdanya:

أدبوا أولادكم حب نبيكم وحب أهل بيت نبيكم وحب قراءة القرآن

"Didiklah anak2mu cinta kepada nabimu, cinta kepada keluarga nabimu dan cinta kepada mengkaji al-Qur'an"

Allah telah mengkhitan dan menggunting pusar Nabi SAW saat kelahiran, kita pun begitu, karpet merah menyambut bahagia kelahiran kanjeng Nabi SAW tanda mencintai Nabi SAW semoga sudah bisa mengontrol syahwat duniawiyah.

Saat Kanjeng Nabi lahir, Allah menyambutnya dengan menggerakkan bibir sucinya mengucapkan tahmid dan tasyakur serta tahlil. Maka, karpet merah kita dalam bukti bahagia menyambut kehadiran al-Musthofa adalah mendidik diri serta generasi, setiap akan dan bangun tidur mengagungkan asma Allah agar hidup kita dalam bimbingan Sang Maha Cinta sehingga kita tergolong mereka yang laa khaufun alaihim walaahum yahzanun (tiada ketakutan dalam hidup dan tiada gundah gulana sebab hati penuh baik sangka kepada pemberi hidup). Dalam psikologi, keadaan akan tidur adalah keadaan yang sensitif untuk memasukkan file-file ke sub-concius kita. Itulah satu dari sekian faedah mengapa ada doa sebelum tidur. Sebab doa adalah upaya mempositif thinking kan alam bawah sadar kita. Orang yang salah dalam bertingkah bermula  dari falacy atau salah dalam ber thinking.

Dan itulah satu dari sekian hikmah mengapa dianjurkan adzan pada saat awal kelahiran seorang bayi muslim.

Kita mendengar bahwa akhlaq nabi SAW adalah al-Qur'an, maka apa karpet merah kita untuk mengenal kemuliaan Nabi Muhammad SAW, lalu menanyakan pada diri kita masing-masing, pantaskah kita disebut sebagai pengikut Nabi? Sudahkah kita meneladani cara hidup beliau sehari-hari? Atau selama ini sikap kita lebih mirip dengan musuh-musuh Nabi?

Ciri muslim yang benar mencintai Nabi SAW adalah berusaha untuk tetap teguh dan tegar serta sabar dalam menghadapi ujian dalam meraih cinta dari sang Maha Cinta.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah itu benar.” (QS.Ghafir:77)

Ciri lainnya adalah sikap tidak arogan tapi  tawadhu’ dihadapan kaum mukminin.

Kanjeng Nabi SAW adalah the best educator atau pendidik terbaik dalam memilih methodologi mendidik sesuai dengan audiennya بقدر عقولهم

Kanjeng Nabi SAW lebih dominan mendidik dengan methodologi quiz  yang mencerdaskan peserta didiknya. Dialogis, indoktrinasi bukan dogmatis.

Menurut para pakar pendidikan, guru yang benar-benar mendidik adalah yang bisa membawa peserta didiknya untuk berusaha belajar bukan yang mendikte dengan banyak materi hafalan tanpa pemahaman. Dan guru yg tawadu tidak melecehkan muridnya, apalagi melecehkan fisik muridnya.

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” (QS.Asy-Syu’ara:215)

Karpet merah kita dalam hal ini adalah, jika ada yang belum tahu apa yang kita tahu maka dengan penuh cinta dan bijak saat memberi tahu. Walau yang belum tahu itu terkadang bertanya dengan bahasa yang menyakitkan, tapi pecinta Kanjeng Nabi SAW akan berusaha menunjukkan cintanya itu dengan mencintai siapa saja termasuk kepada orang bodoh yang menghinanya. Bahkan, para pecinta Kanjeng Nabi SAW itu Mendoakan siapa saja sebagaimana Kanjeng Nabi SAW mendoakan umatnya.

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS.At-Taubah:103).

Jika ada orang mengaku cinta Nabi SAW bahkan mengaku ulama atau imam besar sekalipun tapi mendoakan buruk orang yang dianggap bersebrangan dengannya, sungguh dia hanya mengaku saja sebab sejatinya ia mengikuti  akhlaq orang-orang yang memusuhi Kanjeng Nabi SAW.

Sebab ulama sejati pecinta Kanjeng Nabi SAW akan berdakwah dengan cara yang santun dan indah.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS.An-Nahl:125)

Dan karena para pecinta kanjeng Nabi SAW akan bersikap Lemah lembut kepada siapa saja.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS.Ali ‘Imran:159)

Bdtapa banyak kisah kelembutan Kangjeng Nabi SAW yang semoga saja semakin kita sering dengar semakin merasuk ke sub-concius kita. Di antaranya kisah bagaimana dengan senyum dan penuh kasih sayang beliau,mengubur air kencing orang badawi yang buang air di masjid nabawi. Atau kisah beliau tidak marah bahkan membersihkan kotoran yang ditinggalkan tamu beliau di kamarnya.

Sikap Kangjeng Nabi SAW yang Mudah memaafkan dan memohonkan ampun untuk mereka inilah suri tauladan yang semoga bisa kita pancarkan dalam keseharian kita.

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS.Ali ‘Imran:159)

Para perindu Kangjeng Nabi SAW kerinduan kita ini akan semakin dimudahlan oleh Allah untuk meraih syafaat kanjeng nabi saw jika kita terus berusaha membentangkan karpet merah tanda kebahagiaan atas kelahiran nabi SAW dengan membersihkan dada kita dari berhala2 kemurkaan dan Membalas keburukan dengan kebaikan.

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik.” (QS.Al-Mu’minun:96)

Maka seorang pecinta kanjeng Nabi SAW akan memberi kesempatan kepada yang bersalah dan memaafkan.

فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ

“Terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah.” (QS.Al-Mumtahanah:12)

Sikap diatas karena muslim itu harus berfikiran positif atau Menaruh kepercayaan kepada kaum mukminin.

قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ ۚ

Katakanlah, “Dia mempercayai semua yang baik bagi kamu, dia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” (QS.At-Taubah:61)

Para pecinta kanjeng Nabi SAW yang memiliki sifat sidiq, amanahm fathonah dan tablegh.

Kegagalan dakwah di negri kita adalah, karena banyak para dai yang langsung tablegh sebelum memiliki sifat jujur dalam mengkaji, amanah dalam berjanji, fathonah cerdas dalam berargumentasi dan tablegh atau bijak dalam berkomunikasi.

Kanjeng Nabi SAW itu adalah komunikator handal yang mendahulukan titik kulminasi yang sama saat terjadi dialog antar keyakinan. Maka, begitupun para pecinta yang mengikutinya, kita ingat bagaimana Ja'far bin Abi Thalib yanb bergelar  at-thoyyar berkomunikasi yang indah dengan raja beragama nasrani. Beliau menyampaikan persamaan-persamaan antara ajaran Islam yang dibawa kanjeng Nabi saw dan Islam yang dibawa nabi Isa as.

Saat, ini, kita harus bentangkan karpet merah kebahagian menyambut kelahiran Kanjeng Nabi SAW dengan mengikuti langkahnya dalam berinteraksi intra persona di masarakat yang heterogen ini. Semoga pemerintah segera memverifikasi para penceramah sehingga negeri kita bersih dari kaum intoleran dan membahayakan NKRI serta mencoreng nilai Islam yang mendidik dalam berinteraksi sosial. Bagaimanakah salah satu langkah kanjeng Nabi saw dan para Aimmah dari itrahnya saat berdakwah ? Diantaranya adalah;

Senantiasa mencari titik kulminasi kata yang sama dengan membangun kesepakatan-kesepakatan makna kata terdahulu bukan mendahulukan perbedaan-perbedaan.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

"Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu.”

لا ينطق عن الهوى إن هو وحي يوحى

Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata-katadengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang Allah wahyukan.

Maka jika kita pun mencintai Kanjeng nabi, mari bentangkan karpet merah menunjukkan kebahagiaan kita menyambut kelahiran Nabi SAW dengan mengikuti langkahnya yang selalu bersama alqur'an.