Senin, 25 Desember 2017 16:36

Kapan Kematian Terjadi ?

Illustrasi
Illustrasi [Pixabay]

Oleh Ashoff Murtadha

Direktur Studi Islam Bandung

“Kang, Kapan Kematian terjadi?” tanya seorang lelaki muda yang berpapasan di playing ground dekat rumah. Ia bertanya demikian setelah memastikan nama saya benar dalam perkiraannya. Sebenarnya ia sedang lari-lari di jogging track dan lapangan. Sama dengan saya, sambil mengasuh anak balita yang bermain bola di lapang dan berlari-lari.

Saya tidak mengenalinya, namun sepertinya ia cukup mengenali saya. Indikasinya, pertama, ia memanggil nama saya dengan benar begitu berpapasan. Kedua, ia menyebut dua nama orang yang berkaitan dengan kehidupan saya. Ketiga, ia mengenali lembaga bahasa yang saya dirikan dan jalankan hingga saat ini. Keempat, ia menyebut diksi yang biasa saya pakai juga.

Setelah menanyakan siapa namanya, saya bertanya, “Akang suka ke masjid?” Pertanyaan ini saya ajukan untuk mengetahui dari mana ia mengetahui saya. Barangkali saja saya bisa menemukan korelasi, termasuk mengetahui kemana arah pembicaraannya. “Jarang. Saya tidak pernah mendatangi masjid yang Akang biasa masuki.”

“Dimana tinggal?”, tanya saya. Ia menyebutkan alamat rumahnya. Memang rumahnya cukup jauh dari tempat saya tinggal, juga cukup jauh dari playing ground yang dibangun oleh sebuah perusahaan properti ini. “Saya tahu akang karena dulu saya sempat mengantar teman saya belajar bahasa di lembaga bapak,” katanya.

Oh, baru paham sekarang. Rupanya ia mengenali saya dari keyword bahasa Arab, Inggris dan lembaga bahasa.

Saya mengajaknya duduk di atas rerumputan lapangan, untuk mendengarkan apa yang ia ingin sampaikan. Sementara anak balita saya bermain sendiri di sebelah pohon dekat kami.

“Apakah kematian terjadi ketika jantung tidak lagi berfungsi? Apakah akang berpendapat demikian?” tanyanya. “Ohya, apakah saya pernah mengatakan demikian?” saya balik bertanya.

“Ada yang bilang bahwa kematian terjadi saat neurotik di otak tidak lagi berkoneksi dengan dendrit,” tambahnya. “Kalau saya berpendapat bahwa kematian terjadi ketika memori sudah tidak lagi memiliki jejak. Jejak memori tersimpan di alam bawah sadar. Ketika jejak itu sudah hilang dari memori, seseorang mati.”

Saya lebih tertarik mendengar kata-katanya, sambil berkomentar dan sedikit berpendapat mengenai tema obrolan. Jawaban saya malah tidak begitu penting. Yang menarik saya adalah pertanyaan dan tema yang ia ajukan. Selama sekian tahun saya tidak lagi mendengar orang bertemu dengan saya tiba-tiba menanyakan kematian. Jika pun ada sahabat atau kenalan lama ketemu di jalan, yang diobrolkan adalah hal-hal ringan seputar keluarga, program, pekerjaan atau aktivitas.

Karenanya orang ini unik, tidak seperti kebanyakan orang. Ketika mayoritas orang biasanya menanyakan tentang hukum ini hukum itu, sesuatu yang kongkret, sesuatu yang ada di depan mata, sesuatu yang kuantitatif, orang ini tidak. Ia lebih tertarik membahas hal abstrak, hal spekulatif, sesuatu yang bersifat kualitatif. Melihat gestur dan keseriusannya membahas kematian, saya menyimpulkan bahwa dia memiliki ketertarikan pada gagasan dan pikiran, lebih daripada hal material dan fisikal.

Lelaki ini mengingatkan saya pada kisah novel Mithya dari Karamazov; orang yang ditawari harta besar namun menolaknya karena lebih tertarik membahas tema yang menggugah rasa ingin tahunya. Pada zaman ini, bahkan setiap zaman, langka orang seperti Mithya. Dan dari yang langka itu, saya berpikir lelaki itu salah satunya.

Orang seperti ini senang berlama-lama merenung, mencaritahu dan mendiskusikan hal-hal abstrak. Ia asyik dan menikmatinya, sementara orang-orang kebanyakan tidak terpikir untuk melakukan hal serupa. Apa yang dipikirkan dan dibahas oleh orang seperti ini tidak digandrungi oleh kebanyakan orang, selain karena tidak nyambung juga bisa menghabiskan waktu.

Orang-orang langka ini menyukai hal-hal substanstif, dan tidak begitu peduli hal-hal formalistik dan artifisial. Dari orang seperti mereka, pemikiran manusia bisa berkembang. Dan jika manusia disebut hayawaan naathiq atau hewan berpikir, itu karena adanya orang-orang seperti mereka.

Jawaban apa pun dari saya tentang pertanyaan itu tidak penting. Apalagi obrolan saya dengannya tidak berlangsung lama, karena anak saya merengek segera pulang meninggalkan playing ground yang bikin betah itu. Yang lebih penting adalah pertanyaannya, “Kapankah kematian terjadi?” Dan anda semua bisa mencoba mencari jawabannya sendiri-sendiri.

Karena, pertanyaan ini sangat dekat dengan kehidupan semua orang. Kita semua…!

Baca Lainnya