Kamis, 8 Maret 2018 13:22

Jika Ilmu Bertambah, Diri Berubah

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Pixabay]

Ashoff Murtadha
Direktur Studi Islam Bandung

Di antara kebiasaan orang, adalah melakukan penilaian. Utamanya menilai orang lain. Begitu semangat menilai orang, sekalipun tidak cukup ilmu mengenai mereka dan apa yang mereka pikirkan dan lakukan.

Seringkali pula seseorang menilai orang-orang lain bukan untuk mengetahui mereka apa adanya, melainkan hanya ingin menimpakan tuduhan atau melemparkan kotoran. Mencaci, memaki, membuli. Mencela, menghina, menista, bahkan berdusta, atas nama kebenaran yang belum sempat hinggap kuat di atas kepala.

Padahal, begitu dia mencoba menggali banyak, mencari banyak, mendengar banyak dan mengkaji banyak tentang mereka, maka segera terlihat bahwa apa yang diduga hanyalah syak wasangka. Yang baik pada dirinya, ada juga pada mereka, juga apa yang dianggap buruk pada mereka juga ada pada dirinya.

Banyak orang yang digiring dengan slogan-slogan indah, propaganda atas nama agama dan kebenaran, lalu tidak mendapat kesempatan juga akses untuk melihat luasnya dunia selebar cakrawala; untuk merenungkan sedikit lebih dalam tentang suatu hal dengan perspektif yang beragam.

Maka berjalanlah mereka ke sebuah jalanan besar yang berjejal, riuh dan gemuruh. Berdesak-desakan, tanpa memiliki ruang lepas untuk menarik nafas, sekadar untuk melakukan pengamatan dan perenungan.. Kian besar kerumunan, kian sesak kepadatan, maka kian tak punya kesempatan untuk mengajukan bahkan hanya sebuah pertanyaan.

Lalu sampai kapan kerumunan itu terus berjejal dalam sesak? Sekiranya sedikit demi sedikit dari kerumunan itu ada beberapa orang yang menyelip keluar dari kerumunan, lalu menatapi mereka dari kejauhan. Kemudian ada lagi sebagian orang yang melakukan hal yang sama. Orang-orang ini segera mendapatkan kesegatan baru, bahkan cara pandang baru.

Di sisi lain, kerumunan sesak itu juga mulai bisa mendapatkan oksigen lebih leluasa. Mereka mulai bisa bernafas cukup lega. Sehingga cara pandang juga mulai menemukan perspektif lain, sudut lain, keajaiban lain.

Karenanya keluar dari kerumunan sesak itu bermanfaat dan menolong, baik bagi diri maupun orang lain. Tidak sedikit orang yang kehabisan nafas dan “mati” karena terinjak atau tersengat kesesakan dalam kerumunan besar. Sehingga menyelamatkan mereka dilakukan dengan cara segera mencari ruang kosong untuk diri dan memberi ruang terbuka bagi yang masih berada dalam kerumunan sesak.

Saat berjarak itulah saat-saat untuk merenungi, memahami bahkan mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar yang sebelumnya mungkin tidak sempat terpikirkan. Tanyakan sesuatu, maka engkau akan tahu sesuatu dan turunannya.

Dan, tidak usah heran, ketika pengetahuan bertambah, maka akan terjadi pula perubahan pada sudut pandang dan kesadaran.

Percaya atau tidak, “Jika ilmu bertambah, diri juga berubah”. Karena berubah, maka “Diri hari ini bukan lagi diri kemarin. Dan diri hari ini juga bukan diri esok hari.”

Diri seseorang akan berubah sesuai perubahan pada ilmu dan kesadarannya… Dan perubahan itu bisa terjadi berkali-kali, sebanyak perubahan pada ilmu dan kesadarannya.

Itulah pula sebabnya, ilmu dan kesadaran itu memang mengubah kualitas diri seseorang…

Jadi, tidak perlu mutlak-mutlakan menilai diri dan orang-orang. Kita mungkin benar, mereka juga sama. Mereka mungkin salah, kita juga sama. Kesalahan dan kebenaran bisa hinggap di semua jiwa. Kita dan mereka.

Karenanya, yang buruk dari kelompok atau idolamu, tinggalkan dan jauhi. Jangan turuti. Dan yang baik dari musuhmu, perhatikan dan ikuti. Teladani…!

Terinspirasi dari kata-kata Kang Dedi Mulyadi saat Pawai Bedug Menyambut Ramadhan di Purwakarta Juni 2017 kemarin…

“Lebih baik merasa diri tersesat ketimbang merasa diri benar. Karena orang yang merasa diri tersesat, ia akan mencari petunjuk dan penerang. Sedangkan orang yang merasa diri benar, malah tidak sadar dirinya tersesat.”

Selamat mendaki bukit, untuk melihat keindahan dari atas awan.