Selasa, 2 Januari 2018 14:53

Jangan Lupa Jadi Manusia

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Pixabay]

Penulis : Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Kata Ibnu Arabi, bilmakna, setiap orang memang dilahirkan ke dunia dalam bentuk manusia. Namun ketika lahir dan kembali ke akhirat, mereka bisa berubah wujud: monyet, babi, ular, srigala, labu, atau lainnya.

Kata Al-Ghazali, bilmakna juga, wujud tubuh kita sekarang memang terlihat sebagai manusia. Namun ruh (jiwa) yang mengisi tubuh kita saat ini mungkin berupa macam-macam binatang.

Apa yang menentukan bentuk ruh manusia? Penentunya tergantung pada apa yang ia kejar, apa yang menguasainya, atau apa yang ia sembah. Dan yang disembah oleh seseorang, belum tentu Tuhan yang sebenarnya. Boleh jadi ia hanya pura-pura menyembah Tuhan, padahal yang ia sembah adalah nafsu-nafsu hewani dan syaithani.

Masih kata al-Ghazali, yang membentuk ruh kita saat ini adalah perbuatan kita. Dan perbuatan dikendalikan oleh apa yang kita kejar dan sembah. Sesembahan itulah yang akan membentuk ruh kita saat ini. Jadi, apa yang seseorang kejar itu akan mempengaruhi akhlak, karakter, serta perbuatan dan tindakannya. Dan akhlak serta perbuatannya itu akan mempengaruhi bentuk dan rupa ruhnya.

Oleh karenanya, tidak perlu menunggu mati untuk mengetahui bentuk ruh seperti apa. Sekarang pun setiap orang tengah melukis dan membentuknya. Dan hasil bentukan di dunia inilah ruh yang akan ia miliki nanti, setelah ia mati. Ruhnya di akhirat adalah pantulan dari ruhnya di dunia. Hanya saja, seperti apa bentuk ruh, tidak bisa dilihat oleh setiap orang.

Adakah orang yang bisa melihat ruh di dunia ini? Sepanjang sejarah, orang itu selalu ada. Namun, sangat sedikit, tentu saja. Ada sebagian kecil orang tertentu yang diberi Tuhan kemampuan untuk dapat melihat bentuk ruh-ruh manusia saat masih hidup di dunia. Pandangan mereka awas, dan mampu menembus melintasi dimensi materi.

Kemampuan ini tentu saja merupakan anugerah yang sangat langka, dan orang yang telah mendapatkannya tidak perlu memamerkan atau sekadar menceritakannya kepada orang lain. Sebab, anugerah ini merupakan rahasia seseorang yang sudah mencapai tingkatan waskita, seorang arif. Ia mengetahui, dan dapat melihat. Namun, pengetahuan dan penglihatannya cukup untuk dirinya semata, dan tidak untuk diceritakan.

Hanya saja, kemampuan seperti ini biasanya membuat kebanyakan orang penasaran. Mereka mungkin ingin mengetahui apa yang tersembunyi dari pandangan mereka. Hanya saja, mari kita bertanya pada diri sendiri, jika orang seperti itu ada di depan kita, maukah kita bertanya kepadanya seperti apa bentuk ruh yang bersarang dan menguasai tubuh kita ini? Siapa tahu, mungkin kita ada yang merasa penasaran…

Ada yang mau? Jangan-jangan kita semua tidak ada yang mau. Lho, kenapa? Karena rahasia kita akan ditelanjangi. Buruk rupa kita akan terpampang sangat memalukan, atau bahkan menakutkan. Jangan-jangan pula, orang itu tidak mau melihat apalagi mendekat.

Ada banyak macam karakter manusia. Perangai, sifat, akhlak, dan perilaku mereka. Di setiap generasi manusia, semua perangai baik dan buruk itu ada. Keburukan akhlak tidak hanya eksklusif dimiliki sebuah generasi atau masyarakat. Begitu juga akhlak baik. Kedua sifat itu, dengan berbagai tingkatannya, ada pada setiap generasi, setiap masa.

Selain itu, juga ada banyak pilihan hidup manusia, berupa pekerjaan, karir, kesenangan, hobi, dan lainnya. Dan tidak ada paksaan mereka harus memilih apa dan seperti apa. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk bebas, makhluk merdeka… Manusia adalah makhluk berkehendak.

Manusia bebas mau memilih apa dan mengerjakan apa. Karena pilihan itulah yang menjadi objek ujian bagi mereka. Kebebasan ini pula yang menempatkannya kelak berada dalam posisi diadili atau disayangi.

Adanya kebebasan meniscayakan adanya ujian dan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban adalah akibat dari adanya kebebasan. Dan kebebasan melahirkan adanya pertanggungjawaban. Orang yang terpaksa, tidak ada pertanggungjawaban.

Sebaliknya, tanggung jawab lahir dari kebebasan. Oleh sebab itu, jika seseorang bebas memilih dan melakukan sesuatu, maka ia bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan itu. Kebebasan itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Setiap orang bebas mau berbuat apa saja. Bebas memilih apa, berbicara apa, bertindak apa pun. Selagi benar dan baik, silahkan ia berbuat apa saja. Bahkan, dari segi filsafat kebebasan, berbuat buruk pun ia bebas melakukannya. “Jika kau tidak malu, berbuatlah sesukamu.” Hanya saja, setiap kebebasan memiliki konsekuensi, melahirkan akibat.

Kita fokus pada kebebasan untuk memilih dan berbuat hanya yang benar dan baik saja. Tentang pilihan hidup berupa karir, pekerjaan, mata pencaharian, jodoh, hobi dan lainnya. Untuk hal itu semua, kita bebas mau berprofesi apa pun, bekerja apa pun.

Akan tetapi, nasihat yang baik dari Ali Syariati (filosof Iran akhir abad 20 an) yang sempat digandrungi mahasiswa Indonesia tahun 1990 an silam, sangat membekas dan masih teringat baik.

Nasihat yang sebenarnya ia pesankan untuk anaknya… Namun semoga tetap aktual dan bermanfaat bagi siapa pun sekarang.. Ia mempersilahkan anaknya menjadi dan berprofesi apa pun. Hanya pesan singkatnya, “Jangan lupa jadi manusia…!”

Itu saja…!