Selasa, 20 Maret 2018 21:02

Istighfar dan Meminta Maaf, Obat Berbagai Penyakit

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang menarik dan berhaga. Semalam, Senin malam Selasa, usai kajian tafsir di masjid dekat rumah, mengenai keutamaan bulan Rajab, seorang jamaah bercerita sambil jalan pulang dari masjid.

"Kemarin-kemarin saya terkena maag. Tidak biasanya saya mengalami sakit yang menyiksa ini. Saya coba introspeksi dan menghitung kesalahan. 'Ya Allah, dosa apa yang telah saya lakukan hingga saya mengalami sakit ini. Jika saya telah berbuat dosa atau kesalahan, ampuni aku ya Allah.' Alhamdulillah, tidak lama dari itu sakit mag saya hilang. Saya sembuh dengan segera."

Besok paginya, Selasa, sambil bareng-bareng belajar bahasa Arab dengan kelompok ibu-ibu, salah satu dari mereka bercerita.

"Saya sedang sakit di leher, dan menjalar ke bagian tangan sebelah kiri. Ketika sakit ini menyiksa, suami adalah yang paling direpotkan oleh kondisi saya. Menyadari bahwa saya memiliki dosa dan kesalahan kepada suami, setiap sakit terasa saya meminta maaf kepada suami atas apa pun kesalahan saya. Alhamdulillah, rasa sakit berkurang, dan sekarang beranjak sembuh dan lebih positif."

Usai mengajar bahasa Arab, saya bertemu lagi dengan seorang ibu lain. Ia bercerita bahwa rumahnya sering dimasuki kucing langganan. Si ibu biasa memberinya makanan. Namun, namanya juga kucing, sekalipun sudah diberi makan, dan baru saja diberi, ia masuk lagi ke rumah sambil menyelip-nyelip (nyerimpet) ke kaki ibu tersebut. Padahal ibu tersebut sedang masak dan beraktivitas. Ketika kakinya melangkah, kakinya terhalang kucing, yang bisa membahayakan kucing itu sendiri. Misalnya, kucing jadi tertendang. Dan ibu itu juga terserimpet.

Karena kesal kucing itu nyerimpet terus ke kakinya, ibu tersebut melontarkan ucapan kekesalannya kepada kucing. Apa yang terjadi kemudian? Tiba-tiba giginya sakit, ngajedut. Sakit sekali.

Segera teringat ucapan kekesalannya kepada kucing tadi, langsung ia beristighfar beberapa kali. Alhamdulillah, segera rasa sakit gigi itu hilang kembali.

Begitulah...Saya yakin, ketiga cerita ini bukan eksklusif dialami tiga orang yang berbeda di atas. Ada banyak cerita lain mengenai hal ini dengan kasus yang berbeda-beda. Mungkin sebagian dari kita juga pernah mengalami hal yang sama. Yakni, penyakit atau rasa sakit kita hilang ketika kita memohonkan ampunan atau maaf.

Intinya adalah bahwa ada sejumlah penyakit yang bisa diobati dengan permohonan ampunan kepada Allah, atau permintaan maaf kepada sesama, baik manusia maupun makhluk lainnya. Teorinya adalah bahwa penyakit dan rasa sakit itu terjadi karena dosa atau kesalahan yang dilakukan. Karenanya, untuk menghilangkannya adalah dengan memohonkan ampunan dan maaf atas kesalahan.

Ada seorang gadis lajang yang biasa menjadi pembimbing umrah. Sambil belajar bahasa Arab, ia bercerita bahwa ada jamaah yang dibimbingnya (seorang ibu) yang menendang orang lain yang tidak sengaja menendang dirinya di masjid Nabawi. Orang lain menendangnya tidak sengaja, sementara si ibu tadi membalas menendang dengan kemarahan kepada orang yang menendangnya. Si gadis menyarankan si ibu untuk meminta maaf kepada orang tadi. Tetapi si ibu tidak mau, sambil tetap dalam kemarahannya.

Apa yang terjadi kemudian? Tidak lama setelah itu, kaki si ibu itu bengkak. Hanya dalam hitungan jam, kakinya makin bengkak, dan kian membesar. Saat itu rombongan tinggal sehari itu di Madinah, dan besok ke Jeddah untuk kemudian pulang ke tanah air. Di Jeddah, si ibu dibawa ke rumah sakit dulu untuk diperiksa. Kata dokter, tidak ada apa-apa.

Singkat cerita, rombongan jamaah lain hari itu juga terbang untuk pulang ke tanah air. Sedangkan si ibu tadi, karena kondisi kakinya yang terus membengkak, tidak bisa pulang bersama rombongan hari itu juga. Beberapa hari kemudian ia bisa pulang dengan penerbangan berbeda. Dan sesampainya di tanah air, bengkak kakinya bukannya sembuh. Malah justru bengkak itulah yang mengantarkannya kepada kematiannya, tidak lama setelah ia berumrah ke tanah suci.

Kesimpulannya, dosa dan kesalahan adalah sumber penyakit. Dengan memperhatikan banyak contoh, dosa dan kesalahan bukan hanya menjadi sumber penyakit bagi hati dan ruhani, atau jiwa. Ia juga bisa menjadi sumber penyakit fisik yang sulit dicari obat kesembuhannya. Sehingga, obatnya adalah permohonan ampunan (istighfar) kepada-Nya dan maaf kepada sesama.

Ada sebuah doa yang sangat indah dan berisi makna-makna mendalam, yang juga disebut dengan Doa Hadhrat Khidhir. Setelah memuji Allah, doa ini diawali dengan permohonan ampunan atas berbagai jenis dosa:

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah meruntuhkan penjagaan...

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah mendatangkan bencana...

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah merusak kenikmatan...

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah menahan doa...

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah menurunkan petaka...

Ya Allah, ampunilah segala dosa yang telah kulakukan, dan setiap kesalahan yang pernah kukerjakan..."

Dalam versi Arabnya, doa ini sangat indah, enak dibaca dan kaya dihayati. Seluruh isi doa yang panjang ini didominasi oleh tiga saja, yakni (1) pujian dan sanjungan kepada Zat yang Mahakuasa, (2) permohonan ampunan dan pengakuan dosa, kehinaan, kemalangan, dan ketakbermaknaan, dan (3) harapan terhadap kasih sayang-Nya yang tak terhingga.

Selain berisi pujian dan pengagungan kepada-Nya, doa ini hanya berisi permohonan ampunan dan pelantunan harapan akan kasih sayang. Harapan itu pun disimpan di ujung doa yang diakhiri shalawat atas Nabi Saw.

"Wahai Zat yang Mahacepat ridha-Nya..
Ampunilah orang yang tidak memiliki apa-apa ini, selain doa..
Karena Engkau melakukan apa yang Kaukehendaki....

Wahai Zat yang nama-Nya adalah obat penawar...

Wahai Zat yang menyebut-Nya adalah kesembuhan..

Wahai Zat yang ketaatan-Nya adalah kekayaan...

Kasihilah orang yang modalnya hanya harapan; dan senjatanya hanyalah tangisan...

Wahai Penabur karunia..
Wahai Penolak bencana...
Wahai Cahaya bagi orang-orang yang tersesat dalam kegelapan...
Wahai Zat yang mengetahui tanpa pengajaran... dst..."

Doa ini sebenarnya lebih pas disebut dengan munajat, ketimbang doa. Jika doa berisi permohonan tentang ini dan itu, maka munajat berisi pujian, sanjungan, ungkapan kerinduan, pengakuan kehinaan dan ketakpantasan, di hadapan-Nya. Jika doa digunakan untuk meminta, maka munajat digunakan untuk memuja dan menyatakan cinta, kepada-Nya.

Kita semua pasti pernah berdosa kepada Tuhan, dan bersalah kepada sesama. Bulan ini adalah Rajab yang mulia, bulan istighfar bagi umat Nabi, "syahrul istighfar li ummatiii..."

Karenanya, mumpung baru hari kedua bulan Rajab, semoga bulan ini menjadi kesempatan berharga kita untuk melesatkan istighfar kepada-Nya, sebanyak-banyaknya, sekuat-kuatnya, dan mengajukan permohonan maaf kepada sesama, siapa saja dan di mana pun mereka...

Kepada semua teman di media ini, saya ajukan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Baik karena tulisan, maupun ucapan. Atau pun perbedaan dalam pemahaman yang tidak sengaja menggoreskan luka atau kesalahpahaman...

Bilih aya saur nu teu kaukur..
Bilih aya kata nu teu katata...
Ampun sareng paralun...
Hapunten anu kasuhun...

Segala puji bagi-Nya yang telah menyampaikan kita pada bulan haram ini, Rajab. Moga Dia mengantarkan kita dalam bulan-bulan berikutnya dalam rahmat dan nikmat-Nya. Aaamiin...

Baca Lainnya