Limawaktu.id- Setiap manusia terlahir ke dunia melalui ibunda tercinta. Sungguh besar jasa sang ibunda terhadap semua anak-anaknya. Setelah lahir, beliaulah yang merawat, mengurus, membesarkan, mendidik, dan membimbing tanpa pamrih serta tanpa meminta balas jasa.
Sesungguh kehidupan di dunia adalah tempat untuk kita beribadah kepada Allah 'azza wa jalla, di antaranya: berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu, berbuat baik kepada sesama dan alam sekitar, bersosialisasi dengan karib kerabat, dan tetangga serta ibadah lainnya.
Dunia adalah tempat kita menimba, mempelajari hingga menggali ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya agar mendapatkan wawasan yang seluas-luasnya, baik untuk mengabdi kepada sang Khalik maupun mengamalkannya untuk kepentingan manusia. Di dunia ini tidak seorangpun yang mampu memahami semua disiplin ilmu yang begitu luas. Dengan kata lain, setiap orang memiliki keahlian terhadap tiap-tiap disiplin ilmu atau beberapa ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pertama kali didapatkan melalui kedua orang tua. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci, ibarat seperti kertas putih yang kosong dan belum ditulisi. Kedua orang tuanya yang pertama kali menuliskan sesuatu sehingga memiliki makna dalam kehidupan. Orang tua jualah yang menjadikannya punya ilmu dan wawasan, di antaranya: memperkenalkan kedua orang tua, benda-benda yang sederhana, dan lain sebagainya. Tentunya kedua orang tua mengajarkan dan mendidik tentang sesuatu hal yang baik serta bermanfaat.
Dalam suatu hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Dalam pandangan Islam, orang tua mesti menumbuhkembangkan anaknya agar tetap memegang teguh tauhid. Lebih dari itu, orang tua juga semestinya terus berupaya menjadikan anak-anaknya muslim yang baik, mukmin yang kokoh, mempunyai ilmu luas yang diberkahi-Nya, kehadirannya berguna, serta berbuat baik kepada sesama dan alam sekitarnya.
Perintah Allah untuk menuntut ilmu terdapat pada surat Al 'Alaq ayat 1-5, yang merupakan ayat pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah.
Allah SWT berfirman:
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ , خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ ۚ , اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُۙ , الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِۙ , عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ۗ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(QS. Al-'Alaq: Ayat 1-5)
Kata bacalah pada surat ini merupakan perintah untuk belajar atau menuntut ilmu. Perintah ini secara umum dan tidak tertuju pada ilmu tertentu.
Perintah untuk menuntut ilmu lainnya, Allah sampaikan pada surat Al Mujaadilah ayat 11. Pada ayat ini Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Hal ini adalah jaminan dari Allah bahwa mereka yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya.
Tentunya hal ini adalah kabar gembira untuk manusia sekaligus sebagai motivasi untuk menuntut ilmu lebih giat.
Allah SWT berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ
*وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ *
وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Mujaadilah: Ayat 11)
Sehingga semakin tegas dan jelas, bahwa manusia terlahir ke dunia, salah satu misinya adalah menuntut ilmu. Dengan kata lain, lebih sering didengar dengan istilah belajar.
Terkadang manusia tidak menyadarinya, sehingga tidak sedikit mereka yang malas. Bahkan ada yang tidak termotivasi sama sekali untuk belajar. Hal ini termasuk suatu yang melenceng dari perintah-Nya. Kebodohan adalah sesuatu yang paling tidak disukai Allah.
Setelah beriman kemudian berilmu, maka misi kita lahir ke dunia selanjutnya adalah mengamalkan ilmu yang Allah titipkan, untuk kebaikan kita sendiri dan terhadap makhluk yang ada di alam semesta. Ilmu yang diamalkan harus diniatkan hanya semata-mata karena Allah (Lillaahi ta'aala), sehingga aktivitas yang dilakukan memiliki nilai ibadah.
Amalan penting lainnya adalah bersyukur kepada Allah. Karena sangat banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Tanpa adanya rasa syukur, maka manusia akan tergelincir kepada kesombongan. Bahkan bisa masuk ke wilayah "takabur".
Takabur memiliki makna yang sama dengan Ta'azum, yaitu menampakkan keangkuhan dan kehebatan dirinya dibandingkan dengan orang lain. Salah satu contoh nyata, pada awal tahun ini, sebagian kita menyaksikan, bahwa ada pebajat tinggi negara dengan "angkuh dan arogan", terkait Virus Corona mengatakan berbagai pernyataan, di antaranya: tidak mampu menembus batas wilayah nusantara, virus corona tidak bisa hidup pada suhu di atas 27°C, serta beberapa pernyataan lainnya. Pernyataan tersebut menunjukkan sebuah kesombongan atau kehebatan tergolong ke dalam sifat takabur. Seolah-olah dengan profesi dan kewenangan jabatan yang diembannya, dia berhak mengklaim bahwa dia lebih tahu segala-galanya tentang Virus Corona sehingga terkesan beliau tidak berdiskusi atau meminta pendapat kepada beberapa ahli, antara lain: ahli virus (virologi), ahli pneumonia, dan ahli beberapa disiplin ilmu kesehatan lainnya. Apakah hal tersebut bertujuan untuk memperoleh keuntungan duniawi atau kekhilafan, wallahua'lam.
Namun, Allah tidak tidur, dalam sekejab virus itu datang ke Indonesia, sementara Indonesia tidak siap sama sekali menerima kedatangan Virus Corona tersebut. Akibatnya, carut marutlah penanganan dan pengelolaan wabah virus covid-19 di negeri ini.
Allah tidak menyukai makhluk-Nya yang sombong, takabur, ta'azum. Hanya Allah semata yang berhak untuk sombong, karena Dia memiliki nama Al Mutakabbir (Maha Sombong).
Sesuai firman Allah di surat An Nahl ayat 23 dan surat Luqman ayat 18, berikut ini:
لَا جَرَمَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِيْنَ
"Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong."
(QS. An Nahl: Ayat 23)
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا. ۗ *اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ ۚ *
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Luqman: Ayat 18)
Dari penjelasan tersebut, cukup jelas bahwa ilmu dan pengalaman yang dimilikinya tidak memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat dan bangsa ini. Ilmu yang beliau pelajari dan kuasai tidak menolong dan memberi kemaslahatan bagi manusia. Padahal tujuan menuntut ilmu adalah mengamalkan sehingga mampu menolong dan memberi kemaslahatan pada manusia serta mendapatkan berkah dari Allah 'azza wa Jalla.
Imam at-Tirmidzi rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhi-yallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ.
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu."
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu ‘Abdil Barr (I/135, no. 135))
Sesungguhnya mencintai dan menuntut ilmu serta mengamalkannya adalah akar segala ketaatan, sedangkan mencintai dunia adalah akar berbagai kesalahan yang menjerumuskan. Setiap insan harus mengetahui bahwa orang yang menuntut ilmu adalah orang yang bahagia karena ia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur-an, hadits-hadis Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para sahabat. Dengannya hati terasa nikmat dan akan membawa kepada kebersihan hati, kemuliaan dan akan menolong di akhirat kelak.
Oleh: Andriady Indra