Sabtu, 10 Maret 2018 13:55

Hidup di Jaman Telematika

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Oleh: Kiagus Zaenal Mubarok, Wakil Ketua PW NU Jabar dan Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.

Perubahan besar di jaman Telematika adalah terintegrasinya semua platform pengiriman informasi. Informasi yang tadinya memakai media komunikasi yang terpisah dengan teknologi analog menjadi menyatu dengan menggunakan teknologi digital.

Hal itu membuat suara (audio), gambar (video), atau informasi lainnya berupa data yang memakai teknologi analog menjadi ketinggalan jaman atau out of date.

Informasi melaui pesawat radio, telepon, telegram, surat kabar, majalah, televisi dan bentuk lainnya sekarang dapat menyatu dengan memakai teknologi digital. Semua itu dapat difasilitasi secara simultan dengan satu alat saja yaitu smart gadget, yaitu alat pintar yang dapat berkirim informasi apapun dan berkomunikasi kepada siapapun secara interaktif pada saat itu juga (realtime) dan seketika (instant). Itulah yang dinamakan dunia virtual (maya), sebagai salahsatu keunggulan dari teknologi telematika.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, kita menemukan suatu perubahan revolusioner tentang interaksi manusia, ia tidak hanya bekomunikasi secara langsung, tetapi juga melalui dunia maya tersebut.

Isi atau konten komunikasi manusia pun tidak hanya beragam, tapi juga bersifat variatif. Perkembangan itu mencakup hampir seluruh aktifitas hajat hidup manusia, seperti pelayanan publik berupa pendidikan, agama, kesehatan, bisnis, perkantoran, transportasi dan apapun yang tersedia diranah publik.

Salah satu yang terimbas dalam perubahan ini adalah ihwal apapun yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Beragama pun menjadi sesuatu yang instan.

Ketika orang menjalani kehidupan industrial kapitalistik yang menjenuhkan dan kering, maka salah satu wilayah yang jadi tempat pelarian (eskapis) adalah mencari pengetahuan agama.

Namun, belum apa-apa agama sudah difahami secara dogmatis, karena dianggap sebagai sumber ajaran yang datangnya dari Tuhan dan tidak dapat dievaluasi. Padahal agama yang datang dari Tuhan itu melalui berbagai tafsir atau interpretasi manusia. Banyak interpretasi yang secara komparatif pada akhirnya agama tidak bisa menjadi sumber pengetahuan yang monolitik (tunggal).

Celakanya di jaman telematika pada saat sekarang, banyak yang menjajakan agama dengan berbagai substansi dan cara, seolah tafsir agamanya yang paling benar. Agama yang datangnya secara hakiki dari Tuhan terdistorsi oleh interpretasi manusia.

Pada saat sekarang agama dianggap sebuah komoditas yang diumbar sebagai pembenaran (justification) yang dibuat manusia atas tafsirnya terhadap kebenaran (truth) yang secara hakiki datangnya dari Tuhan.

Jadi bagaimana menyikapi keberagamaan pada jaman telematika yang serba instan ini? Kembali kita harus belajar (iqro), yaitu menempatkan agama menjadi domain ontologis (objek pengetahuan) yang terbuka untuk dievaluasi, termasuk evaluasi terhadap berbagai tafsirnya.

Selamat belajar lagi.