Kamis, 31 Mei 2018 12:41

Cucunda Rasul Sayidina Hasan dan Domba yang Diberkati

Reporter : Jumadi Kusuma
Illustrasi.
Illustrasi. [Pixabay]

Penulis: Candiki Repantu

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Sinar suci menerangi Madinatun Nabi yang berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah, sang puteri terkasih Nabi. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta Ilahi.

Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi Saw, Ali dan Fatimah, Sayyidina Hasan tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya, utusan Sang Ilahi.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Sayyidina Hasan keluar melakukan perjalanan ditemani adiknya Sayyidina Husain dan Abdullah bin Ja’far. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dengan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Sayidina Hasan melihat wanita tua itu dan mengenalinya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Sayidina Hasan pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Sayidina Hasan membawa wanita tua itu ke tempatnya dan memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar, lalu  mengirim wanita tua itu kepada Sayidina Husain yang memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar.

Selanjutnya Sayidina Husain mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Baca Lainnya