Kamis, 22 Februari 2018 19:24

Citarum Harum Kembali, Ikuti Jejak Khalifah Tuhan

Sungai Citarum.
Sungai Citarum. [Net]

Penulis: Ust. Miftah Fauzi Rakhmat

Belum lama ini, Sekolah Cerdas Muthahhari menggelar Pentas Seni tahunan. Drama kolosal anak-anak ini digelar cukup meriah. Tidak mudah mempersiapkan acara seperti ini. Anak-anak yang berlatih berbulan lamanya. Guru-guru yang mempersiapkan pernak-perniknya. Dan orangtua murid yang setia mendukung segalanya. Mereka bahkan menjadi juru rias dadakan untuk anak-anak yang membanggakan itu.

Tahun ini, mereka mengambil tema "Detektif Lautan". Kisahnya tentang laut yang tercemar oleh ulah manusia. Kemarin, menelusuri timeline twitter, saya diingatkan sesuatu. Tanggal 21 Februari adalah "Hari Peduli Sampah Nasional". Lalu, saya lihat berbagai kampanye pemilahan sampah, kegiatan bersih-bersih di sana sini, hingga mata saya terantuk pada pemandangan Sungai Citarum. Dan berita tentang sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat ini kemudian hilir mudik dilaman telepon genggam. 

Singkatnya, kondisi sungai ini begitu memprihatinkan. Sampah di mana-mana, air yang berubah warna, hingga cemoohan sebagai sungai terkotor dan terjorok di dunia. Pak Presiden tidak tinggal diam. Beliau terusik. Hari ini, kegiatan bersih-bersih itu pun dimulai.

Apa yang terjadi, mengapa sekian lama Citarum dibiarkan? Apakah selama bertahun-tahun tidak ada pemimpin daerah setempat yang peduli? Pemerintahan Provinsi Jawa Barat meraih 254 penghargaan dalam dua periode kepemimpinan. Kurang lebih, satu penghargaan setiap 13 hari. Mungkin karena prioritas kesibukan pada bidang lain yang meraih penghargaan itu, Citarum baru sempat jadi berita hari-hari terakhir ini.

Apakah sebuah kebetulan, anak-anak Sekolah Dasar itu menggelar pertunjukan tentang itu? Saya tidak tahu. Tapi, adalah sebuah kebetulan beberapa bulan terakhir ini saya tertarik dengan satu bagian dari pembelajaran ilmu-ilmu Al-Qur’an "Daqaiq al-Qur’an". Kajian tentang presisi dan ketepatan Al-Qur’an. Ini satu dari rencana sekian banyak topik menulis yang ingin dibukukan.

Al-Qur’an itu indah luar biasa. Kuncinya bukan hanya ada pada pilihan kata, tapi juga susunan kata. Bahasa Arab yang dengannya Al-Qur’an diturunkan, menyimpan kandungan rahasia untuk membantu kita lebih memahaminya. Doakan saya menuntaskan buku tentang yang satu ini.

Ambil contoh yang terkait dengan tulisan ini. Allah Swt dalam Al-Qur’an berfirman: _“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”_ (QS. Al-Baqarah [2]:30).

Menurut perspektif daqaiq al-Qur’an, dari ayat ini kita mengetahui bahwa malaikat senantiasa memuji dan mensucikan Tuhan. Kalimat yang ‘dipilih’ Al-Qur’an, _nusabbihu_, menggunakan bentuk _fi’il mudhari_: bentuk berkelangsungan; dan _wazan tsulatsi mazid taf’il_ yang bisa bermakna hiperbolis dan pengulangan. Singkatnya, para malaikat itu tidak pernah berhenti bertasbih kepada Tuhan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tasbih juga adalah bentuk peribadatan yang paling tinggi. _Subhanalllahi ‘an maa yashifuun_, Mahasuci Tuhan dari apa pun yang dapat disifatkan, menunjukkan sekiranya dalam peribadatan kita masih ada pensifatan akan Tuhan, masih ada konsep atau bayangan tentang Tuhan, ibadah kita masih jauh dari kesempurnaan. 

Walhasil, ibadah malaikat adalah ibadah tingkat super tinggi. Dan toh, Allah Ta’ala tidak memilih dari kalangan mereka seorang khalifah. Allah Ta’ala memilihnya dari kalangan manusia. Apa artinya? Ibadah saja (setinggi para malaikat pun) tidak cukup menjadikan manusia khalifah Tuhan di muka bumi. Lalu apa? Jawabannya ada pada dua kalimat malaikat: akankah Kau ciptakan makhluk yang merusak bumi dan menumpahkan darah ?

Maka ciri khalifah Tuhan ada dua: tidak merusak bumi dan tidak menumpahkan darah. Masih dari agama kita pelajari, mukaddimah pada yang wajib adalah wajib. Berwudhu sunnah, tapi jika hendak shalat berwudhu menjadi wajib. Maka mukaddimah pada yang terlarang adalah terlarang pula. Jangan dekati zina. Zina terlarang. Mendekatinya adalah terlarang pula.

Jangan merusak bumi. Maka segala sesuatu yang mengantarkan pada perusakan bumi adalah terlarang pula. Buang sampah sembarangan karenanya adalah perbuatan terlarang secara syar’i. Bahkan mungkin bisa jatuh pada dosa. Mengeksploitasi bumi, polusi, membuang limbah dan sebagainya adalah perbuatan yang terlarang secara syar’i.

Jangan menumpahkan darah. Apa mukaddimahnya? Pertengkaran, beragam berita dusta, fitnah, hoax yang bertebaran, ujaran kebencian, ikut menyebarkan semua itu meski hanya dengan satu sentuhan jari, adalah terlarang pula. Karena semua itu dapat mengakibatkan tumpahnya darah sesama kita. 

Itulah mengapa, berita tentang Citarum menghentak saya. Anugerah alam seindah negeri kita ini adalah karunia istimewa. Jauhlah kita dari keberkahan para khalifah Tuhan itu kalau kita tidak menjaganya. Sebanyak apa pun penghargaan yang kita terima, kalau kita merusak bumi, kalau kita menyuburkan kebencian dan permusuhan, kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kriteria khalifah Tuhan.

Bagaimana caranya agar tidak merusak bumi, agar tetap dapat mengikuti para khalifah Tuhan itu?. Pertama, ilmu pengetahuan. Hanya dengan ilmu, bumi ini dapat dijaga, dapat dipelihara. Ini juga dalil syar’i mempelajari ilmu non agama. Pelajarilah sosiologi, fisika, kedokteran hewan, perminyakan, antropologi, kehutanan atau apa saja. Ilmu-ilmu itu adalah pengantar bagi kita untuk dapat menjaga bumi. Mesti ada di antara kita yang menguasai dan melanjutkannya. Kedua, bagaimana caranya agar kita tidak menumpahkan darah? Akhlak yang utama. Agar kita menjaga lisan kita, agar tidak mudah menuduh sesama, agar tidak cepat termakan berita dusta, agar tidak segera terbakar api amarah dan murka. 

Setelah ilmu dan akhlak itulah, ibadah kemudian disebutkan. Seakan-akan, semua ibadah kita kurang bermakna, bila ilmu tidak kita pelajari, bila akhlak tidak kita pelihara. Tanpa ilmu, ibadah pun bisa kehilangan maknanya. Tanpa akhlak yang baik, ibadah bahkan bisa terhapus seperti madu yang dihantam cuka.

Demikianlah. Pada akhirnya, para khalifah Tuhan adalah mereka yang mendalam ilmunya: ilmu apa saja. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw ditanya orang bahkan tentang astronomi, matematika dan sebagainya. Mereka juga adalah orang yang paling menjaga akhlaknya. Yang paling bersabar, yang paling memuliakan, yang paling dermawan. Imam Ali Zainal Abidin as tidak pernah menolak orang yang meminta bantuan kepadanya. Dikatakan tentangnya, sekiranya tidak ada kata ‘tidak’ pada kalimat syahadat (laa ilaaha illalllah) maka seluruh kata ‘tidak’-nya akan menjadi ‘iya’ seluruhnya. Dan ibadah mereka, tak ada yang dapat menandinginya. 

Bila kita ingin mengikuti jejak para khalifah itu, berusahalah sebaik-baiknya dalam mencari ilmu, dalam berbuat baik pada sesama, dan dalam beribadah pada Allah Ta’ala. 

Bila kita ingin meneladani mereka, mulailah dari menghindari segala hal yang akan merusak bumi; dan dari segala hal yang berujung pada pertengkaran dan pertumpahan darah sesama. 

Baca Lainnya