Jumat, 9 Maret 2018 16:20

Catatan Harian Wartawan Kompas Saat Kunjungan Ke Republik Islam Iran

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Trias Kuncahyono, wartawan Kompas (beragama Nasrani)

Jumat petang pukul 17.00. Di depan pintu utama Masjid Jamkaran, Qom, iran, kami berdiri, bercakap-cakap dalam suasana penuh persaudaraan.

Jamkaran adalah kota kecil - yang sekaligus menjadi nama masjid - enam kilometer sebelah timur Qom. Masjid Jamkaran adalah salah satu tempat suci bagi para peziarah Muslim Syiah.

Kaum Syiah memiliki kepercayaan, pada suatu masa nanti, Imam Keduabelas atau Imam Mahdi atau Muhammad al-Mahdi, sosok mesiah yang mereka yakini, akan datang di situ. Dari sanalah, Imam Mahdi, yang mereka sebut Imam Zaman, akan memimpin era perdamaian dunia.

Ribuan peziarah, bahkan jutaan, setiap Selasa dan Kamis malam, bersembahyang di Masjid Jamkaran memohon bantuan Imam Zaman, dan mengharap segera kedatangannya.

Petang itu, di depan pintu utama berornamen warna biru indah, Mohammad H Zamani dengan tutur kata yang halus mengatakan, "Marilah masuk ke masjid. Ini tempat berdoa. Anda bisa berdoa secara Nasrani, dan saya secara islam. Di dalam tempat ini, kita sama-sama memuji dan meluhurkan Allah. Kita semua manusia, menyembah Allah. Karena itu, kita harus saling menghormati."

Lelaki bersorban putih, berjubah putih, berpenutup warna coklat, berkumis, berjambang, dan berjenggot hampir semuanya putih itu terus berbicara. Ia berbicara dalam bahasa Parsi yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ali, seorang ahli Al Quran asal Qom. "Saya pernah seminggu tinggal di Vatikan, menghadiri konferensi dengan para uskup. Saya tidur di Vatikan, dianggap sebagai saudara.

Maka, sekarang pun, saya sebagai tuan rumah di tempat ini menyambut Anda sebagai saudara. Ayo masuk, tidak usah ragu-ragu. Di luar udara sangat dingin," katanya lembut sambil terus memegang tangan saya.

Apa yang dikemukakan Zamani adalah ungkapan keramahtamahan iman yang terbuka menerima pihak berbeda. Ia menerima dengan ketulusan, tanpa basa-basi. Sikap inilah yang ini jarang kita rasakan, termasuk di Indonesia.

Padahal, iman yang terbuka, dalam sikap keramahtamahan, sungguh sangat diharapkan. Kita membutuhkan iman atau keberagaman yang terbuka. Bangsa Indonesia beragam dalam segala hal, suku, etnis, agama, budaya, dan lainnya.

Keberagaman itu bukan kelemahan, justru kekuatan yang mempersatukan Indonesia. Keberagaman itu rahmat.

Baca Lainnya