Sabtu, 19 Mei 2018 16:27

Bulan Puasa, ketika Warteg menjadi Kentaki

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Ust. H. Miftah Fauzi Rakhmat, Lc., M.A.

Ada hadis qudsi terkenal, pasti disampaikan di mimbar-mimbar shalat tarawih. Saudara besar kemungkinan sudah mendengarnya: _Al-Shaum lii, wa ana ajzi bihi_. puasa itu untuk-Ku, dan Aku (sendiri) yang akan membalasnya. Demikian pesan kudus Ilahi. Mengapa puasa saja yang untuk Tuhan? Bukankah shalat, zakat, dan ibadah lainnya juga adalah milik Allah Ta’ala?

Pak Ustadz dan Bu Ustadzah biasanya menjelaskan, karena hanya dalam puasalah seorang hamba benar-benar memasrahkan dirinya berada dalam pengawasan Allah Swt. Shalat dapat terlihat oleh orang lain. Demikian pula zakat, umrah dan haji.

Hanya pada puasa, seorang bisa membatalkannya tanpa diketahui oleh siapa pun, tetapi seorang hamba menjaganya karena ketaatannya pada Allah Ta’ala. Jawaban yang baik, meski kadang menyisakan pada saya tanya: bukankah shalat juga bisa tidak diketahui? Bila ia melaksanakannya seorang diri?

Perkenankan saya menambahkan jawaban yang lainnya. Karena Allah Ta’ala sangat mencintai hamba yang mendahulukan orang lain ketimbang dirinya. Pada puasa, manusia diajarkan untuk merasakan derita sesama, mendahulukan kepentingan bersama, membahagiakan orang lain dan memperhatikan mereka yang ada di sekitar kita. Ya, memperhatikan mereka yang ada di sekitar kita.

Tahukah kita musuh abadi umat manusia? Godaan yang setan tidak akan pernah sekalipun melepaskannya? _“…dan sungguh pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya_.” (QS. Al-Hijr [15]:30) Godaan itu adalah dosa pertama yang Iblis terjatuh ke dalamnya: keAKUan.

Iblis diperintahkan sujud kepada Nabi Adam as tapi ia menolak. Ia berkata: Tuhanku, kalau Kau bebaskan aku dari bersujud pada Adam, aku akan menyembah-Mu dengan ibadah yang tak pernah dilihat makhluk sebelum dan sesudahnya.

Allah Ta’ala menjawab: Kalau kau tidak sujud kepada Adam, semua ibadahmu itu tidak akan Aku terima. Sesungguhnya Aku ingin diibadati dengan cara yang Aku inginkan. Bukan dengan cara yang kau inginkan.

Disinilah, puasa mengajarkan pada kita ibadah yang Tuhan inginkan. Pada shalat, umrah dan haji bisa jadi ada godaan ketika kita ingin beribadah dengan cara yang kita inginkan. Cirinya? Kita terganggu bila ada yang cara ibadahnya berbeda dengan kita.

Kita ingin orang lain sama caranya dengan kita. Boleh jadi juga pada ibadah itu kita tidak memperhatikan sesama kita. Misalnya, membaca surat yang panjang sedang ada yang sepuh dan sakit di antara kita.

Rasulullah Saw memendekkan shalat karena mendengar tangisan anak kecil. Beliau kuatir sang ibu resah karenanya. Ibadah untuk Tuhan adalah ibadah dengan perhatian yang besar untuk sesama makhluk Tuhan.

Lihatlah shalat tarawih. Ada yang sebelas ada yang duapuluh dua. Ada yang witir dengan satu salam ada yang dua. Ada yang dua-dua raka’at melaksanakannya ada yang empat-empat. Bila kita terganggu dengan perbedaan itu, boleh jadi ada godaan keakuan: merasa diri paling benar, paling sesuai, paling shaleh. Pada yang demikian, tak ada perhatian kita untuk sesama makhluk Tuhan. Lalu, ibadah seperti apakah yang Tuhan inginkan dari kita?

Pada puasa, takkan terlihat cara yang berbeda itu. Semua (akan) terlihat sama. Lapar dan haus sama saja pada orang miskin dan kaya. Lalu di mana letak ibadahnya? Apa yang Tuhan inginkan dari kita? Agar merasakan nasib sesama saudara.

Maka puasa untuk Tuhan, karena ia menghadirkan kepedulian pada sesama makhluk Tuhan. Dan bila kita berkhidmat pada sesama, Allah Ta’ala akan membalas dengan ganjaran berlipat ganda.

Mari jadikan bulan suci ini bulan untuk saling menghargai. Bulan untuk melatih diri untuk saling menghormati. Alergi terhadap perbedaan adalah benih intoleransi. Puasa mengajarkan kita untuk berusaha mengerti keadaan orang lain. Puasa mencontohkan kita upaya untuk saling memahami.

Serba-serbi bulan suci di kita punya negeri. Akan terdengar ajakan menghormati yang puasa. Mungkin sudah saatnya juga menghormati yang tidak melakukannya: dari mereka yang sakit, dalam perjalanan, sudah uzur hingga saudara setanah air yang tidak seagama.

Ada riwayat dari Rasulullah Saw yang menceritakan pahala orang puasa sedang di hadapannya ada yang sedang menikmati makanannya. Kini, peluang pahala itu sedikit terkendala. Rumah makan diberi tirai, agar orang puasa tak melihatnya.

Serba-serbi bulan suci di kita punya negeri. Pada hari-hari ini, kata kawan saya, semua Warung Tegal (warteg) dan rumah makan berubah menjadi *_Kentaki_*. Restoran ayam goreng cepat saji itu? Bukan. kentaki yang dimaksud adalah: kentara kaki nya. Ya, tirai ditutupkan untuk menghalangi pemandangan orang yang makan. Sayang, kakinya masih kelihatan.

Toh, puasa mengajarkan kita menghargai sesama kita. Selamat puasa dengan menghormati perbedaan yang ada. Selamat puasa dengan upaya memahami yang dirasakan oleh saudara kita. Semoga saja, itu yang Tuhan harapkan dari kita. _Wallahu a’lam_.

Baca Lainnya