Jumat, 1 Desember 2017 15:21

Berbahagia Atas Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Illustrasi
Illustrasi [Pixabay]

Oleh : Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam Bandung (SIB)

Sebutlah nama Muhammad. Nabi Agung yang menggungguli semua kesempurnaan insani. Rasul Mulia yang meneladankan keutamaan sempurna manusia. Semua rasul itu cerdas (fathanah),terpercaya (amanah), jujur/benar (shidq) dan menyampaikan risalah (tabligh).

Inilah “sifat wajib” yang semua rasul miliki. Biar mudah, kita singkat saja dengan akronim FAST: Fathanah, Amanah, Shidq, Tabligh. Dan di semua sifat kesempurnaan itu, Muhammad memuncakinya. Beliau unggul di semua kesempurnaan, puncak di semua keagungan. Hingga Allah pun memfirmankan, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.”

Sekarang, periksalah pikiran, ucapan dan tindakan yang sudah kita biasakan. Jangan-jangan selama ini kita mengaku telah memuliakannya, padahal mencelanya. Mengaku mengagungkannya, padahal menistakannya. Mengaku mengangkatnya, padahal merendahkannya. Mengaku membelanya, padahal menyerangnya.

Jangan-jangan mulut ini berbusa meminjam sabda-sabdanya, padahal kita berperilaku dengan kelakuan musuh-musuhnya. Mengklaim sedang mendakwahkan agamanya, padahal sedang mengejar nafsu-nafsu dunia dengan atas namanya.

Kita umat Muslim yakin Nabi adalah manusia terpilih yang terbaik dari semua manusia utama dan utusan termulia. Namun tidak sedikit dari kita yang menyebutnya manusia biasa. Kita yakin beliau manusia yang paling berakhlak agung dan terpuji. Namun sebagian kita ada yang memandang beliau pernah memalingkan muka dan bermuka masam kepada seseorang yang mengharap cahayanya.

Kita umat Muslim yakin beliau adalah manusia perwira yang memuncaki semua keberanian manusia. Namun sebagian kita memandang beliau gemetaran dan ketakutan saat menerima wahyu pertama. Kita yakin beliau adalah puncak kecerdasan dan kebijaksanaan yang tak terkira. Namun dalam bayangan sebagian kita, beliau tidak segera paham saat Jibril memintanya membaca di Gua Hira. Bahkan beliau kemudian harus dihibur, dijelaskan dan diyakinkan oleh seorang pendeta, dari kerabat isteri tercinta.

Konsepsi kita umat Muslim tentang sosok Muhammad agaknya perlu kita periksa kembali, untuk menemukan kesesuaian yang bisa dimengerti.

Inilah Rabi’ul Awwal, bulan yang mengabadikan sejumlah peristiwa penting bagi perjalanan Islam dan cahaya Tuhan. Di awal bulan ini Nabi berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib. Tanggal 10 bulan ini beliau menikah dengan perempuan agung yang utama, Khadijah al-Kubra. Di bulan ini pula Kekasih Agung ini lahir dari rahim mulia Bunda Aminah yang terjaga.

Sekalipun ada catatan berbeda pada tanggal berapa di bulan ini beliau dilahirkan, namun keragaman versi itu mencatat Rabiul Awwal sebagai bulan kelahiran yang mulia. Juga sepakat bahwa kelahirannya adalah kabar gembira bagi manusia dan alam semesta semuanya.

Maka salam atasmu saat dilahirkan, wahai Kekasih Utama. Salaamun alayka yawma wulidta. Al-Quran mengisahkan Nabi Isa yang masih dalam buaian, yang mengucapkan salam atas kelahirannya, atas kematiannya, dan atas kebangkitan hidup kembali.Salamun alayya yawma wulidtu, wa yawmu amuutu, wa yawma ub`atsu hayyan.

Al-Quran juga mengucapkan salam atas kelahiran Yahya, juga kematian dan kebangkitan saat ia hidup kembali. Al-Quran mengucapkan selamat atas kelahiran pribadi-pribadi mulia, yang dicontohkan dengan sejumlah nama. Namun, jangan heran, sebagian kalangan Islam, ada yang tidak setuju memperingati mawlid Nabi SAW. Bahkan ada yang membid`ahkannya, hingga mengharamkannya. Alasannya karena Nabi Saw tidak mencontohkannya. Mereka membuat teori bahwa Islam adalah apa yang dicontohkan oleh Nabi, sedangkan yang tidak ada contohnya dari beliau, bukan.

Di kalangan umat Islam, masalah yang sebenarnya sepele ini tidak jarang menjadi polemik yang tidak kunjung habis. Bahkan bagi sebagian orang yang sikap beragamanya belum dewasa, hal seperti ini bisa mengganggu silaturahim di antara mereka. Apalagi kalangan yang merasa dirinya paling benar, akan mudah menyesatkan atau mengkafirkan orang-orang Islam lain yang tidak sepandangan dengan mereka.

Cinta kebenaran itu fitrah. Cinta kesucian itu hati nurani. Dan, sekalipun cinta bisa dijelaskan secara teoritis, namun tidak selalu membutuhkan dalil. Masak untuk mencintai Rasul saja harus dicontohkan oleh beliau sendiri. Ungkapan cinta bisa berbeda. Dan selagi eksrepsi dan tujuannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip, Islam mengakui dan membenarkannya.

Jika kita yang mengaku Muslim ini mengaku mencintai Nabi Saw, cintailah beliau melebihi ekspresi dan wujud cinta yang selama ini kita tunjukkan kepada yang lain-lainnya. Ketika kecintaan kita kepada yang lain saja tidak membutuhkan dalil, mengapa untuk mengekspresikan cinta kepada Manusia Mulia itu harus disibukkan dengan dalil dan contoh darinya segala.

Kualitas cinta seseorang memang berbeda-beda. Kedekatannya dengan yang dicintainya pun bisa beragam. Ikatan batin antara subjek yang mencintai dan objek yang dicintai pun tidak sama. Maka, mengharapkan sama untuk ekspresi cinta jelas tidak bisa. Karenanya, cintailah Nabi semampu kita. Dan jika baru di satu titik kita mampu melakukannya, maka jangan salahkan orang lain yang mengekspresikan cintanya lebih melampui.

Ini bulan kelahiran Nabi Agung, sosok yang menebarkan cinta dan kasih sayang, menyebarkan damai dan kelembutan. Inilah akhlak yang semestinay setiap Muslim teladani dari sosok peradaban yang penyantun dan pemaaf ini. Jika seorang Muslim mencintainya, maka tebarkan cinta dan kasih sayangnya sebagaimana yang beliau teladankan kepada sesama.

Wahai Rasul… Kami berbahagia dengan kelahiranmu. Kami merasa mulia mengenalmu. Kami merasa bermakna mencintaimu…

Tulisan ini ditujukan untuk para pembaca Muslim. Namun jika ada selain Muslim membacanya, semoga ini bisa menjadi media untuk saling mengenal dan menghargai.

Salam damai. Damai sesama agama. Damai sesama bangsa. Damai sesama manusia…

 

Baca Lainnya

Rustan Abubakar Al Iskandari
Rustan Abubakar Al Iskandari

OK siiip

1 Desember 2017 10:09 Balas