Senin, 12 Februari 2018 15:06

Apapun Agamanya, Manusia Hanya ada Dua "Spiritualis dan Materialis"

Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Penulis: Ust. Hb. Syarief Jafar Shodiq bin Yahya, Sufi Musafir.

Apapun agama dan keyakinannya, suku bangsa apapun juga. Ternyata manusia hanya ada dua kelompok saja.

Baca Juga : Semua Manusia Tertidur. Saat Mati, Mereka Terbangun

Pertama, kaum spiritualisme yang meyakini bahwa ada hidup dari Sang Maha Hidup bukan hanya di hidup ini, ada hidup setelah hidup. Maka mereka tak mau redup oleh kata tak sanggup, tak mau gugup oleh jalan yang ditutup. Kaum spritualis berusaha belajar hidup manis dengan mencintai sesiapa dan apa yang dicintai sang Maha cinta. Bagi mereka kebahagian sejati adalah saat sang Maha Pemberi memberikan kebahagiaan ketika mereka bisa membahagiakan selainnya. Kaum ini ada di kelompok sosialis, komunis dan malah sedikit dikalangan agamis .

Kedua, kaum materialisme berfikir bahwa hidup ini hanya sekali, tidak masuk rasional mereka bahwa ada kehidupan lain usai kehidupan ini. Maka, wajar mereka bergerak sporadis, homo homoni lupus, predatoris sejati, hukum rimba adalah niscaya sebab norma agama hanyalah dongeng belaka bagi mereka. Kaum materialisme dari zaman awal dunia tentu telah ada, saat ini motor penggeraknya adalah zionisme yang menggerakkan faham kapitalisme.

Baca Juga : Jangan Lupa Jadi Manusia

Apakah terjadi persaingan antara kaum materialisme dan spritualisme ?

Tidak. Sebab, mustahil kaum spritualis bergerak expansionis, mereka cenderung dijadikan objek mangsa yang empuk di kursi kelas level apapun duduk. Bohong besar, jika ada yang mengaku kaum spritualis tapi tercium bau bara api ambisi berkuasa. Sebab sejatinya kaum spritualis beragama cinta walau rasionalitas tidak dilepas.

Kaum materialisme bisa jadi mengaku memiliki Tuhan tapi hakekatnya mereka tidak mau untuk bersikap sebagai makhluk yang bertuhan. Bisa jadi mengaku memiliki sebuah agama, maka mereka tak mampu beragama. Sebab, demi hidup yang sebentar ini apapun caranya termasuk mengarang agama bisa mereka lakukan.

Sedangkan kaum spritualisme, bisa jadi menganut sebuah agama tapi merasa tidak kuasa tuk memiliki agama. Bisa jadi ia mengaku tidak memiliki Tuhan walau mereka mengatakan bahwa berTuhan adalah niscaya.

Bagaimana dengan fakta yang ada ? Betapa kita bingung melihat sejarah berdarah-darah atas nama agama bahkan atas nama Sang Maha Cinta ?

Mudah saja kita menebaknya. Jika kita lihat ada gerakan dari yang nampak religius tapi bergerak ambisius penuh tendensius dan nafsu berkuasa pun terendus dari dengus-dengus rakus.

Sesungguhnya, gerakan orang-orang yang atas nama religi tapi penuh benci ini hanyalah ketidaksadaran bahwa mereka jadi kuda tunggangan kaum materialisme. Kepalsuan itu terbaca karena dasar agama sejati adalah cinta.

Dan cinta itu bukanlah benda, ia adalah rasa yang susah didefinisikan dan hanya bisa dibaca lewat realita amal nyata.

Baca Lainnya