Jumat, 4 Mei 2018 14:40

Agama Intrinsik bukan Agama Ekstrinsik

Reporter : Jumadi Kusuma
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Limawaktu]

Penulis: Ashoff Murtadha, Direktur Studi Islam, Bandung

Ada orang yang menjadikan agamanya untuk menuntun kehidupannya agar baik, meraih kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Ia beragama dengan ikhlas untuk Tuhannya, atau dalam bahasa Al-Quran disebut mukhlishiina lahud diin.

Baca Juga : Catatan Harian Wartawan Kompas Saat Kunjungan Ke Republik Islam Iran

Ketika ia tahu ajaran agama, ia lebih memilih untuk memperbaiki dirinya, bukan untuk menasihati orang lain. Agama lebih ia jadikan untuk menasihati dirinya, bukan untuk menggurui orang lain apalagi menyerang mereka, apa pun alasannya.

Orang seperti ini jauh-jauh untuk mengusili orang lain dengan agama. Sekalipun ia terus belajar agama dan istiqamah menjalaninya, namun ia merasa malu dan tidak pantas menyebut dirinya saleh.

Baca Juga : Agama dalam Pandangan KH. Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

Bahkan, karena Islam agama yang sangat ideal dan agung, sementara ia belum pantas berada dalam keagungan, ia malu menyebut dirinya Muslim. Bukan karena ia tidak berislam, melainkan karena ia tidak mau mencemari keluhuran Islam dengan kenaifan dan kejahilan dirinya.

Ia menjadikan agama sebagai nasihat dan tuntunan bagi dirinya, bukan untuk orang lain. Karenanya ia tidak ikut berteriak-teriak atas nama Islam, sambil menyalahkan dan memaki sesama. Sebab, baginya, teriakan itu lebih pas ditujukan bagi dirinya, bukan bagi mereka.

Tetapi, ada juga orang yang menjadikan agamanya untuk menutupi keburukannya. Agama dijadikan alat dan dimanfaatkan sebagai kamuflase. Ia gunakan simbol-simbol keagamaan agar orang-orang menyebutnya saleh atau agamis. Agama diperlihatkan secara publik agar ia meraih keuntungan duniawi.

Ketika ia menyuarakan agama, atau meneriakkannya, sebenarnya ia tidak sedang menjalankan perintah agama. Ia hanya terdorong untuk mengambil manfaat bagi nafsunya. Ia suarakan agama dengan mengarahkan telunjuk dan kepalan tangan kepada orang, tetapi ia sendiri tidak peduli bagi dirinya.

Jika ia bertakbir atau bertasbih, ia tidak sedang mengagungkan atau mensucikan Tuhan, tetapi sedang memberitahu orang bahwa ia orang agamis. Ketika ia menjalankan agama secara publik, ia tidak sedang mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sedang mengabarkan kepada orang bahwa ia saleh. Ia tidak segan memperlihatkan simbol kesalehan, sekalipun perilakunya memalukan.

Orang ini tidak sungkan, bahkan bangga memanfaatkan agama dan isu-isunya untuk kepentingan dirinya --tentu saja dengan kamuflase keagamaan. Menjualbelikan ayat, membalik-balikkan makna ayat, atau menjahili maksud dan tujuan ayat, tidak berat ia lakukan. Karena ia sedang memanfaatkan agama, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, maupun nafsu birahi.

Di ujung sana, ia merasa dirinya saleh sambil menuduh orang lain salah, munafik, tidak Islami dan lainnya. Ia merasa diri suci, dan mudah tersinggung ketika "kesuciannya" terganggu. Baginya agama hanyalah sebuah simbol kemuliaan, yang bisa dijadikan kamuflase bagi keburukan dan ketakberadaban dirinya.

Di hadapan publik ia tampilkan diri seolah-olah agamis, baik, dan saleh, sambil memaki dan mencaci hal atau orang lain yang ia anggap salah. Padahal dalam kesendiriannya, saat orang-orang tidak melihat keburukannya, ia adalah aktivis kemaksiatan dan ketakberadaban.

Orang pertama disebut beragama secara intrinsik. Menjalani agama secara tulus dan ikhlas. Sedangkan yang kedua disebut beragama secara ekstrinsik. Menjadikan agama sebagai alat dan kamuflase. Dan kedua sikap dan perilaku ini ada di semua agama, dari dulu hingga akhir zaman.

Karenanya nasihat Ali bin Abi Thalib berikut ini sangat baik menjadi nasihat dalam keberagamaan. Ini bukan sekadar sebuah pengajaran, tetapi juga sindiran bahkan tamparan. Untuk siapa saja yang menjalani hidup sebagai manusia.

"Jangan kau maki Iblis dalam keramaian, tetapi kau berteman dengannya saat sendirian."

Baca Lainnya